Seruan ‘Boikot Kebun Binatang Bandung’ dinilai kekanak-kanakan
keren989
- 0
‘Boikot Kebun Binatang Bandung’ dianggap sebagai ajang popularitas Ridwan Kamil
BANDUNG, Indonesia – Sejumlah pihak merespons seruan boikot Kebun Binatang Bandung yang dilontarkan Wali Kota Ridwan Kamil. Ajakan ini mengundang protes dari sejumlah pihak.
Ketua Badan Musyawarah Masyarakat Sunda Memet Hamdan menilai seruan dengan tagar #boycottbonbinBDG di media sosial menunjukkan sikap kekanak-kanakan.
“Saya khawatir penyataan Ridwan Kamil hanya emosi. Kebesaran Kalau Wali Kota masih emosi, itu kekanak-kanakan. Seharusnya dia mengatakannya dengan lebih bijak penyataan,” kata Memet dalam konferensi pers “Selamatkan Kebon Satwa Bandung”, Sabtu, 14 Mei.
Menurut Memet, tidak mudah memboikot kebun binatang yang sudah menjadi fasilitas umum selama 86 tahun itu. Selanjutnya di sekitar tempat wisata yang terletak di Jalan Taman Sari Kota Bandung ini terdapat kegiatan perekonomian yang menunjang warga Bandung.
Dalam hal ini, Memet Ridwan menantang debat terbuka atau audiensi publik agar masyarakat lebih paham.
“Saya ingin menantang Ridwan Kamil untuk berdebat terbuka dengan penyataan dialah yang judulnya boikot. Mengapa demikian (seruan boikot)? Bagus aha “Walikota memboikot padahal kebun binatang sudah menjadi fasilitas umum,” ujarnya.
Senada dengan Memet, Tokoh Masyarakat Bandung, Budi Dalton, menilai Wali Kota belum dewasa dalam menyerukan boikot terhadap Kebun Binatang Bandung. Bahkan, Budi mengisyaratkan ajakan ini dijadikan peluang popularitas.
“Ada ketidakdewasaan. Faktanya, ini telah menjadi tempat yang populer. “Menurut saya, sangat tidak etis jika meminta boikot,” kata Budi yang merupakan lawan Ridwan Kamil pada Pilkada Kota Bandung 2013.
Sementara itu, Koordinator Pusat Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia Dedy Kurniawan mengatakan, bahasa boikot merupakan bahasa yang tidak pantas, apalagi disampaikan melalui media sosial yang penyebarannya bisa sangat luas. Deddy khawatir seruan boikot justru bisa mengancam keselamatan satwa di Kebun Binatang Bandung.
“Fokusnya adalah penyelamatan hewan di kebun binatang. Seruan boikot dapat menyembuhkan atau bahkan mengancam hewan lain. “Jika boikot karena dianggap lalai oleh pihak pengelola, maka seruan boikot justru akan membuat pengelola semakin lalai karena tidak mempunyai kekuatan ekonomi untuk memelihara hewan tersebut,” kata Deddy.
Sebelumnya, Ridwan menyerukan #boycottbonbinBDG menyusul meninggalnya Yani, seekor gajah sumatera warga di Kebun Binatang Bandung pada Rabu malam, 11 Mei. Ridwan menjenguk gajah berusia 34 tahun itu di kandangnya, beberapa saat sebelum kematiannya.
Ridwan mengatakan, seruan boikot tersebut merupakan upaya melawan pihak pengelola Kebun Binatang Bandung yang diduga mengabaikan Yani selama sakit.
“Baru saja beritanya masuk. Gajah yang kita lihat tadi pagi, bernama Yani, mati pada pukul 18.00. Karena itu milik pribadi, saya akan mempelajarinya dan mengupayakan tindakan hukum. “Sementara ini, mari kita lawan dengan #BoycottBonbinBDG,” tulis pria yang akrab disapa Emil itu di akun Instagramnya, @ridwankamil.
Simpan, bukan boikot
Seruan #boycottbonbinBDG dibalas sejumlah warga Bandung dengan menyerukan #saveKebonBinatangBandung.
Pegiat lingkungan hidup Sobirin Supardiyono menyarankan agar warga bahu-membahu menyelamatkan kebun binatang seluas 14 hektare tersebut. Sobirin bahkan mengajak warga mengumpulkan koin untuk Kebun Binatang Bandung.
Menurut Sobirin, jika ingin dilakukan pembenahan di Kebun Binatang Bandung, maka pembangunannya harus memiliki konsep integrasi dan negosiasi yang sangat kuat dengan gotong royong dan partisipasi masyarakat.
“Harus ada perundingan dengan warga, juga ada kesetaraan dan sinergitas di antara mereka pihak yang berkepentingan,” kata Sobirin yang juga Koordinator Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Hidup Tatar Sunda (DPKLTS).
Sobirin mengungkapkan, Kebun Binatang Bandung mempunyai sejumlah permasalahan pelik, seperti kasus sengketa kepemilikan tanah yang melibatkan Pemerintah Kota Bandung, Yayasan Margasatwa Tamansari selaku pengelola Kebun Binatang Bandung, serta warga bernama Enis dan Paiman yang mengaku sebagai bukti. kepemilikan tanah.
Namun ancamannya, kata Sobirin, adalah masuknya investor yang akan mengubah Kebun Binatang Bandung menjadi lebih modern.
“Banyak pihak yang khawatir dengan hilangnya fungsi dan keaslian Kebun Binatang Bandung akibat datangnya investor dengan unsur bisnis yang sedang berkembang,” ujarnya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa Kebun Binatang Bandung memiliki sejumlah hal yang dapat menarik minat investor. Lokasi kebun binatang di dataran tinggi Kota Bandung sangat cocok dan strategis sebagai kawasan wisata konservasi alam dan satwa.
Selain itu, koleksi satwanya juga sangat banyak, yakni mencapai 900 ekor dari 200 jenis satwa, termasuk 79 satwa langka yang dilindungi. –Rappler.com
BACA JUGA: