Rute panjang dan filosofi di baliknya
keren989
- 0
MALANG, Indonesia – Ketupat atau kupat hampir selalu menjadi menu utama saat hari raya Idul Fitri. Nasi yang dimasak dengan untaian daun kelapa disantap sebagai pengganti nasi dengan lauk pauk yang menggugah selera seperti telur petis, opor ayam, sayur atau srundeng dan lain-lain.
Namun tahukah anda bahwa dibalik nikmatnya kupat terdapat pesan moral yang sangat mulia yaitu kita harus selalu memaafkan dan mengakui kesalahan. Selain itu kupat rupanya memiliki jalur yang panjang.
Kupatay sejak abad ke-9 Masehi
Jejak kupat di nusantara tersebar di sejumlah naskah kuno kerajaan masa lalu. Naskah tertua yang menyebutkan ketupat terdapat dalam Kakawin Ramayana yang ditulis pada masa Raja Balitung, era Kerajaan Mataram.
“Naskah ini merupakan naskah tertua yang memuat nama ketupat. “Dalam kakawin, ketupat disebut Kupatay, letaknya sejajar dengan nama makanan lainnya,” kata arkeolog asal Malang Mudzakir Dwi Cahyono, Jumat, 23 Juni 2017.
Selanjutnya, Kupat ditemukan muncul di sejumlah naskah muda dari berbagai kerajaan. Seperti di Kakawin Kresnayana pada masa Kerajaan Kadiri pada abad ke-12, kemudian pada Kakawin Subadra Wiwaha dan Kidung Sri Tanjung pada masa Kerajaan Majapahit pada abad ke-14 hingga ke-15 Masehi.
Berbeda dengan penyebutan kupat pada kakawin Ramayana, nama kupat pada kakawin selanjutnya ditulis sama dengan penyebutan saat ini, yaitu Kupat. “Nama tertulisnya kemudian berubah menjadi Kupat, begitu pula dengan nama Kupat yang sekarang. “Kupat ditemukan pada masa Hindu-Buddha,” ujarnya.
Dari temuan kakawin dapat ditelusuri bahwa kupat terjadi pada masyarakat agraris dengan pangan yang berasal dari beras sebagai produk pertanian.
Padahal menurut temuan di masyarakat, tidak semua kupat dibungkus dengan daun kelapa. “Di daerah pedalaman sering menggunakan daun kelapa, namun di daerah pesisir misalnya juga ditemukan kupat dengan bungkus daun lontar,” ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, menurutnya makanan seringkali mengalami perubahan makna mengikuti konteks yang terjadi di masyarakat. Ada makanan yang dulunya hanya bisa dinikmati oleh kalangan bangsawan atau pada ritual tertentu, namun kini bisa disantap kapan saja dan oleh siapa saja.
“Ketupat juga mengalami pergeseran, dari yang awalnya hanya sekedar kuliner biasa, kemudian berubah menjadi kuliner khas yang selalu dirindukan setiap hari raya Idul Fitri atau Idul Fitri,” ujarnya.
Akui kesalahan dan maafkan
Kupat diyakini mulai mengalami pergeseran makna sejak berakhirnya Kerajaan Majapahit, pada tahun 1600-an. Masuknya ajaran Islam pada masa itu berlangsung secara damai, dengan bantuan berbagai adat dan tradisi yang tumbuh di masyarakat.
Konteks Kupat mulai mengalami pergeseran fungsi saat ini seiring dengan kebutuhan penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga. “Saat itu Sunan Kalijaga memilih memadukan (Islam) dengan apa yang dimaknai masyarakat. “Seperti melalui gamelan, wayang dan juga ketupat,” kata Dwi Cahyono, pemilik Museum Malang Tempo Doloe.
Menurut dia, jejak-jejak tersebut ditemukan dari tradisi-tradisi yang tersebar secara lisan dan diwariskan secara turun-temurun. Menurutnya, kata Kupat juga muncul di sejumlah lagu Sunan Kalijaga.
Saat itu penyebaran Islam di Pulau Jawa memerlukan simbol dan ritual untuk menyebarkan risalah agar dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. Kupat kemudian menjadi simbol pesan maaf dan pengakuan kesalahan setelah berpuasa di bulan Ramadhan.
“Kupat berasal dari kata salah dikenali¸berarti mengakui kesalahan. “Terbuat dari daun kelapa yang dirangkai, dikosongkan, lalu diisi nasi, dimasak dan diberikan oleh yang lebih muda kepada yang lebih tua,” kata pemilik salah satu rumah makan masakan khas Malang di Malang ini.
Semua simbol memiliki pesan yang berbeda. Daunnya disusun berbentuk persegi panjang dan harus diisi kosong, melambangkan hati yang harus kosong dengan memaafkan kesalahan orang lain. Anak yang memberikan ketupat kepada orang tuanya berarti ia berani mengakui kesalahannya dengan memberikan ketupat tersebut secara langsung.
Sedangkan daun kelapa memiliki banyak makna, antara lain sebagai simbol kelahiran kembali, kelanjutan keturunan, dan penerus nilai-nilai kepada generasi berikutnya.
“Dulu anak-anak harus membuat ketupat sambil mendengarkan nasehat yang diulang-ulang. “Harus memaafkan segala kesalahan dan berani mengakui kesalahan sendiri,” lanjutnya.
Sedangkan bentuk persegi panjang yang banyak dijumpai di Pulau Jawa berasal dari kepercayaan masyarakat Jawa tentang saudara tak kasat mata di empat penjuru mata angin.
Konteks inilah yang kemudian menjadikan kupat atau ketupat di Indonesia memiliki fungsi yang berbeda dengan kuliner serupa yang terdapat di negara tetangga sekitar Indonesia, seperti di Malaysia, Thailand, atau Singapura.
“Di Singapura ada kupat, tapi itu makanan khas. Disebut makanan khas yang diproduksi setiap hari. Berbeda dengan di sini. “Kupat disantap pada hari Idul Fitri atau pada waktu yang bersamaan, atau seminggu setelah Idul Fitri,” lanjutnya.
Namun saat ini, menurutnya, perayaan Kupat sudah tidak sesakral dulu. Ketersediaan daun kelapa yang tidak melimpah seperti dulu membuat banyak orang memilih memasak kupat dengan plastik. “Mungkin lebih efisien. Namun maknanya hilang. “Pesan yang ada sebelumnya sudah tidak lagi dipertahankan dan disampaikan,” kata Ketua Badan Promosi Pariwisata Jawa Timur ini pada tahun 2015.
Menurutnya, untuk menjaga tradisi, pemerintah harus terlibat dan mendorong upaya nyata. “Misalnya di Bali, kebutuhan utama Janur adalah sarana ibadah. “Pemerintah juga mendorong hal ini dengan mengeluarkan peraturan yang berdampak pada kelestarian dan pasokan daun kelapa,” imbuhnya. —Rappler.com