• March 20, 2026
Saling serang di debat terakhir

Saling serang di debat terakhir

JAKARTA, Indonesia – Debat ketiga Pilgub DKI Jakarta telah usai. Sesuai dugaan, debat final yang berlangsung di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan ini berlangsung lebih panas dibandingkan dua debat sebelumnya.

Bahkan calon Gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono langsung menyerang calon petahana Basuki “Ahok” Tjahaja Pernama pada kesempatan pertama. Agus antara lain membeberkan rapor buruk Pemprov DKI.

Saat ini, Agus mencontohkan, tingkat gizi buruk anak di Jakarta menempati urutan kelima terburuk di Indonesia. Angka ini menempatkan Jakarta bahkan di bawah Papua Barat. Agus juga mengatakan, tingkat kekerasan terhadap perempuan di Jakarta masih sangat tinggi. “Setiap 2,5 jam ada 1 perempuan yang mengalami kekerasan,” kata Agus

Selain itu, Agus juga menyinggung minimnya sarana dan prasarana bagi penyandang disabilitas serta tingginya angka pengguna narkoba. Saat ini penyalahguna narkoba mencapai 500 ribu, tertinggi di Indonesia, kata Agus.

Calon lain, kata Anies Baswedan, juga menyatakan hal serupa. Menurutnya, Jakarta saat ini bukanlah kota yang ramah terhadap anak dan perempuan. Sementara pengguna narkoba sangat tinggi.

Peningkatan narkoba sebesar 35 persen per tahun, kata Anies. Meski begitu, Anies tidak menyalahkan Ahok. “Ini bukan salah gubernur. “Itu adalah fakta yang sudah lama ada di tempat ini,” katanya.

Wakil Agus Harimurti, Sylviana Murni pun mempertanyakan kepedulian Ahok terhadap penyandang disabilitas dan penyandang disabilitas. “Kita bicara disabilitas, apakah di kantor Balaikota ada penyandang disabilitas yang bekerja? “Betonnya saja,” kata Sylvi

Ahok langsung menjawab tudingan Sylviana. Menurut Ahok, Sylviana berbicara tanpa data. Dia mengatakan, saat ini 1 persen PNS di Jakarta merupakan penyandang disabilitas. “Kita naikkan menjadi 2 persen,” kata Ahok.

Ahok bahkan menyebut ada penyandang disabilitas yang duduk di papan transportasi tersebut. “Nyonya. Sylvi mengatakan, tidak ada PNS penyandang disabilitas yang bekerja, Bu. Sylvi kemana saja,” kata Ahok.

Penyerangan terhadap Ahok juga terjadi saat perdebatan memasuki isu perempuan. Sylvi menuding Ahok melakukan kekerasan verbal terhadap perempuan. Kekerasan tersebut menjadi viral di media sosial. Masyarakat menonton karena video ini menjadi viral, kata Sylvi

Tuduhan Sylviana dibenarkan calon gubernur Anies Baswedan. Anies menyebut video Ahok yang mengumpat perempuan itu menjadi viral. “Bagaimana mengatakan dia akan melindungi perempuan, sulit dipercaya,” kata Anies.

Ahok mengatakan tudingan dirinya melakukan kekerasan terhadap perempuan adalah fitnah. Buktinya, kata Ahok, masih banyak ibu-ibu yang mengajaknya berfoto bersama. “Kalau saya keras pada perempuan, istri saya pasti kabur duluan,” kata Ahok.

Ia mengatakan, pasangan calon nomor satu tersebut tidak memiliki program yang jelas sehingga menyebarkan fitnah. “Itu pencemaran nama baik terus, kalau tidak ada program yang bagus, jadi sedikit lebih elegan,” kata Ahok

Selain persoalan warga difabel dan perempuan, persoalan pembangunan warga bantaran sungai juga menjadi perbincangan hangat ketika Djarot menyinggung rumah terapung yang akan dibangun pasangan Agus-Sylvi. “Kami ingin normalisasi sungai dengan pembuatan rumah terapung. Bagaimana?” kata Djarot.

