• February 27, 2026
Rakyat Mandiri Listrik (Limar) adalah penerang di tengah kegelapan

Rakyat Mandiri Listrik (Limar) adalah penerang di tengah kegelapan

BANDUNG, Indonesia – Ujang Koswara bersiap meninggalkan kota saat bertemu Rappler pada Rabu, 25 Oktober di Kantor Komunitas Laskar Pelita di Jalan Kilimanjaro, Kota Bandung.

Di luar kantor, puluhan relawan menunggu pria berusia 49 tahun itu menemaninya ke Desa Girimukti, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat. Mereka ingin mengemban misi menerangi desa yang sudah puluhan tahun tanpa listrik di Indonesia merdeka.

Kondisi Desa Girimukti bisa dikatakan memprihatinkan. Terletak di provinsi terbesar di Indonesia, tak jauh dari ibu kota Jawa Barat, dan dekat dengan Waduk Saguling, pemasok listrik Jawa dan Bali, Girimukti bahkan belum tersentuh oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Ke sanalah tujuan Ujang dan kawan-kawan, dengan membawa seratus dus alat penerangan bernama Limar, kependekan dari Rakyat Mandiri Listrik. Mereka akan memasang Limar di 100 rumah warga yang tergolong miskin.

“Malam ini akan ada pesta untuk mereka yang mendambakan cahaya,” kata Ujang.

“Dengan cahaya yang saya lihat sendiri, setelah Limar dipasang, masih ada perempuan yang masih menenun hingga jam 11 malam. Pendapatan meningkat sebesar 40 persen.”

Limar diciptakan oleh Ujang pada tahun 2008 yang merupakan hasil kolaborasi antara idenya dengan keahlian seorang tukang reparasi elektronik yang digunakannya. Setelah melalui proses pembongkaran selama 6 bulan, akhirnya Limar berhasil tercipta dengan produksi perdana sebanyak 5.000 unit.

Limar lahir berkat kepedulian Ujang saat melihat rumah ibunya tidak ada listrik karena tinggal di pelosok Garut. Ibunya kerap menghadapi masalah akibat kondisi tersebut. Ujang membelikan seluruh peralatan pembangkit listrik, seperti panel surya dan mikrohidro, agar rumah ibunya bisa terang. Namun semua itu tidak berlangsung lama.

Hingga akhirnya Ujang menemukan cara penerangan sederhana yang kemudian disebut Limar.

“Ketika saya melihat ini (kotak Limar), saya merasa seperti melihat ibu saya. “Sekarang ibuku sudah meninggal,” kata Ujang dengan nada sedih.

Satu kotak Limar berisi satu set penerangan untuk satu rumah. Di setiap kotaknya terdapat lima buah lampu LED (Light-Emitting Diode) dan sebuah baterai yang dilengkapi lima tombol. Setiap lampu mempunyai daya terang sebesar 1 watt, namun setara dengan 10 watt cahaya. Energi listrik untuk menyalakan lampu berasal dari baterai yang mempunyai daya cukup untuk satu bulan.

Jika habis, biarkan saja baterainyamengenakan biaya selama tiga jam menggunakan genset yang dijalankan warga sekitar. Satu generator untuk satu kota. Penghuni bisa mengisi ulang baterainya dengan membayar Rp2.000 hingga Rp2.500.

Biaya yang dikeluarkan warga untuk menerangi rumahnya dengan Limar jauh lebih murah dibandingkan menggunakan lampu templok yang menggunakan minyak tanah sebagai bahan bakarnya.

Bayangkan saja, kalau pakai minyak tanah, satu liter habis dalam tiga hari, artinya Rp 5 ribu per hari karena harga satu liter minyak tanah Rp 15 ribu. Jadi dalam sebulan mereka harus mengeluarkan uang Rp 150 ribu. Pakai Limar, nge-mengenakan biaya “Tiga jam satu bulan hanya Rp 2.000 atau Rp 2.500,” kata mantan dosen Politeknik Swiss Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Ujang menjelaskan, Limar diperuntukkan bagi masyarakat yang terpinggirkan dan tidak bisa dijangkau oleh PLN. Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sebanyak 2.500 desa belum teraliri listrik. Di Jabar saja, kata Ujang, sekitar 1 juta masyarakat masih bergantung pada lampu lok candi.

“PLN bukannya tidak mau menyalurkan listrik ke desa-desa terpencil. “Namun memang ada kendala yang harus dihadapi,” ujar pria yang berstatus PNS ini.

