Saat Kapolri ingin pensiun dini
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
“Menjadi Kapolri penuh dengan kehidupan yang penuh tekanan.”
JAKARTA, Indonesia – Menjadi Kapolri, orang nomor satu di kepolisian, ternyata tidak selalu menyenangkan. Posisi elegan ini seringkali justru menimbulkan stres.
Hal tersebut disampaikan langsung oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Menurutnya, banyak tekanan dan permasalahan yang harus dihadapi seorang Kapolri.
“Menjadi Kapolri penuh dengan kehidupan yang penuh tekanan,” ujarnya usai menghadiri perayaan Hari Bhayangkara ke-71 yang digelar di Lapangan Monas, Jakarta Pusat, Senin, 10 Juli 2017.
Oleh karena itu, lanjut Tito, jika ada peluang untuk pensiun dini, maka ia akan memanfaatkan peluang tersebut. “Mungkin ada saatnya menurut saya tepat, mungkin pensiun dini,” ujarnya.
Tito mengambil alih jabatan Kapolri pada 13 Juli 2016. Ia akan mengisi posisi tersebut hingga tahun 2022. Namun, Tito mengaku belum yakin bisa bertahan hingga tahun 2022.
(Membaca: 5 hal yang perlu Anda ketahui tentang Tito Karnavian)
“Saya tidak tertarik dengan politik, saya tidak punya gen politik, dalam politik banyak tarik-menarik. Nantinya akan muncul musuh-musuh baru yang akan menambah stres. Saya ingin terjun ke dunia pendidikan dan menjadi pembicara.”
“Saya bilang kalau boleh memilih, saya tidak ingin menyelesaikannya sampai 2022. Ini terlalu lama. “Tidak baik bagi organisasi, tidak baik bagi diri saya sendiri,” ujarnya.
Selain karena jabatan Kapolri yang kerap stres dan penuh tekanan, organisasi Polri juga dinilai tidak baik jika terlalu lama menjadi orang nomor satu di Polri.
Tito menilai Polri perlu kebangkitan kepemimpinan agar lembaga dan bawahannya tidak bosan. Ia menilai pemimpin yang terlalu lama memegang tongkat estafet akan berdampak buruk bagi bawahannya.
“Organisasi harus disegarkan, harus ada kepemimpinan baru. Bayangkan kalau saya enam tahun jadi Kapolri, tujuh tahun anggotanya bosan, organisasinya bosan, saya juga bosan, jelasnya.
Oleh karena itu, ia menilai keinginannya untuk pensiun dini merupakan sesuatu yang wajar. Sebab, selain demi kebaikan Polri, ia juga ingin hidup lebih tenang dan damai.
Saat ditanya apa yang akan dilakukannya jika benar-benar pensiun dini, Tito mengaku ingin menjadi seorang pendidik. Ia juga mengatakan tidak akan menyentuh dunia politik.
“Saya tidak tertarik dengan politik, saya tidak punya gen politik, dalam politik banyak tarik-menarik. Nantinya akan muncul musuh-musuh baru yang akan menambah stres. “Saya ingin terjun ke dunia pendidikan, menjadi pembicara,” ujarnya. —Rappler.com