Ryamizard mengundang Dubes AS untuk berbicara terlebih dahulu mengenai terbitnya dokumen G30S
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Ryamizard akan berhati-hati agar tidak terlihat menuduh Amerika Serikat
JAKARTA, Indonesia – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengaku akan bertanya kepada Menteri Pertahanan Jim Mattis tentang kebenaran dokumen rahasia Amerika Serikat yang memuat tragedi 30 September 1965. Pertemuan tersebut rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 25 di Manila, Filipina. Oktober.
Selain Mattis, pertemuan tersebut juga dihadiri oleh menteri pertahanan negara-negara Asia Tenggara lainnya dan mitra seperti Australia, Korea Selatan, dan Rusia. Mereka akan membahas masalah keamanan lokal dan internasional seperti situasi di Marawi, Laut Cina Selatan, dan Semenanjung Korea.
“Ya pasti saya akan tanyakan apakah saya ke Amerika atau bertemu dengan Menteri Pertahanan Amerika atau nanti saya akan menelepon duta besar untuk membicarakan apa yang sebenarnya terjadi,” kata Ryamizard yang ditemui di Bina Graha, Kamis sore, Oktober. 19.
Ryamizard berjanji tidak hanya akan menahan puluhan ribu dokumen setelah dipublikasikan ke publik. Namun, dia juga akan berhati-hati agar tidak menyalahkan negara Paman Sam.
Sebelumnya, mantan Kepala Staf TNI AD ini mengaku masih berusia muda saat kejadian tersebut terjadi. Ia juga tidak mengerti mengapa dokumen yang diduga rahasia itu bisa sampai ke tangan pemerintah AS.
“Entahlah, aku masih kecil. Besok di Filipina saya akan bertemu dengannya (Menteri Pertahanan AS). Saya akan menanyakan hal itu. Itu dia TIDAK “Tahukah Anda, mungkin waktu itu dia masih kecil,” ujarnya di Gedung DPR, Rabu pekan lalu.
Ryamizard meyakini terbitnya dokumen ini tidak akan memperburuk situasi politik di Indonesia. Apalagi, pengungkapan siapa aktor di balik peristiwa 1965 itu masih menjadi perdebatan.
“Apakah itu memperburuk keadaan atau tidak, itu terserah kita. Kalau kita tidak mau, ya TIDAK Ayo TIDAK jangan khawatir Kadang-kadang kita mengada-ada,” ujarnya.
Sementara itu, Departemen Luar Negeri akan memverifikasi kebenaran dan keakuratan lusinan dokumen yang diterbitkan oleh lembaga nirlaba National Security Archive (NSA), National Declassification Center (NDC) dan lembaga negara National Archives and Records Administration (NARA) di situs webnya. . nsarchive.gwu.edu pada hari Selasa, 17 Oktober. Dokumen yang diterbitkan berupa catatan harian pada tahun 1964-1968. Tulisannya tentang upaya militer untuk menyingkirkan Sukarno dan menghancurkan gerakan kiri di Indonesia, keterlibatan pejabat Amerika dalam mendukung upaya militer, dan eksekusi pemimpin PKI.
NSA mengatakan dokumen-dokumen itu dirilis setelah dideklasifikasi. Selain itu, rasa ingin tahu masyarakat yang besar terhadap peristiwa yang terjadi pada periode tersebut.
Sementara itu, permintaan bantuan militer kepada Amerika terungkap dalam laporan tanggal 23 Oktober 1965. Penasihat politik Panglima Militer AS untuk Asia-Pasifik (CINCPAC) Norman Hanna meminta Duta Besar Marsekal Negeri Paman Sam dan CINCPAC menyikapi kemungkinan militer Indonesia akan meminta bantuan untuk mengalahkan Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk mengalahkan Partai Komunis Indonesia (PKI). bertarung.
Hannah berspekulasi, permintaan itu bisa menyangkut apa saja, termasuk transportasi, uang, alat komunikasi, bahkan senjata. Duta Besar Green kemudian menanggapinya dengan meminta pemerintahan Presiden Johnson untuk menjajaki kemungkinan memberikan bantuan jangka pendek secara rahasia dan tanpa mengaitkan dukungan AS kepada militer. Bantuan yang diberikan berupa uang, alat komunikasi, dan senjata. (BACA: Dokumen Rahasia AS Ungkap ‘Pembantaian’ Pasca G30S)
“Yang harus kita lakukan sebelum mengambil keputusan adalah memeriksa keakuratan dan kebenaran laporan tersebut,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir dalam konferensi pers, Rabu, 18 Oktober.
Ia mengatakan verifikasi diperlukan karena dokumen tersebut memuat laporan Duta Besar AS dan Konjen AS di Indonesia saat itu. Perwakilan diplomatik AS di Indonesia menyampaikan laporannya ke Washington melalui kabel diplomatik berdasarkan persepsi, informasi, dan akses yang mereka miliki pada periode 1964-1968. – Rappler.com