• March 1, 2026
Rojit dan perjuangan para pedagang perempuan yang terusir dari tanahnya sendiri

Rojit dan perjuangan para pedagang perempuan yang terusir dari tanahnya sendiri

JAKARTA, Indonesia—Berapa banyak orang di luar Papua yang mengenal nama Robert Jitmau atau Rojit? Namanya mungkin tidak sepopuler Gubernur Papua Lukas Enembe, atau mantan tahanan politik Filep Karma, namun para pedagang etnis Papua di Papua dan Papua Barat mengenalnya.

Tidak mengherankan jika pada Jumat sore, 20 Mei 2016ratusan pedagang asli Papua yang biasa disapa Mama-mama Papua memenuhi kamar jenazah di RS Bhayangkara, Jayapura.

Pasalnya di sana tergeletak jenazah Rojit, aktivis yang dikenal aktif mengadvokasi ibu-ibu Papua untuk mendapatkan lahan pasar sendiri di jantung Kota Jayapura.

Cintya Warwe, rekan Rojit di komunitas, mengatakan kepada Rappler, Senin 23 Mei, perjuangan pria asli Papua itu dimulai pada tahun 2002 atau 14 tahun lalu.

Aksi Rojit ini awalnya belum terlembaga, hingga pada tahun 2009 berdirilah Solidaritas Pedagang Asli Papua (Solpap). Rojit memperjuangkan perlunya pasar khusus untuk menampung 500 pedagang asli Papua di Kota Jayapura.

Ia kemudian memimpin demonstrasi menuntut pemerintah daerah dan pusat segera mendirikan pasar bagi para pedagang pribumi tersebut.

Pendeta Dora yang juga rekan Rojit menuturkan, dirinya tidak hanya memimpin aksi, namun setiap hari aktivis Mama Pasar tersebut mengawasi dan memperhatikan masyarakatnya.

Menurut Dora, Rojit pernah mengutarakan keinginannya agar para pedagang Papua mempunyai lapak sendiri di pusat kota, layaknya pedagang dari luar Papua.

Selama ini mereka selalu terdampar dan diusir jika berjualan di pusat kota.

Budi Hernawan, mantan sutradara Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Jayapura (periode 2005-2009) yang juga rekan Rojit menulis soal penggusuran ini di Tabloid Jubi.

“Ibu-ibu tersebut beberapa kali diusir oleh Satpol PP bahkan disiram air saat upaya penggusuran. “Mamas juga berulang kali melakukan protes ke DPRD Kota Jayapura, Pemkot Jayapura, Kantor Gubernur Papua dan DPR Papua serta Majelis Rakyat Papua,” dia menulis.

“Hasilnya adalah janji demi janji. Namun perjuangan perempuan pasar justru semakin kuat dan berkembang menjadi Solidaritas Pedagang Asli Papua (Solpap) yang melibatkan beberapa pihak di Jayapura.

“Selain itu, gerakan perempuan pasar di Jayapura menginspirasi perempuan pasar di wilayah lain di Papua untuk mulai mengorganisir diri dan memperjuangkan hak-haknya. “Gerakan ini bukan lagi gerakan mama market di Kota Jayapura, melainkan simbol perlawanan masyarakat Papua terhadap penindasan modal dan kekuasaan negara.”

Cintya menambahkan kepada Pendeta Dora, pedagang pribumi selalu diberhentikan karena ada peraturan dari Pemerintah Provinsi mengenai lokasi pasar tradisional yang tidak memperbolehkan mereka berjualan di pusat kota.

Dengan berlakunya Otonomi Khusus sejak tahun 2001, wacana perlindungan pedagang pribumi harus dilakukan di tengah dominasi pedagang pendatang.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Rojit dan pedagang asli Papua melakukan protes di kantor gubernur pada 14 September 2009. Padahal pemerintah provinsi tidak pernah memperhatikannya.

Barulah Barnabas Suebu menjadi Gubernur Papua periode 2006-2011, akhirnya Pemprov berjanji akan membangun pasar di lokasi Perum Damri.

