• March 19, 2026
Sampah plastik di lautan terus mengancam populasi penyu

Sampah plastik di lautan terus mengancam populasi penyu

Ini adalah ringkasan buatan AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteks, selalu merujuk ke artikel lengkap.

Nelayan nelayan di pantai selatan sering menemukan penyu mati akibat menelan sampah plastik sisa kegiatan wisata.

YOGYAKARTA, Indonesia – Selain digerus ombak, sampah laut di pantai selatan Yogyakarta berkontribusi besar terhadap penurunan populasi penyu yang muncul ke permukaan dan bertelur di pantai dalam beberapa tahun terakhir.

Pesisir selatan yang berhadapan dengan Samudra Hindia, khususnya Bantul atau Gunungkidul, merupakan salah satu tempat favorit bagi 4 dari 7 spesies penyu di dunia untuk bertelur. Mereka adalah Kura-kura Zaitun (Lepidochelys olivacea), Kura-kura Hijau (Chelonia mydas), Kura-kura Belimbing (Dermochelys coriacea), dan Kura-kura Sisik (Eretmochelys imbricata).

Namun, sejak dekade terakhir, hanya penyu lekang yang terus naik ke permukaan dan bertelur di pasir setiap tahun selama bulan Mei-Agustus. Sedangkan 3 spesies lainnya tidak pernah menemukan jejak sarangnya.

Nelayan di pantai selatan sering menemukan penyu yang mati akibat menelan sampah plastik sisa kegiatan wisata pantai selatan yang semakin populer, terutama pantai pasir putih di kawasan Gunungkidul saat memancing.

“Penyu tidak bisa membedakan plastik dari ubur-ubur, yang mereka makan di laut. Banyak penyu mati karena memakan plastik di laut,” kata Ferry Munandar, koordinator Banyu, kelompok relawan peduli konservasi penyu dan laut di pantai selatan Yogyakarta, kepada Rappler, Rabu, 8 Juni.

Di Pantai Samas, Bantul, jumlah penyu yang datang ke darat selalu berkurang setiap tahunnya. Bahkan, pernah dalam satu periode musim bertelur, tidak ada satupun penyu yang bertelur di pantai pasir besi tersebut. Hal itu akibat pencemaran laut dari kapal tanker minyak yang bocor di dekat pantai Congot Kulonprogo.

“Sampah di laut selalu menjadi masalah penyu. Nelayan yang menemukan penyu mati, setelah dibedah, banyak plastik di perutnya,” kata Rujito, ketua Forum Konservasi Penyu Bantul yang melepasliarkan puluhan ribu bayi penyu (penetasan) di pantai Samas.

Selama musim bertelur, Rujito berkeliling hampir setiap malam untuk memantau penyu yang muncul. Dia membersihkan puing-puing di sekitar Pantai Samas untuk memberi ruang bagi penyu bertelur.

Meski tidak bisa membedakan antara plastik dan ubur-ubur, menurut Rujito, penyu adalah reptil yang pandai navigasi dan bersarang. Hewan yang telah mengembara di laut sepanjang hidupnya dapat kembali ke tempat asalnya dan bertelur hingga kedalaman tertentu di bawah pasir untuk memastikan suhu pasir yang hangat.

“Kalau di pantai banyak sampah, mereka tidak mau bertelur. Kembali ke laut,” katanya.

Sementara itu, menurut catatan Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul, dari sekitar 30 titik di pantai selatan yang pernah menjadi sarang telur penyu, saat ini tidak lebih dari 7 titik yang masih didatangi penyu. Sebagian besar lainnya telah ditinggalkan oleh reptil bercangkang keras akibat padatnya wisatawan dan sampah laut.

Sebagai upaya konservasi, pemerintah setempat mengambil kebijakan untuk menutup sejumlah titik pantai yang masih digunakan penyu bertelur dari kegiatan wisata. – Rappler.com

BACA JUGA:

Data HK Hari Ini