Saat Panglima Militer Australia bertemu, Indonesia belum memutuskan apakah akan memulihkan kerja sama
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Pejabat militer Australia menjatuhkan sanksi terhadap seluruh personel yang terlibat. Sanksi ini bisa berdampak pada karir mereka di masa depan.
JAKARTA, Indonesia – Panglima TNI Gatot Nurmantyo akhirnya bertemu dengan Pangdam Letjen Angus Campbell di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur pada Rabu, 8 Februari. Pertemuan kedua dilaksanakan untuk menindaklanjuti penghentian sementara pengajaran dan pelatihan Bahasa Indonesia bagi personel militer Negeri Kanguru yang dihentikan sementara.
Campbell mengalihkan hal-hal yang berkaitan dengan hasil penyelidikan atas insiden yang terjadi di Lembaga Pelatihan Bahasa Komando Pasukan Khusus Angkatan Darat Australia.
“Antara lain, kami telah menyampaikan penyesalan yang mendalam (atas kejadian tersebut) dan permintaan maaf Panglima TNI dan Kepala Staf Angkatan Darat Australia atas kejadian tersebut,” kata Panglima TNI Puspen Edys Riyanto dalam keterangan tertulisnya. Rabu, 8 Februari.
Campbell mengatakan Negeri Kanguru akan menghentikan kegiatan pengajaran Bahasa Indonesia dan melakukan pembenahan internal pada unit dan staf, staf pengajar dan staf terkait, serta meninjau materi pembelajaran.
“Personel militer Australia juga telah menerapkan sanksi tegas terhadap seluruh personel yang terlibat dan bertanggung jawab atas insiden tersebut. “Itu bisa berdampak pada karier mereka,” kata Edys.
Sementara itu, Gatot mengucapkan terima kasih atas respon dan reaksi Panglima TNI Angkatan Darat dan Panglima Militer Australia yang telah mengambil langkah cepat dan tegas. Ia mengatakan penghinaan terhadap Pancasila adalah sesuatu yang menyakitkan.
“Pancasila adalah ideologi negara Indonesia dan untuk seluruh rakyat, sehingga bangsa Indonesia rela mati demi mempertahankan ideologinya, khususnya seorang prajurit TNI,” kata Edys.
Edys pun mengatakan pihak TNI menerima permintaan maaf tersebut. Namun, ia menyatakan akan berdiskusi terlebih dahulu dengan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk mengambil keputusan akhir apakah akan menghidupkan kembali kerja sama tersebut.
“Setelah itu kami akan lapor bersama ke Presiden. “Apapun keputusan yang diambil tergantung presiden,” ujarnya.
TNI memutuskan untuk menghentikan sementara kerjasama dengan militer Australia dalam pengajaran bahasa Indonesia karena materi pengajaran dianggap lebih menyinggung TNI. Dalam pengajarannya dibahas mengenai keterlibatan TNI dalam perang di Timor Timur dan isu pembebasan Papua.
Di barak militer yang sama, guru bahasa Indonesia Kopassus itu menemukan poster yang dilaminasi dan bertuliskan “Pancagila”. Masyarakat menilai kerja sama yang dihentikan sementara itu adalah di bidang militer secara keseluruhan. Belakangan diketahui hanya pendidikan bahasa Indonesia yang terdampak.
Presiden Joko “Jokowi” Widodo juga menyampaikan bahwa hubungan kedua negara tetap baik meski ada penghentian kerja sama. – Rappler.com