Sedikit cerita di balik kampanye Ahok-Djarot
keren989
- 0
Apakah strategi Ahok-Djarot yang dikembangkan tim sukses mampu meraih kemenangan di Pilkada DKI?
JAKARTA, Indonesia – Perjalanan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat memang tak bisa dibilang mudah. Berbagai kendala harus mereka hadapi, mulai dari isu penodaan agama hingga penolakan kampanye di berbagai wilayah di Ibu Kota.
Sejak awal, kampanye pasangan mapan ini menggunakan metode blusukan. “Kita akan pergi ke daerah terpencil, oke? “Nanti dipecah dua, antara saya dan Pak Ahok,” kata Djarot pada Oktober 2016 saat memulai masa kampanye.
Menurutnya, untuk proses penentuan daerah kunjungan akan diputuskan oleh tim pemenang. Ahok dan Djarot awalnya tak berniat menggelar acara meriah, seperti panggung hiburan musik dan sebagainya. Peristiwa ini dikhawatirkan akan mengganggu ketentraman dan justru menimbulkan kemacetan lalu lintas.
Namun berkat dukungan sejumlah musisi ternama dan berbagai tokoh, tim kampanye pasangan calon nomor urut 2 itu akhirnya menggelar pertunjukan musik bertajuk #ConserGue2 di kawasan Senayan, Jakarta Selatan pada Sabtu, Februari.
Dimotori oleh partai pendukung
Kampanye Ahok-Djarot dimotori oleh pengurus dari 4 partai pengusung yakni Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Golkar, Partai Nasional Demokrat (Nasdem), dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).
Prasetyo Edi Marsudi dari PDIP menjabat sebagai ketua umum, bersama Sekretaris Ace Hasa Syadzily dari Golkar. Namun kedua tokoh ini cenderung malu-malu saat ditanya seluk beluk penentuan proses kampanye.
Namun, cara mereka menarik perhatian masyarakat memang menarik. Ketika blusukan Ahok mulai mendapat perlawanan usai kasus dugaan penodaan agama ramai diperbincangkan, mereka mengubah konsep menjadi pertemuan di Rumah Lembang, Jakarta Pusat.
Tempat ini juga ditunjuk sebagai posko utama tim pemenangan Ahok-Djarot. Setiap warga DKI yang memiliki keluhan permasalahan perkotaan bisa segera mampir ke Rumah Lembang yang terletak di kawasan Menteng.
Didukung oleh tokoh masyarakat
Warga bisa bertemu dan curhat apa saja kepada Ahok, mulai pukul 8 hingga 10 pagi. Acara di lokasi ini juga diwarnai dengan kunjungan para artis yang menyatakan dukungannya terhadap pasangan petahana.
Mulai dari Luna Maya, Aura Kasih, hingga Sophia Latjuba, mereka mengunjungi Rumah Lembang.
Wajah-wajah populer lainnya juga dapat ditemukan di setiap peristiwa besar terkait pemilu yang melibatkan Ahok-Djarot.
Misalnya saja saat penandatanganan nomor urut di gedung Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) DKI Jakarta. Di barisan pendukung Ahok tampak wajah musisi Addie MS dan aktris Titi Rajo Bintang yang juga mengenakan kemeja kotak-kotak yang menjadi kostum wajib suporter nomor urut 2.

Saat debat cagub-cawagub, drummer band Slank, Bimbim; mantan penyanyi Dewa, Once Mekhel; dan sutradara Jay Subiakto.
“Kami diundang Timses,” kata Bimbim saat ditanya kedatangannya.
Rencana cadangan
Bahkan setelah Ahok ditetapkan sebagai tersangka kasus penodaan agama, tim sukses mengaku tak terlalu ambil pusing. Menurut Djarot, para ahli strategi sudah mempunyai rencana cadangan.
“Penekanannya pada konsolidasi tim kampanye dan partai pengusung. “Kami sedang merumuskan pola kampanye ke depan setelah Pak Ahok ditetapkan sebagai tersangka,” kata Djarot.
Salah satu taktiknya adalah melalui kunjungan terus-menerus ke warga. Bahkan, mereka tak segan-segan mengunjungi Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, tempat Ahok berpidato yang berujung pada tuduhan dugaan penodaan agama.
Apakah strategi Ahok-Djarot yang dikembangkan tim sukses mampu meraih kemenangan di Pilkada DKI? Jawabannya akan diketahui pada 15 Februari. —Rappler.com