Seperti film beda agama di Indonesia: Populer tapi menghindari kontroversi
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Para sineas yang mengangkat tema cinta beda agama masih memiliki ketakutan bahwa pesan filmnya akan menimbulkan kontroversi yang tidak diinginkan
JAKARTA, Indonesia – Cinta selalu terbuka bagi siapa saja yang menginginkannya. Namun sebagian besar masyarakat Indonesia masih sulit menerima cinta universal. Agama dan etnis selalu menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan dalam hubungan cinta dalam masyarakat majemuk ini.
Film, sebagai sarana dan saluran kritik sosial yang inspiratif, tak pernah bosan menghadirkan berbagai isu cinta untuk dihadirkan kepada penonton Indonesia. Hanya saja para pembuat film ini masih memiliki ketakutan bahwa pesan filmnya akan mendatangkan kontroversi yang tidak diinginkan.
Hanung Bramantyo adalah salah satu contoh sutradara Indonesia yang kerap menjadi korban sentimen isu agama dan etnis dalam film-filmnya. Pada akhirnya, investor menjadi was-was dalam memberikan modalnya untuk film pengeluaran ini. Pada akhirnya, sutradara dan penulis skenario dengan cermat mengatur waktu konflik hingga berakhir dalam sebuah film dengan tema cinta yang berbeda.
Misalnya saja film 3 hati (2 dunia 1 cinta) Karya Beni Setiawan, meski pandai menempatkan isu-isu sensitif dalam drama komedi, namun tetap gagal meneguhkan nilai-nilai pluralisme. Akhir cerita tidak memungkinkan pasangan berbeda agama ini bisa bersatu.
Saya paham karena film ini diangkat dari novel, namun mengubah jalan cerita dari cerita yang diadaptasi dari novel adalah hal yang lumrah. Itu semua tergantung sutradara pesan apa yang ingin disampaikannya. Meski aku sangat berharap ada sudut pandang berbeda ketika membicarakan cinta lainnya.
Film biasanya menjadi pilihan paling tepat sebagai sumber inspirasi. Ketika film dakwah laris manis Frase cinta memicu perdebatan karena tokoh Maria membiarkan dirinya disiksa untuk menekan perasaan cintanya pada Fahri. Saya merasakan betapa Hanung sebagai sutradara sangat berhati-hati dalam menempatkan adegan dalam kisah cinta segitiga ini.
Saya yakin Hanung akan diberi kebebasan lebih Frase cintamaka kisah Maria bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang takut jujur dengan perasaannya karena berhadapan dengan persoalan agama.
Saya sempat bertanya-tanya apa jadinya jika China berhasil menikahi Annisa di film tersebut Cin(T)a? Akankah film ini tetap mendapat Piala Citra sebagai skenario terbaik saat itu?
Saya masih yakin isu-isu seperti ini masih penting dalam masyarakat Indonesia agar masyarakat tidak lagi mencampuradukkan iman dan percintaan. Hanung pernah mengungkapkan ungkapan cintanya yang begitu dalam Cinta tapi berbeda.
Namun film ini hanya sebatas motivasi bahwa tidak ada yang lain dalam cinta. Tidak tergambar jelas apakah kedua karakter yang sedang jatuh cinta itu menikah. Meski begitu, film ini tetap mendapat protes dan dilaporkan ke polisi.
Protes terhadap film-film semacam ini bisa menjadi pertimbangan serius dalam industri film kita. Selera pasar masih diikuti tanpa mempedulikan pesan-pesan yang dibutuhkan bangsa ini.
Waktunya menonton film Assalamualaikum Beijing Tayang, saya berharap film ini bisa menjadi angin segar atas kekeringan film bertemakan cinta universal. Sekali lagi saya kecewa. Sutradara memilih alur cerita satu sisi. Pesannya tetap bahwa cinta yang sama lebih aman daripada cinta yang lain.
Apakah kehati-hatian mengangkat tema cinta yang berbeda begitu menakutkan? Bahkan akademi film seperti Institut Kesenian Jakarta pernah menyuguhkan film pendek yang menurut saya sangat indah, Cinta.
Menurut saya, film tersebut sukses dari segi penelitian. Memang benar keluarga keturunan Tionghoa di Indonesia memandang mereka yang non-Tionghoa, begitu pula sebaliknya. Akhir cerita film pendek ini seolah memilih jalan yang paling aman meski terdapat pesan provokatif tentang sebuah pilihan.
Saya masih optimistis ke depan masyarakat Indonesia punya kebebasan memilih dengan siapa mereka akan jatuh cinta tanpa memandang agama atau suku. Saya masih menunggu film Indonesia yang bisa memberikan inspirasi untuk berani menebar cinta universal.
Noel bercita-cita menjadi pendeta dan kini menekuni industri kreatif.
Artikel Itu sebelumnya diterbitkan di Magdalena.co. -Rappler.com