• April 8, 2026

Sempat heboh kalangan purnawirawan TNI soal Simposium ’65

JAKARTA, Indonesia — Simposium Nasional 1965 telah selesai sebulan yang lalu. Namun gaung forum yang mempertemukan korban dan pelaku tragedi berdarah 1965 untuk pertama kalinya sepanjang sejarah masih terasa hingga saat ini, Jumat 13 Mei.

Selain itu, rekomendasi akhir untuk Presiden Joko “Jokowi” Widodo masih disiapkan oleh tim simposium yang dipimpin anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Sidarto Danusubroto. Berdasarkan informasi yang diterima Rappler, rekomendasi tersebut akan diselesaikan hari ini.

Meski rekomendasinya belum final, ruang perdebatan dalam forum yang digelar pada 18-19 April di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat, masih terbuka.

Perdebatan ini tidak hanya terjadi di kalangan masyarakat umum, tetapi juga di kalangan purnawirawan TNI. Pasalnya, Letjen (Purn) TNI Agus Widjojo bertindak sebagai Ketua Dewan Pengarah simposium ini. Agus merupakan anak Jenderal Sutoyo, salah satu korban tragedi 1965.

Usai simposium terjadi keributan di kalangan pensiunan tentara. Beberapa di antara mereka, alih-alih mengutarakan pendapat mengenai poin-poin rekomendasi, malah menegaskan menolak diadakannya simposium tersebut.

Di antara mereka yang menolak termasuk Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu. Sebagai bentuk penolakan, Ryamizard yang merupakan angkatan 1974 itu menggelar silaturahmi bersama Forum Umat Islam (FUI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang digelar hari ini di Balai Kartini, Jakarta Selatan.

(BACA: Forum Umat Islam menghimbau agar film ‘Harta Karun G30S/PKI’ ditayangkan kembali)

Meski dikemas sebagai forum menyikapi kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) dengan menangkapi penjual dan pemakai kaos dan peniti berlogo palu arit, namun salah satu isinya forum ini membahas tentang Kebangsaan. Simposium tahun 1965.

Klausul Simposium tahun 1965 pertama kali disebutkan oleh Ketua Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat, Letjen. Jenderal TNI (Purn) Suryadi. “Kami kurang yakin dengan sikap pemerintah, masyarakat yang melakukan pemberontakan difasilitasi. Kalau pemerintah memfasilitasi, anggarannya dari mana?” ujar Suryadi.

Suryadi samar-samar merujuk pada simposium tahun 1965 yang kemudian disebut-sebut memfasilitasi keluarga korban pembunuhan massal dan korban penahanan saat itu.

Tak hanya simposium yang dipersoalkan, nama Agus Widjojo juga disebut-sebut.

Suryadi mempertanyakan keputusan Presiden Jokowi yang mengangkat Agus, putra korban tragedi 1965, menjadi gubernur Lembaga Pertahanan Negara (Lemhanas). “Siapa dia?” tanya Suryadi.

Padahal, kata Suryadi, masih banyak calon purnawirawan TNI yang lebih baik dari Agus.

Ahmad Al Khattah, Sekjen FUI kemudian membalas Suryadi. Ia juga mengkritisi sikap aparat yang melindungi kegiatan Simposium 1965. “Padahal Simposium ke-65 dan kegiatan di TIM yang menyanyi Genjer-Genjer dilindungi polisi,” keluhnya.

Ahmad merujuk pada penyelenggaraan ASEAN Literary Festival 2016 pada 5-8 Mei lalu yang menampilkan monolog Nyanyian hening bunga Genjer sebagai salah satu acaranya.

(BACA: Kelompok Intoleransi Ancam Bubarkan Festival Sastra ASEAN)

Kemudian Ryamizard merangkum pernyataan kedua rekannya. Pertemuan tatap muka ini sangat penting bagi kita yang setia pada Pancasila dan harus waspada terhadap bahaya laten komunisme yang dipimpin PKI, ujarnya.