Agus menuturkan, dirinya dan Sylviana belum memiliki program pembangunan rumah terapung. Pertanyaan ini, kata Agus, selalu terulang. Agus malah menyalahkan program rumah terapung lelucon. “Kami tidak pernah bilang rumah terapung itu program utama kami,” kata Ahok.

Agus pun menyayangkan pasangan Ahok-Djarot yang selalu mempertanyakan program bantuan warga sebesar Rp 1 miliar per RT/RW. Menurut Agus, Ahok-Djarot terlalu curiga terhadap masyarakat.

“Orang bijak berkata, sekali kita punya karakter, sulit untuk berubah. Kalau tokoh sudah mencurigai rakyatnya, selamanya akan begitu. “Jangan terlalu curiga pada bangsa sendiri,” kata Agus.

Masalah pendidikan juga menjadi topik perdebatan yang hangat. Anies Baswedan menegaskan kebijakan Pemprov DKI yang mengeluarkan siswa dari sekolah jika melakukan kekerasan atau intimidasi. “Tidak bisa, mereka harus lebih terdidik,” kata Anies.

Djarot menjawab, saat ini di setiap sekolah sudah ada peraturan yang melarang siswanya melakukan kekerasan. Aturan ini ditandatangani oleh siswa dan orang tua. “Ketika (kekerasan) terjadi tentu kami dipanggil dan diberi pengertian. Oleh karena itu, yang bersangkutan disarankan untuk pindah sekolah, kata Djarot.

Pada kesempatan lain, Djarot menyerang program kepemilikan rumah di Jakarta tanpa uang muka yang dicanangkan pasangan Anies-Sandi. “Jangan sampai kita menjual janji-janji yang tidak bisa direalisasikan. Ada program Rumah untuk Rakyat, yaitu memiliki rumah tanpa uang muka selama 30 tahun. Rumahnya di mana, ukurannya berapa, siapa yang dapat, apakah sesuai dengan peraturan Kementerian Perumahan Rakyat?” kata Djarot.

Anies mengatakan, program yang akan digulirkan bukan berupa penyediaan perumahan, melainkan menjalin kerja sama dengan perbankan. Saat ini, kata Anies, sebagian besar warga kesulitan mendapatkan rumah karena uang muka yang sangat tinggi. “Kami punya skema pendanaan melalui perbankan,” kata Anies.

Sandiaga Uno mengatakan program kepemilikan rumah tanpa uang muka bukanlah sebuah impian. Ia dan Anies, kata Sandiaga, ingin mewujudkan warga Jakarta yang ingin memiliki rumah tanpa uang muka tinggi. Tugas pemimpin adalah mencari solusi, kata Sandiaga.

Menit-menit akhir dimulai, perdebatan semakin memanas karena masing-masing pasangan diminta menyebutkan kelebihan dan kelebihan masing-masing kandidat. Dalam sesi tersebut, Djarot menyoroti program duet Agus-Sylvi yang dinilainya terlalu mengada-ada.

“Mereka berani menyampaikan sesuatu meski aksi di lapangan sulit dilaksanakan,” kata Djarot. Ia pun menyindir pasangan Anies-Sandi yang menurutnya bagus untuk membangun opini, namun sulit dibuktikan. Pak Anies pernah jadi menteri, tapi dipecat karena tidak bisa menjalankan program, kata Djarot.

Agus bereaksi keras terhadap sindiran Djarot pernyataan penutup Puji Ahok yang menurutnya sangat lugas dan tegas. Namun, Agus mengatakan, “Harus bisa membedakan antara tegas dan kasar. “Bersikap tegas tidak harus kasar,” kata Agus.

Agus pun menyindir Anies Baswedan yang menurutnya pandai merangkai kata dan berteori. Namun saat ini saya masih mempertanyakan integritas dan konsistensi beliau dalam memimpin, kata Agus. —Rappler.com

Keluaran Sidney