• April 5, 2025
Sekitar 53 WNI di Irak telah kembali ke Indonesia

Sekitar 53 WNI di Irak telah kembali ke Indonesia

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Suhardi mengatakan BNPT hanya bisa menangkap mereka jika ingin melakukan aksi teroris di Indonesia

JAKARTA, Indonesia – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius mengatakan ada sekitar 53 WNI yang kembali ke negara asalnya setelah bergabung dengan kelompok radikal di Irak. Mereka kembali ketika beberapa kota di Irak, termasuk Mosul, yang awalnya dikuasai oleh Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), mulai direbut oleh pasukan pemerintah.

Suhardi mengatakan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif agar tidak menyebarkan paham radikal ke Indonesia.

“Kami mencoba menggarap program dengan 17 kementerian dan menentukan porsi masing-masing kementerian. Pendekatan kepada mereka dilakukan dengan ramah-tamah pendekatan yang sulit atau pendekatan lembut,” kata Suhardi ditemui di Istana Negara usai berbicara dengan Presiden Joko Widodo, Jumat, 28 Oktober.

Beberapa pendekatan lunak yang diterapkan antara lain menjadikan anak-anak jihadis sebagai anak asuh dan memberikan pelatihan kewirausahaan bagi keluarga mereka. Suhardi mengatakan pemerintah juga tidak akan meminggirkan anak-anak mantan teroris karena justru akan memicu tumbuhnya radikalisme dalam pemikiran mereka.

“Anak-anak ini akan lebih militan dibandingkan orangtua mereka yang sudah menjadi radikal,” katanya.

Suhardi juga berpikir untuk bekerja sama dengan mantan pemimpin kelompok jihad yang telah berpindah agama untuk melakukan proses deradikalisasi. Sebab langkah ini dinilai lebih efektif.

“Karena kalau kita (pemerintah) bicara, belum tentu kita didengar. “Tetapi jika mantan pemimpin jihad berbicara, dia pasti akan didengar,” katanya.

Suhardi juga mengatakan, pegawai BNPT tidak bisa begitu saja menyelidiki puluhan WNI yang kembali dari Irak tanpa melalui prosedur yang jelas. BNPT baru bisa menangkap mereka jika sudah beraksi.

“Sebagai TIDAK (melakukan apa saja) bahwa kita juga TIDAK “Apa pun bisa kami lakukan karena yang mereka bawa (dari Irak) adalah pemahaman yang tidak bisa Anda lihat karena itu ada di kepala Anda,” kata pria yang pernah menjabat Kepala Reserse Kriminal Mabes Polri itu.

Namun untuk mencegahnya, personel BNPT terus melakukan tahap pemantauan dan pendekatan.

Selain 53 orang yang diyakini sudah kembali, 70 WNI lainnya diyakini tewas dalam perang tersebut. BNPT juga menyebutkan, masih ada sekitar 400 WNI yang berada di Irak dan Suriah dan tergabung dalam kelompok teroris.

Peran keluarga

Berdasarkan informasi yang diperoleh BNPT, sebagian besar pelaku aksi teroris berusia antara 15-30 tahun. Sebab, mereka masih mencari jati diri sehingga mudah terpengaruh kelompok radikal melalui media sosial. (BACA: FAKTA: Pelaku aksi teroris berusia muda)

“Jadi peran orang tua untuk menjaga dan memperhatikan anak dalam menggunakan media sosial sangatlah penting. “Peran lain yang dianggap cukup penting adalah guru dan dosen mengamati jika siswanya mulai memisahkan diri,” kata Suhardi.

Ia menjelaskan, ketika mereka mulai memisahkan diri, doktrin dapat dengan mudah menyusup ke dalam pikiran anak-anak. – Rappler.com

taruhan bola online