• March 19, 2026

Samin Ramadhan pap dan toleransi masyarakat Serengan

SOLO, Indonesia – Pukul 15.00 usai salat Ashar, puluhan orang mulai berdatangan memenuhi halaman Masjid Darussalam di Kampung Jayengan, Serengan, Kota Solo. Masing-masing membawa keranjang dan menaruhnya di atas meja besar dekat kompor dengan panci berukuran jumbo. Ketiga pengurus masjid kemudian menyajikannya satu per satu dan menuangkan bubur panas ke dalam keranjang.

Bubur Samin merupakan masakan khas yang hanya ada di Jayengan setiap bulan suci Ramadhan. Masakan ini dibawa oleh masyarakat Banjar – yang sebagian besar adalah pedagang permata asal Martapura, Kalimantan Selatan – yang menetap dan menetap di desa Jayengan sejak tahun 1900-an. Bubur Samin sebenarnya adalah bubur Banjar yang sudah mengalami perubahan bumbu dan rasa.

Bubur ini terbuat dari nasi dan daging cincang. Namun yang membedakannya adalah bubur di Masjid Darussalam ini menggunakan berbagai macam bumbu sebagai bumbunya, santan, santan dan ghee atau ghee yaitu mentega yang terbuat dari lemak hewani murni yang merupakan bumbu kuliner khas India dan Timur Tengah. . Sebab, daging buah samin berwarna agak kekuningan dengan rasa yang sangat gurih dan aroma yang pedas.

Awalnya bubur ini merupakan takjil (hidangan berbuka puasa) bagi jemaah Masjid Darussalam yang sebagian besar adalah Urang Banjar. Bubur Samin disajikan dengan telur rebus, kurma, dan secangkir kopi susu panas. Setiap bulan puasa, santapan ini ditata rapi setengah jam sebelum azan Maghrib.

Dari tahun ke tahun banyak masyarakat luar desa yang ikut berbuka puasa di masjid, sehingga kelezatan bubur semakin digemari di kota Solo. Tak mampu menampung banyaknya jamaah yang ingin berbuka puasa, pengurus masjid kemudian berinisiatif membawa pulang bubur, membagikannya secara gratis menjelang azan Maghrib.

Syaratnya hanya membawa tempat makan sendiri, karena pengurus masjid tidak menyediakan voucher makan. Tak hanya dari Solo, pencari takjil di Jayengan juga berasal dari Sragen, Klaten, Boyolali, dan Yogyakarta. Bahkan ada pula yang rela mengantri dari siang hari untuk mendapatkan bubur ini.

“Kami menggunakan sekitar 40 kilogram beras setiap hari dan bisa menghasilkan sekitar 900 porsi bubur. 700 porsi untuk dibagikan, dan 200 porsi untuk takjil di masjid,” kata Pengurus Masjid Darussalam Muhammad Rosyidi yang juga merupakan tokoh Banjar di Jayengan.

Tradisi samin pap, menurut Rosyidi, merupakan bentuk akulturasi budaya kuliner Banjar, Jawa, dan Arab di Solo. Sedangkan pembagian gratis selama sebulan penuh merupakan wujud kepedulian umat Islam untuk berbagi kepada siapapun yang membutuhkan tanpa memandang agama dan status sosial.

“Untuk kebersamaan, agar semua bisa merasakan keberkahan Ramadhan dengan berbagi makanan,” kata Rosyidi.

Hingga kini tradisi takjil bubur samin ini berkembang menjadi amal untuk masyarakat. Setiap orang boleh membawa pulang bubur samin, tak peduli beragama Islam atau tidak, berpuasa atau tidak, kaya atau miskin.

Misalnya, Nugroho yang beragama Kristen sore itu membawakan semangkuk rantang, ikut mengantri bubur, dan mengelolanya. Ia mengaku sudah lama menyukai kelezatan ghee yang belum pernah ia temukan di tempat lain. Setiap Ramadhan ia selalu menyempatkan diri mengantri bubur.

Kisah kebersamaan di Desa Serengan tidak hanya terdapat di Jayengan namun juga di Desa Kratonan. Di jalan yang sama dengan Masjid Darussalam, ada masjid lain yang berjarak kurang dari 500 meter – Masjid Al Hikmah. Yang membedakannya dengan yang lain adalah masjid ini terletak satu halaman dengan Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan, dan menggunakan alamat yang sama yaitu Jalan Gatot Subroto No. 222.

Kedua rumah ibadah tersebut sudah berdiri sejak lama. Gereja berdiri pertama kali pada tahun 1937, sedangkan masjid yang berdiri di atas tanah wakaf baru dibangun sepuluh tahun kemudian. Di salah satu sisi masjid terdapat tugu kecil yang menjadi simbol komitmen dua kelompok masyarakat untuk hidup berdampingan secara rukun, yang diprakarsai oleh kedua pimpinan rumah ibadah saat itu.

Meski pengurus gereja dan masjid berganti, namun keharmonisan masih tetap terjaga hingga saat ini. Bahkan, dalam mengatur jadwal ibadah, keduanya biasa berkompromi agar tidak saling mengganggu, apalagi saat hari raya keagamaan.

Begitu Idul Fitri jatuh pada hari Minggu, pengurus gereja kemudian menunda ibadah Minggu pagi hingga siang hari karena parkiran depan gereja digunakan untuk salat Idul Fitri pagi, kata Natsir Abu Bakar, takmir Al. Hikmah. Masjid.

Akhir tahun lalu, Maulid Nabi jatuh pada 24 Desember, sehari sebelum Natal. Pengurus masjid kemudian menggalakkan acara pengajian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada 16 Desember untuk memberikan kesempatan jamaah beribadah di malam Natal. Sebab setiap Natal, halaman masjid juga akan digunakan untuk parkir jemaah gereja.

Di bulan Ramadhan, pihak gereja juga memasang spanduk ucapan selamat menjalankan ibadah puasa di depan pagarnya untuk menghormati jamaah Masjid Al Hikmah. Pengelola gereja juga menghadiri acara halal-bi-halal yang diadakan umat Islam untuk menjaga silaturahmi antar umat.

Meski suara azan di masjid terkadang mengganggu ibadah di gereja atau sebaliknya suara nyanyian di gereja mengganggu salat di masjid, namun kedua belah pihak tidak pernah menyelesaikan masalah secara emosional. Biasanya kedua partai penguasa bertemu sebelum ada acara penting di salah satu tempat ibadah. Dan tanpa diminta, salah satu dari mereka mengalah, misalnya tidak menggunakan pengeras suara saat beribadah.

“Kami selalu berkomunikasi dan memberikan kesempatan agar semua orang bisa beribadah dengan lancar,” kata Pendeta GKJ Joyodiningratan Nunung Istining Hyang. – Rappler.com

Live Result HK