Rojit dan Mama Papua kemudian yakin Suebu akan menepati janjinya. Meski akhirnya Pemprov baru mampu merealisasikannya pada tahun ini.

Sejarah status negara Pasar Mama

Apa alasannya? Status tanah di Perum Damri. Pasar tersebut akan dibangun di atas tanah milik Damri di pusat Kota Jayapura dengan luas total 4.490 meter persegi.

Tempat dibangunnya pasar tersebut merupakan hak ulayat suku Fingkreu dan Sanyi. Namun hak itu dialihkan ke Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS). Sementara Perum Damri juga harus berkoordinasi dengan kantor pusat di Jakarta apakah lahan tersebut bisa dijadikan pasar Mama Papua.

Untuk itu, seluruh pihak terkait lokasi tanah ini, hak ulayat, KKSS, Perum Damri, Dinas Penerangan Masyarakat (DPU), Dewan Perwakilan Rakyat Papua, Biro Keuangan dan Solpap bertemu.

Dalam kesempatan ini dibahas persoalan status tanah. Pertama, pemilik tanah adat harus memastikan penyerahan tanah kepada KKS. Kedua, Perum Damri harus memastikan lahannya siap dipindahkan ke lokasi lain bekerja sama dengan kantor pusat Jakarta.

Sementara Kementerian Pekerjaan Umum harus menjelaskan dana yang diyakini sudah ada dalam dokumen pelaksanaan anggarannya.

KKSS juga harus menjelaskan kesiapan lahan yang akan diserahkan kepada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Papua. Baca lebih lanjut di sini.

Aksi Rojit dan para pedagang ini kemudian menarik perhatian Presiden Joko “Jokowi” Widodo pada akhir tahun 2014. Rojit kemudian menjadi salah satu perwakilan yang bertemu dengan sejumlah pihak dari DPR RI dan Kementerian BUMN hingga proses pelepasan lahan untuk pengembangan pasar.

Akhirnya perjuangan Rojit mulai menemui titik terang. Hal itu diwujudkan dengan peletakan batu pertama pembangunan Pasar Mama Papua di Jalan Percetakan oleh Presiden Jokowi pada 30 April 2016.

Namun sebelum Rojit sempat melihat pasar dibuka, kematian telah menyusulnya.

Kematian yang tidak biasa

Di dalam dibebaskan oleh Polres JayapuraRojit tewas karena ditabrak orang tak dikenal dengan mobil di Jalan Ring Road, Kelurahan Hamadi, Kota Jayapura sekitar pukul 05.00 WIB.

Saat itu, Rojit sedang berbincang dengan dua temannya bernama Melianus Diwitouw (22) dan Nehemia Yarinap (32).

Tiba-tiba sebuah mobil sedan berwarna putih menabrak Rojit dan temannya Melianus yang sedang duduk di pinggir jalan.

Nehemia selamat dari kejadian ini. Rojit tewas seketika. Sementara Melianus mengalami luka serius di bagian tangannya. Saat ini Melianus masih mendapat perawatan medis di RS Dian Harapan.

Setelah jenazah Rojit dimandikan dan dimasukkan ke dalam peti mati, ia dibawa ratusan orang ke lokasi sementara pasar Mama Papua di Kabupaten Jayapura Utara untuk mendapat penghormatan terakhir dari seluruh pedagang.

Ia diiringi teriakan ratusan pedagang asli Papua. Termasuk generasi muda Papua yang bersekolah di Belanda, Ligya Judith Giay atau Gia.

Gia yang kuliah di Universitas Leiden menulis surat kepada masyarakat Papua, surat itu kemudian dikirimkan ke Rappler.

(BACA: Selamat tinggal lagi kepada pemimpin Papua lainnya)

Ia menduga kematian Rojit bukanlah kematian biasa mengingat ia memperjuangkan hak ekonomi masyarakat Papua, khususnya perempuan.

Gia menulis, kematian Rojit jelas mengagetkan dan patut diwaspadai masyarakat Papua kenapa ada yang seenaknya memukuli Rojit dan temannya yang sedang ngobrol.

