• April 7, 2026

Rodrigo Duterte untuk sementara unggul dalam penghitungan cepat pemilu Filipina

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan sebelum pemilu, Rodrigo Duterte diunggulkan menjadi presiden Filipina berikutnya.

JAKARTA, Indonesia – Walikota Davao City Rodrigo Duterte memimpin penghitungan suara sementara dalam pemilihan umum Filipina. Berdasarkan hasil hitung cepat yang dilakukan Rappler, pria berusia 71 tahun itu memperoleh 14.951.034 suara.

Angka tersebut diperoleh berdasarkan 88,57 persen sampel pemungutan suara yang diterima pada pukul 05.39 waktu Manila. Sedangkan selisih perolehan suara calon lainnya cukup besar. Di posisi kedua ada calon yang didukung Presiden petahana Benigno Aquino III yakni Manuel Roxas II dengan perolehan 8.982.664 suara.

Kandidat yang diunggulkan setelah Duterte, Mary Grace Natividad Poe-Illamanzares menempati posisi ketiga dengan 8.398.864 suara sementara.

Lantas apa komentar Duterte soal hasil quick count yang menguntungkannya? Kepada Rappler yang mewawancarainya pada Senin malam, 9 Mei pukul 19.45, Duterte masih belum yakin akan memenangkan pemilu di Filipina.

“Sampai penghitungan suara terakhir, saya belum bisa mengatakan saya (menang) pada saat itu. “Hasil akhir pemilu presiden belum ada di tangan saya, jadi saya hanya bisa diam untuk saat ini,” kata Duterte.

(Terus pantau cepatnya hasil pemilu Filipina Di Sini)

Sementara itu, hasil penghitungan resmi baru akan dirilis pada tanggal 8 Juni oleh Komisi Pemilihan Umum Filipina (COMELEC).

Jika Duterte benar-benar memenangkan pemilu, maka hal ini sudah bisa diduga. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Standard Poll, ia berhasil memperoleh 32,4 persen suara warga.

Duterte difavoritkan untuk berhasil mengubah kota Davao, yang memiliki rekor kejahatan tertinggi di negara kepulauan tersebut, menjadi kota teraman di Filipina. Namun, kelompok hak asasi manusia menuduh Duterte rutin melakukan pelanggaran hak asasi manusia saat menangkap penjahat.

Sementara itu, anggota parlemen Grace Poe mengakui keunggulan Duterte dan mengatakan dia ingin menyampaikan “agenda pemilu”. Duterte mengaku memang menelepon Poe saat sedang makan malam.

Mengenai “agenda pemilu” yang diajukan Poe, Duterte menyatakan akan mempelajarinya terlebih dahulu.

“Karena kamu telah memilih untuk menjabat tanganku, aku dengan rendah hati menerimanya. Saya bisa bekerja sama dengan Anda. “Salah satu agenda yang Anda sampaikan adalah reformasi pemilu, jadi saya akan mendukungnya,” kata Duterte saat diwawancara stasiun televisi ABS-CBN.

Sementara calon dari Partai Liberal, Maria Leonor Robredo, menempati posisi pertama hasil hitung cepat Pilpres. Ia berhasil meraih 13.076.453 suara.

Robredo bersaing ketat dengan politisi sekaligus putra mantan presiden Ferdinand E. Marcos, yakni Ferdinand Romualdez Marcos Jr. Pria yang akrab disapa Bongbong Marcos itu memperoleh 13.013.544 suara.

Sesuai dengan sistem pemilu di Filipina, calon wakil presiden yang maju dalam partai demokrasi ini tidak selalu bersama calon presiden. Jadi, pemilihan wakil presiden melalui sistem penghitungan tersendiri.

Makna Pemilu Filipina Bagi Indonesia

Menurut pengamat hubungan internasional dari Pusat Studi ASEAN Universitas Indonesia, Makmur Keliat, pemilu di Filipina bisa menentukan stabilitas di kawasan Asia Tenggara. Siapa yang akan menjadi presiden Filipina 6 tahun ke depan, kata dia, akan menentukan pendekatan yang digunakan dalam menghadapi China dalam menyelesaikan konflik Laut China Selatan.

(Baca fokus permasalahan yang akan ditangani Rodrigo Duterte jika terpilih sebagai presiden di sini)

“Jika benar Duterte memenangkan pemilu, maka dia mempunyai platform untuk meningkatkan hubungan dengan Tiongkok. “Ada kemungkinan ketegangan dengan China meningkat,” kata Makmur yang dihubungi Rappler, Senin malam, 9 Mei.

Makmur menilai Duterte selama ini belum mengambil sikap bermusuhan terhadap Negeri Tirai Bambu. Bahkan, bersedia berdamai.

“Ini merupakan perkembangan yang baik untuk stabilitas regional. “Namun hal ini tidak akan menyelesaikan fakta bahwa Filipina telah mengajukan permasalahan sengketa di LCS ke Mahkamah Internasional di Den Haag,” kata Makmur.

Memang sulit memperbaiki hubungan dengan Tiongkok. Mengingat warisan kepemimpinan Aquino III selama 6 tahun, hal ini jelas mencerminkan sikap permusuhan.

Namun Filipina akan lebih realistis dalam membangun hubungan berbasis ekonomi dengan Tiongkok, ujarnya.

Lantas, apakah Duterte bisa menjadi harapan untuk menyelesaikan konflik di Filipina selatan? Makmur juga punya penilaian serupa. Duterte mempunyai pengalaman panjang sebagai Wali Kota Davao City, sehingga bisa mewakili kepentingan publik di daerah tersebut.

Sementara jika dikaitkan dengan pengurangan perompakan di perairan selatan Filipina, tinggal menunggu implementasi perjanjian di Yogyakarta kemarin, ujarnya.

Makmur yakin Duterte bisa memberikan identitas baru kepada Filipina, apalagi oligarki di negara kepulauan ini sangat kuat.

“Jika dia terpilih sebagai presiden, ASEAN juga akan menghormatinya. “Karena nilai-nilai ASEAN yang selama ini dianut adalah selalu menghormati proses politik di negara-negara anggotanya,” kata Makmur. – dengan pelaporan oleh Santi Dewi/Rappler.com

BACA JUGA:

Hongkong Pools