Satu Juta Susie: Berinvestasi pada Perempuan Pesisir
keren989
- 0
JAKARTA, Indonesia — Indonesia yang menyandang predikat negara maritim memang terkenal dengan kekayaan alamnya yang luar biasa, khususnya laut. Pantainya berpasir putih dan airnya biru jernih resor yang terbentang nyaman di sepanjang tepian tanah negeri ini. Namun bagi Direktur Eksekutif Indonesia Business Coalition for Women’s Empowerment (IBC WE) Dini Widiastuti, penampilan tersebut hanyalah sekedar dandan hanya
Sebagaimana disampaikannya dalam sesi Youth and Communities for Social Good di Social Good Summit Jakarta 2017, wilayah pesisir merupakan wilayah yang penuh kemiskinan, dilanda permasalahan, kekurangan air bersih, dan aksesibilitas yang bermasalah. Penduduk di daerah tersebut harus menggunakan perahu dan ombak yang berani lebih dari dua meter untuk pergi ke kota dan mengenyam pendidikan. Atau melakukan hal serupa dengan mencari komoditas laut yang nantinya bisa dijual.
Indonesia juga menghadapi beberapa permasalahan. Mulai dari rendahnya tingkat pendidikan pekerja di sektor perikanan dan kelautan, hingga tantangan pemanfaatan sumber daya laut untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir tanpa eksploitasi.
Sulitnya kehidupan di pesisir membuat profesi pelaut hampir selalu identik dengan laki-laki. Sebab image yang terbentuk adalah kuat, berani dan berani. Namun pada kenyataannya, pekerjaan-pekerjaan tersebut, termasuk pekerja di sektor perikanan dan kelautan, didominasi oleh perempuan. Para perempuan ini bekerja mulai dari mencari bahan baku di laut, memilah, membersihkan, mengolah, hingga memasarkan.
Keberanian perempuan di sektor perikanan juga tercermin pada Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Karena itulah Dini membentuk kampanye “Satu Juta Susi” untuk membantu mengatasi permasalahan kehidupan di pesisir pantai Indonesia sebelumnya.
“Kalau satu Bu Susi saja sudah memberikan dampak yang luar biasa, bayangkan kalau kita punya satu juta Susi,” kata Dini pada SGS yang diselenggarakan oleh Rappler dan UNDP Indonesia pada 4 Oktober.
Wanita yang kuat
Nurlina adalah salah satu wanita kuat yang dikenalkan oleh Dini. Sejak usia 12 tahun, saat ayahnya meninggal, Lina melaut dan menjadi nelayan di daerahnya, Pangkajene, Sulawesi Selatan. Dua puluh tahun kemudian, Lina masih didiskriminasi dan berjuang untuk mendapatkan Kartu Nelayan. Pasalnya, dia adalah seorang perempuan, dimana perempuan dianggap tidak layak menjadi nelayan.
Di usianya yang ke-30, Lina akhirnya mendapatkan Kartu Nelayan dan akses menggunakan perahu motor.
Perempuan kuat kedua adalah Masnuah Mbanuk, aktivis Persaudaraan Wanita Nelayan Indonesia (PPNI). Untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, ia turut memperkenalkan hasil laut ke pasar Jawa Tengah, dan juga mendirikan Koperasi Puspita Bahari.
Selain itu, Masnuah juga mengajarkan pengelolaan sampah kepada masyarakat setempat agar kawasan pesisir pantai tidak berserakan dan terlihat kotor.
Langkah lain dilakukan Jumiati, warga Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Ia melakukan rehabilitasi hutan mangrove. Usahanya pun menuai cibiran warga sekitar. Namun delapan tahun kemudian, usahanya membuahkan hasil.
Jumlah hewan yang rontok di area tersebut berkurang, dan hewan seperti burung dan ikan mulai menghuni area tersebut. Ia juga bisa menjual hasil usahanya menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi.
Apa yang bisa kita lakukan
Kita tidak perlu melompat ke pantai dan melakukan hal-hal seperti yang dilakukan tiga wanita perkasa sebelumnya. Kita bisa melakukan beberapa hal mudah.
Pertama, ubah sikap dan pandangan bahwa pelaut haruslah laki-laki. Sebab, perempuan terbukti mampu.
“Lalu apa lagi yang bisa dilakukan? Pastinya setiap orang mempunyai media sosial. Anda bisa membuatnya viral, Anda bisa Membagikan cerita tentang perempuan seperti mereka,” kata Dini.
Pekerja media juga bisa membuat liputan yang kemudian bisa ditulis, atau bahkan difilmkan. Dan bagi para pengusaha, bermitra dengan mereka dan kelompok sejenis merupakan pilihan yang tepat untuk membantu mereka menembus pasar yang lebih luas.
Langkah-langkah ini penting untuk dilakukan, apalagi jika kita melihatnya dari sudut pandang yang lebih luas.
“Ketika kita berinvestasi pada perempuanKami berinvestasi pada komunitas sebenarnya,” kata Dini.
Salah satu contohnya adalah Nurlina yang membantu kebutuhan transportasi masyarakat sekitar, misalnya mengantar mereka ke puskesmas atau sekolah, dengan perahunya saat tidak sedang melaut.
Pada akhirnya, semua upaya tersebut juga harus didukung dengan penyediaan fasilitas. Dini tidak menampik, terkadang pengajaran dan pendidikan sudah terlaksana namun tidak bisa terealisasi karena minimnya fasilitas.
Kita memerlukan upaya yang saling melengkapi, bukan upaya individu, untuk menyelesaikan masalah besar ini.
“Ada banyak hal yang bisa dilakukan. Jadi ajakan saya, mari menjadi bagian dan dukung terciptanya Satu Juta Susi. “Satu juta Susi untuk Indonesia,” ujarnya.
Social Good Summit merupakan konferensi yang membahas dampak teknologi dan media yang baru inisiatif sosial di seluruh dunia. Rappler Indonesia dan United Nations Development Program (UNDP) telah berkolaborasi sejak tahun 2015 untuk menyelenggarakan acara ini di Jakarta. —Rappler.com