Presiden Jokowi: Demokrasi kita sudah keterlaluan
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Jika hal ini terus dibiarkan, maka hal ini dapat menyebabkan perpecahan bangsa.
JAKARTA, Indonesia — Presiden Joko “Jokowi” Widodo menilai demokrasi di Indonesia saat ini sudah mulai berjalan keterlaluan. Akibatnya muncul berbagai paham yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.
“Banyak yang bertanya kepada saya apakah demokrasi kita terlalu bebas. Saya jawab iya, demokrasi kita sudah keterlaluan, kata Jokowi pada Rabu, 22 Februari 2017 saat acara pelantikan pengurus DPP Hanura di SICC, Sentul, Bogor.
Presiden Jokowi mengatakan, sangat bebasnya praktik demokrasi di Indonesia membuka peluang lahirnya berbagai aliran yang sebenarnya tidak sejalan dengan ideologi Pancasila, seperti liberalisme, radikalisme, fundamentalisme, dan sektarianisme.
Penyimpangan praktik demokrasi mulai terlihat nyata seperti yang kita lihat akhir-akhir ini, seperti politisasi SARA yang harus kita hindari, lanjut Presiden Jokowi.
Presiden Jokowi juga menyayangkan fitnah dan berita bohong yang tersebar luas di masyarakat. Ia pun menyoroti perilaku masyarakat yang kini gemar menghina dan memfitnah. “Kalau ini terus dibiarkan, bisa menimbulkan perpecahan bangsa,” kata Presiden Jokowi.
Dalam empat bulan terakhir, lanjut Presiden Jokowi, banyak pihak yang meragukan apakah Indonesia masih bersatu. “Dalam empat atau lima bulan terakhir ini banyak yang perlu kita perbaiki dan benahi, terutama konsep kebangsaan,” kata Jokowi.
Presiden Jokowi mengatakan Indonesia diberkati dengan keberagaman dan pluralisme. Keberagaman ini harus menjadi identitas dan simbol keharmonisan, bukan dijadikan alat untuk memecah belah.
“Kita harus menjaga ketat apa yang merupakan anugerah Tuhan sebagai bangsa yang majemuk dan majemuk,” ujarnya.
Presiden Jokowi tidak menyebutkan apa yang terjadi dalam empat atau lima bulan terakhir. Namun kita tahu, ada kasus dugaan penodaan agama yang diduga dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama.
Ahok dianggap menghina Surat Al Maidah ayat 51 saat berkunjung ke Kepulauan Seribu pada 27 September 2016, empat bulan lalu. Sejak saat itu, isu SARA membanjiri media. Situasi memanas karena Ahok juga ikut serta dalam bursa pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. —Rappler.com