Semua ini adalah rencana Tuhan untuk keluargaku
keren989
- 0
Intan mengaku ingin bermain bersama teman-temannya di depan gereja sebelum insiden pelemparan bom molotov terjadi
JAKARTA, Indonesia – Waktu mendekati pukul 10.00 WITA di Gereja Ekumenis di Jalan Cipto Mangun Kusumo, Desa Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda pada Minggu, 13 November. Pasangan Anggiat dan Diana terlihat duduk di barisan belakang bersama putri tunggal mereka, Intan Olivia Marbun yang masih berusia 2,5 tahun.
Sama seperti ibadah lainnya, mereka berdoa dan mendengarkan khotbah menteri dengan penuh perhatian. Saat ibadah masih berlangsung, sahabat Intan, Trinity Hutayan (3 tahun) datang dan mengajaknya bermain.
“Aku ingin bermain dengan kakakku,” kata Anggiat menirukan kalimat terakhir yang disampaikan putri semata wayangnya kepada Rappler pada Rabu, 23 November.
Namun tak lama kemudian, terdengar ledakan keras di depan pintu masuk gereja. Anggiat dan Diana langsung bergegas keluar mencari putri mereka yang diduga sedang bermain di sana.
“Saat kami keluar dari gereja dan menemukan Intan, dia sudah terbakar. Aku segera meraih tubuh Intan. “Kami panik dan meminta pertolongan untuk segera dibawa ke rumah sakit,” kata Anggiat dengan suara lirih mengingat kejadian yang memilukan itu.
Saat itu, putri kecilnya masih sadar meski tidak mengeluarkan suara. Anggiat dan Diana kerap memanggil nama putrinya, namun hanya matanya yang bergerak dan merespon.
“Kami juga belum tahu apakah dia tidak bisa bicara atau bagaimana, karena 80 persen tubuhnya mengalami luka bakar,” kata Anggiat.
Awalnya Intan dilarikan ke Puskesmas Loa Janan. Saat itu, dokter belum memberi tahu Anggiat dan Diana hasil diagnosisnya. Dia berbicara melalui anggota keluarga lainnya.
“Kami tidak bisa melihat luka bakarnya, sehingga kami tidak tahu seperti apa kondisi Intan saat itu. Namun baru-baru ini dokter merujuk Intan untuk dibawa ke rumah sakit umum, ujarnya.
Oleh karena itu Intan dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abdul Wahab Syahranie (AWS). Sayangnya, Intan tidak sadarkan diri sejak tiba di Puskesmas hingga rumah sakit. Dokter kemudian menyatakan Intan meninggal dunia pada Selasa 15 November pukul 04.00 WITA.
“Kami tidak tahu sehari sebelum kejadian itu terjadi. “Semua berjalan seperti biasa, begitu juga dengan Intan yang masih bermain,” kata Anggiat.
Masih trauma
Anggiat mengaku belum pernah mengenal atau melihat Juhanda, pelempar bom molotov yang membunuh putrinya. Hingga saat ini, warga sekitar gereja mengenal Juhanda sebagai penjaga masjid Mujahidin yang berjarak sekitar 200 meter di sebelah kiri gereja.
“Tidak ada. “Saya tidak pernah melihat orangnya,” kata Anggiat ketus.
Hampir dua minggu berlalu, pihak keluarga kini mulai menerima apa yang menimpa Intan. Nyatanya, Anggiat dan Diana tak lagi menyimpan dendam.
“Saya tulus. “Ini rencana Tuhan untuk keluarga saya, jadi biarlah hukum yang berlaku dan ditegakkan oleh polisi,” ujarnya.
Namun istrinya, Diana, masih merasa trauma. Sejak kejadian itu, ia masih belum mau kembali beribadah, termasuk ke gereja. Sementara Anggiat kembali beribadah pada Minggu kemarin.
“Tetapi kami terus berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan pasca kejadian tersebut,” ucapnya.
Anggiat dan keluarga berharap kejadian teroris ini tidak terulang kembali sehingga polisi harus memperketat keamanan di berbagai tempat ibadah. Apalagi, kata Anggiat, perayaan Natal sudah dekat.
Jenazah Intan dimakamkan di Taman Makam Kristen Putaq, Desa Loa, Duri Ilir, Kabupaten Kertanegara pada Selasa sore, 15 November. Suasana haru disertai hujan lebat mengiringi upacara pemakaman. Sementara itu, beberapa personel polisi yang berada tak jauh dari kuburan ikut memberikan pengamanan.
Diana dan Anggiat berusaha tampil tegar menyaksikan jenazah putri semata wayang mereka dikuburkan. Keduanya melepaskan Intan sambil mendoakan putrinya agar beristirahat dengan tenang. – Rappler.com