Ia juga mengajak ormas Islam untuk ikut menjaga Pancasila dengan ikut serta dalam program bela negara. Ancaman saat ini bersifat multidimensi karena tidak cukup hanya ditangani TNI saja, ujarnya.

Usai acara, Rappler mendatangi Ryamizard dan bertanya mengapa ia menolak Simposium 1965. Apakah ada perpecahan di kalangan purnawirawan TNI pasca Simposium?

Dengan tegas dia menjawab: “Satu Pancasila, kalau bukan Pancasila, kita berbeda pendapat,” ujarnya.

Ia pun mengaku tidak puas dengan gerakan pascasimposium, yakni penggalian kuburan massal yang dipimpin tim Menteri Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Pandjaitan.

“Ini sebenarnya merobohkan kuburan, bagaimana jika semua orang marah? Ini tidak benar,” katanya.

Agus Widjojo sendirian’

Prijanto, mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang juga purnawirawan TNI angkatan 1975, mengatakan kondisi tenang menjelang edisi Simposium ke-65 dan penggalian makam.

“Inilah yang menimbulkan perpecahan. Yang tenang, mengapa menggali kuburan? Itu tidak benar (Itu tidak benar),” katanya.

Apalagi salah satu tujuan Simposium 1965 adalah mengoreksi sejarah. Menurut Prijanto, tidak ada sejarah yang perlu dikoreksi, semuanya sudah benar.

“Bukankah sejarah benar? “Kalau mau sejarahnya benar, ke Perpustakaan Nasional saja, ada datanya,” keluhnya.

Prijanto juga mengatakan, Agus Widjojo tidak memiliki pendukung di kelompok purnawirawan TNI yang mendukungnya pada Simposium 1965.

“Tidak air garam (umumnya), Pak. Agus Widjojo saja tidak punya 10 (pendukung). Sendiri. “Mungkin dia punya satu atau dua teman,” katanya.

Apa yang dilakukan Agus dan tim Simposium 1965, kata Prijanto, ditentang sebagian besar purnawirawan TNI. “Dibantah, itu tidak benar. “Itu sesuatu yang tidak perlu lagi dipedulikan,” katanya.

Selain itu, Priyanto juga menyebut rekam jejak Agus tak pernah akur dengan sebagian besar purnawirawan TNI. “Pada masa pengabdiannya, Pak Agus merupakan penggagas pembubaran daerah tempat Babinsa berada, Babinsa adalah musuh PKI,” ujarnya.

Babinsa merupakan singkatan dari Wali Desa Bintara, salah satu kekuatan Kodam (Perintah militer).

Lalu bagaimana reaksi Agus?

Agus mengaku kepada Rappler, dirinya tidak terkejut dengan komentar negatif terhadap simposium tersebut dan dirinya secara pribadi.

“Kami adalah purnawirawan. “Setelah kita menjadi purnawirawan, kita menjadi warga sipil, kita punya pikiran yang bebas mengeluarkan pendapat,” ujarnya.

Agus mengingatkan rekan-rekannya yang lain, banyak purnawirawan selain dirinya yang akhirnya bergabung dengan kelompok dan partai politik lain. Buktinya, banyak purnawirawan TNI yang bergabung dengan partai politik berbeda, ujarnya.

Ia tak mau menyebut adanya perpecahan di kalangan purnawirawan TNI pada Simposium 1965, menurutnya wajar jika terjadi perbedaan pendapat.

Tapi sampai kapan perselisihan ini akan berlangsung? Apakah perbedaan pendapat ini nantinya akan berdampak pada hasil Simposium?

Yang jelas FUI, didukung Ryamizard dan purnawirawan TNI lainnya, mendeklarasikan simposium tandingan yang akan digelar pada 1-3 Juni. Meski belum ditentukan lokasinya, mereka menyatakan tidak akan menerima hasil apa pun dari Simposium 1965. —Rappler.com

Baca laporan lengkap Rappler pada Simposium Nasional 1965:

Data HK Hari Ini