• March 23, 2026
Seekor gajah liar mati di Aceh, gadingnya hilang

Seekor gajah liar mati di Aceh, gadingnya hilang

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Gajah tersebut diyakini dibunuh untuk diambil gadingnya

BANDA ACEH, Indonesia – Seekor gajah liar Sumatera berusia sekitar 40 tahun ditemukan mati di Dusun Payalah, Desa Karang Ampar, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah. Kematian satwa dilindungi ini diketahui pada Senin, 17 Juli 2017.

Saat ditemukan, gadingnya sudah dikeluarkan dari bangkai gajah. Kepalanya juga diketahui terbelah. Selain itu juga terdapat lubang seperti bekas tembakan peluru di bagian tengkorak. Gajah tersebut diyakini dibunuh untuk diambil gadingnya.

Diperkirakan gajah tersebut mati lebih dari 3 minggu yang lalu. Sebab saat ditemukan, bangkai gajah tersebut sudah membusuk dan mengeluarkan bau yang sangat menyengat.

Bangkai tersebut pertama kali ditemukan oleh warga sekitar yang kemudian melaporkannya ke aparat desa dan kecamatan. Tim BKSDA Aceh dari CRU Peusangan langsung turun mengecek lokasi.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo mengatakan, pihaknya melaporkan soal kematian gajah tersebut ke polisi. Ia ingin agar pelaku kasus pembunuhan gajah yang mengambil gadingnya terungkap.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Polda Aceh untuk mengusut secara serius karena yang jelas ini adalah upaya pengambilan gading secara sengaja,” kata Sapto, Rabu, 19 Juli 2017.

BKSDA Aceh berharap persoalan kematian gajah tersebut bisa segera terungkap agar memberikan efek jera bagi pelakunya. “Jika tidak diumumkan, dikhawatirkan akan terjadi lagi di kemudian hari,” lanjut Sapto.

Sebelumnya, pada 18 Februari 2017, berdasarkan hasil otopsi, seekor gajah jantan berusia 6 tahun ditemukan mati di lokasi yang sama setelah memakan pupuk urea.

Pada tahun 2017, setidaknya terdapat empat kasus kematian gajah liar di provinsi Aceh. Selain itu, meninggalnya satu ekor janin gajah yang mengalami keguguran dan satu ekor bayi gajah yang dalam perawatan.

Konflik antara gajah dan masyarakat hampir tiada henti sepanjang tahun akibat semakin terbatasnya habitat gajah di Aceh akibat rusaknya habitat. Upaya perburuan satwa liar tidak jarang terjadi, diperkirakan masih cukup meluas.

Sekitar 85 persen habitat gajah sumatera di Provinsi Aceh berada di luar kawasan konservasi bahkan di luar kawasan hutan. Jadi, kata Sapto, potensi konflik dengan warga sangat tinggi dan pengawasan terhadap perburuan liar membutuhkan upaya yang tidak mudah.

Untuk mengatasi konflik gajah liar yang berkepanjangan, BKSDA Aceh bersama pemerintah Aceh dan mitra membangun tujuh CRU (Conservation Response Unit) di seluruh wilayah Aceh untuk mempercepat respon terhadap kejadian konflik gajah.

Lima perangkat GPS collar juga dipasang di lima kelompok gajah liar di Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie, dan Aceh Jaya untuk memantau pergerakan gajah. “Setiap empat jam pergerakan gajah akan terlacak melalui satelit,” pungkas Sapto. —Rappler.com

Pengeluaran Sidney