Kendala tersebut antara lain, kata Ujang, mahalnya infrastruktur, tidak adanya sumber energi di daerah, dan juga perhitungan bisnis. Sebagai perusahaan, PLN harus untung. Jika kalah tentu akan menimbulkan pertanyaan dari Badan Pemeriksa Keuangan (OJK).

Terlebih lagi, beberapa proyek PLN di daerah terpencil tidak berkelanjutan. Pasalnya, masyarakat yang disasar sebagian besar adalah masyarakat miskin yang tidak mampu membayar listrik setiap bulannya.

“Baru sebulan listrik menyala, PLN kembali padam karena tidak mampu membayar listrik,” kata Ujang.

Permasalahan inilah yang sering ditemui Ujang di lapangan. Hingga akhirnya Ujang menciptakan Limar yang ditujukan untuk masyarakat yang tidak terjangkau oleh PLN.

Dengan biaya Rp1,2 juta per rumah, warga bisa mendapatkan penerangan yang memadai. Namun dengan bantuan dana Corporate Social Responsibility (CSR) hasil “penghancuran” Ujang ke berbagai perusahaan, termasuk PLN, warga marginal bisa mendapatkan Limar gratis.

Penghuni juga bisa mendapatkan penerangan lebih cepat karena pemasangan Limar hanya membutuhkan waktu beberapa jam.

Dari segi teknologi, jelas Ujang, Limar sangat sederhana. Sederhananya, seseorang dapat dengan mudah menjiplaknya. Namun dibalik kesederhanaannya terdapat ide dan konsep yang mahal.

“Sebenarnya kalau dilihat dari barangnya memang benar tidak ada yang salah. Tapi Limar punya substansi. Semangatnya adalah aktivasi kemanusiaannya. Jangan lihat perangkatnya, tidak apa-apa. Namun dalam satu kotak Limar terdapat nilai-nilai gotong royong, bela negara, kesetaraan, kebanggaan dan pergerakan ekonomi, kata Ujang.

Nilai gotong royong, jelas Ujang, karena dalam praktiknya Limar melibatkan banyak pihak. Ada lulusan sekolah dan lulusan SMK yang memproduksi Limar, relawan yang membantu pemasangan Limar, aparat TNI yang datang membantu demi pengabdian kepada masyarakat, dan pihak swasta yang memberikan dana CSR.

Warga yang menjadi sasaran juga bisa merasakan kesetaraan ketika rumahnya terang seperti rumah di perkotaan. Anak-anak sekolah dapat belajar dengan baik dan kegiatan perekonomian berjalan maksimal.

“Dengan cahaya yang saya lihat sendiri, setelah Limar dipasang, masih ada perempuan yang masih menenun hingga jam 11 malam. Pendapatan meningkat sebesar 40 persen. Ekonomi bergerak, pendidikan bergerak, kesehatan pasti sehat. “Hanya karena sudah jelas,” kata Ujang.

Sejak didirikan pada tahun 2008, Limar telah memberikan penerangan kepada 260 ribu rumah di berbagai pelosok tanah air dari Sabang hingga Merauke. Di daerah yang dikunjunginya, Ujang tidak hanya mewariskan Limar sebagai produknya, namun juga Limar sebagai sebuah keahlian. Ujang mengajari penduduk setempat cara merakit dan memproduksi limar.

“Generasi muda sudah bekerja. Jadi di setiap daerah ada pusat tengah produksi. Dan mereka memproduksi barangnya sendiri. saya ikut kontrol kualitas karena komponennya harus benar,” kata pengusaha di bidang manufaktur ini.

Ujang mengaku tak mendapat untung sepeser pun dari penjualan Limar. Segala keuntungan diserahkan sepenuhnya kepada pencipta Limar yang merupakan murid-muridnya. Sebagian besar siswa berasal dari kelompok marginal, seperti narapidana, lulusan SMK yang menganggur, dan anak-anak putus sekolah.

Bagi Ujang, bukan kekayaan yang dicari, melainkan kebahagiaan. Ujang hanya berharap dedikasinya untuk mencerahkan negeri ini akan menjadikannya sosok yang berguna bagi orang lain.

“Yang jelas targetnya hanya satu, aku ingin ibuku tidak merasa kasihan karena telah melahirkanku,” ucap Ujang lirih. —Rappler.com

SGP Prize