• April 5, 2025
Saat datang ke Kementerian Luar Negeri, pihak keluarga menuntut pembebasan awak kapal kelompok Abu Sayyaf tersebut

Saat datang ke Kementerian Luar Negeri, pihak keluarga menuntut pembebasan awak kapal kelompok Abu Sayyaf tersebut

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Pihak keluarga mengaku khawatir karena mendapat ancaman dari kelompok Abu Sayyaf yang menyatakan akan mengeksekusi awak kapal TB Charles jika uang tebusan tidak dipenuhi.

JAKARTA, Indonesia – Kementerian Luar Negeri mempertemukan sejumlah keluarga awak kapal Charles 001 dengan 2 orang eks sandera milisi Abu Sayyaf pada Senin, 1 Agustus. Kedua mantan sandera tersebut bekerja di kapal tunda Brahma 12 dan kapal tongkang Anand 12.

Pertemuan ini diharapkan dapat memberikan penjelasan mengenai kondisi terkini anggota keluarganya dan apa yang harus mereka lakukan dalam situasi menunggu upaya pembebasan terwujud.

Anggota keluarga tiba di kantor Kementerian Luar Negeri sekitar pukul 10.00 dan didampingi Direktur Perlindungan Sipil Indonesia (PWNI) Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal. Dua anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Charles Honoris dan Irine Yusiana Riba Putri mendampingi anggota keluarganya yang berasal dari Samarinda, Kalimantan Timur.

Sebanyak 5 orang mewakili 10 awak kapal yang saat ini masih disandera Abu Sayyaf. “Mereka meminta informasi mengenai perkembangan upaya pemerintah membebaskan para sandera,” kata Iqbal.

Minta uang tebusan Rp 69 miliar

Pertemuan ini telah dimulai Dian Megawati Ahmad, istri seorang awak kapal bernama Ismail. Kepada Rappler, Ketua Pusat Gerakan Pelaut Indonesia (PPI) Andri Sanusi mengatakan ada pesan yang berisi ancaman.

“Keluarga korban penyanderaan mendapat teror melalui SMS yang menyatakan bahwa para sandera meminta uang tebusan segera. “Kalau tidak, para pelaut akan dieksekusi satu per satu,” katanya. Dian yang juga anggota PPI menemui Andri untuk berkonsultasi karena dimintai uang sebesar 250 juta peso atau setara Rp69 miliar oleh kelompok yang mengaku dari Al Habsy Misaya, pecahan kelompok Abu Sayyaf.

Saat ini para awak kapal tersebut disandera selama lebih dari 42 hari, namun masih belum ada kejelasan dan pemerintah terkesan menutup-nutupi informasi. “Bahkan, keluarga korban lebih parah lagi memperbarui “Kami juga mengetahui status kesehatan awak kapal yang sakit,” kata Andri.

PPI berharap pemerintah lebih berperan aktif dalam menyampaikan perkembangan dan menjamin keselamatan warganya yang ditahan.

Selain itu, PPI juga meminta pemerintah memfasilitasi keluarga korban untuk mendapatkan bantuan psikologis, guna menenangkan kondisi psikologis mereka yang mulai tidak stabil akibat kejadian tersebut.

Bertemu dengan mantan sandera

Usai rapat berakhir sekitar pukul 1 siang, Iqbal mengatakan pemerintah menyampaikan informasi dan perkembangan yang diminta.

“Kami sama-sama menyampaikan bahwa bagi pemerintah dan juga terus diawasi oleh DPR, kami sepakat bahwa keselamatan para sandera adalah prioritas utama. Jadi setiap langkah akan kami perhitungkan dengan mempertimbangkan keselamatan para sandera, kata Iqbal.

Terkait teror dari pihak yang mengaku dari kelompok Al Habsy, Iqbal menjelaskan, hal tersebut merupakan strategi yang digunakan pelaku untuk mengalihkan tekanan dari perunding perusahaan kepada keluarga dan pemerintah.

“Pelaku berharap pihak keluarga merasa tertekan lalu meneruskannya ke media dan pemerintah. Namun, kami berhasil membalikkan keadaan dengan kembali berkomunikasi dengan pelaku sekitar pukul 19.00, kata Iqbal saat dihubungi Rappler melalui telepon, Senin malam, 1 Agustus.

Saat ini, tekanan telah berhasil dialihkan kepada negosiator perusahaan. Artinya, pelaku sudah sepakat untuk hanya menghubungi negosiator yang ditunjuk pihak perusahaan dan tidak lagi mengganggu pihak keluarga.

Kementerian Luar Negeri juga telah menunjuk satu orang yang secara khusus setiap harinya akan terus memberikan informasi kepada keluarga mengenai perkembangan kasus ini, kata Iqbal.

Ia juga mengatakan, para sandera saat ini dalam keadaan sehat. Pemerintah, lanjutnya, terus berkoordinasi dengan Filipina. Upaya pembebasan sandera ini akan terwujud jika ada keharmonisan antara pemerintah, DPR, perusahaan, dan anggota keluarga.

Tujuh awak kapal TB Charles 001 dan kapal Robby 152 diculik kelompok Abu Sayyaf pada 20 Juni saat berlayar dari Filipina selatan menuju Samarinda. Penyanderaan dilakukan dalam 2 tahap dan dilakukan oleh 2 kelompok berbeda.

Dalam operasi penculikan pertama, mereka menangkap tiga awak kapal. Sedangkan kelompok bersenjata membawa empat awak kapal pada penculikan kedua.– dengan pelaporan oleh Santi Dewi/Rappler.com

SDY Prize