Peristiwa kematian mendadak ini tidak terjadi satu kali pun. “Ini bukan kali pertama Papua kehilangan pemimpinnya karena kecelakaan. “Saya yakin dia (Rojit) bukan yang terakhir,” kata Gia.

Oleh karena itu, ia tidak heran jika masyarakat Papua menduga pemimpinnya meninggal bukan karena kecelakaan biasa, melainkan selalu ada motif politik di baliknya. Sama dengan meninggalnya pemimpin mereka lainnya Arnold Ap, Theys Eluay dan Mako Tabuni.

Berikut sejarah ketiga tokoh lainnya:

  • Arnold Ap adalah seorang humanis, antropolog dan musisi asal Papua Barat. Ia kerap memperkenalkan budaya Papua dalam acara radio mingguan yang ia bawakan sekaligus kurator Museum Cendrawasih. Pada November 1983, ia ditangkap oleh pasukan khusus militer Indonesia (Kopassus) dan dipenjarakan serta disiksa karena dicurigai sebagai simpatisan Organisasi Papua Merdeka. Pada bulan April 1984 dia meninggal karena luka tembak di punggungnya.
  • Theys Hiyo Eluay merupakan mantan Ketua Presidium Dewan Papua (PDP) yang dibentuk oleh mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid sebagai wujud status otonomi khusus yang diberikan kepada provinsi Papua. Pada 10 November 2001, Theys diculik dan kemudian ditemukan terbunuh di dalam mobilnya di sekitar Jayapura. Berdasarkan pemeriksaan Jenderal I Made Mangku Pastika yang juga memimpin penyidikan bom Bali tahun 2002, ternyata pembunuhan tersebut dilakukan oleh anggota Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
  • Mako Tabuni adalah seorang aktivis Papua dan wakil ketua Komite Nasional Papua Barat (KNPB), sebuah organisasi massa yang mengkampanyekan kemerdekaan wilayah Papua Barat.Pada tanggal 14 Juni 2012, Mako tertembak saat operasi penangkapan oleh Polda Papua di Komplek Perumahan Waena Jayapura. Penembakan Mako menimbulkan kerusuhan dan kekerasan besar-besaran di Jayapura. Aktivis pro-kemerdekaan Papua menyatakan bahwa Tabuni sengaja ditembak oleh polisi, dan merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Mako dikabarkan masih hidup saat dirujuk ke RS Bhayangkara Jayapura dan meninggal karena mengeluarkan darah akibat luka tembak yang dideritanya.

Melihat daftar kematian ini, Gia bertanya-tanya, “Ekspresi apa yang bisa menggambarkan kematian tidak wajar para pemimpin ini?” kata Gia.

Ketidakpercayaan terhadap kematian yang sah diperburuk dengan kejadian sebelum kematian Rojit.

Sebelumnya, aktivis Papua Barat Steven Itlay ditahan karena memimpin doa massal di acara perayaan bergabungnya ULMWP ke MSG (Melanesian Spearhead Group).

Setelah itu Rojit meninggal. Semua insiden ini terjadi antara 11 dan 20 Mei.

Gia menggarisbawahi, masyarakat Papua tidak bisa melupakan begitu saja kematian Rojit karena kerja kerasnya membela Mama Papua rumit dan berbahaya. “Dia akan dikenang,” kata Gia.

Lebih lanjut, bukan hanya sekedar kenangan, namun Gia memastikan kejadian tersebut tidak akan berlalu begitu saja.

Sebab, seperti kasus sebelumnya, soal meninggalnya Rojit harus dijawab oleh pihak berwajib, sehingga tidak boleh dibiarkan begitu saja seperti kasus sebelumnya.

Mungkinkah kasus meninggalnya Rojit dikuburkan seperti kasus tokoh Papua lainnya? Dan apakah pasar Mama Papua akan stagnan setelah Rojit meninggal?—Rappler.com

Keluaran HK Hari Ini