• February 8, 2026
Sesampainya di Indonesia, ABK TB Charles terus mengalami trauma

Sesampainya di Indonesia, ABK TB Charles terus mengalami trauma

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Sofyan melarikan diri bersama Ismail karena takut Abu Sayyaf akan mengeksekusinya.

TAKALAR, Indonesia – Salah satu awak TB Charles, Muhammad Sofyan, akhirnya bisa bernapas lega dan bisa berkumpul kembali dengan keluarganya setelah tiba di kampung halamannya di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan sepekan lalu. Ia berhasil kabur dari kelompok Abu Sayyaf yang menculiknya pada 17 Agustus lalu.

Setelah menjalani pemulihan trauma di Filipina, Kementerian Luar Negeri akhirnya menyerahkan Sofyan kepada keluarganya pada 27 Agustus. Namun tanda tanya sempat dilontarkan pihak keluarga karena Sofyan tidak bisa dihubungi oleh keluarganya, termasuk istrinya, Sri Dewi.

Namun kekhawatiran itu sirna begitu melihat Sofyan tiba di rumah. Satu per satu kerabat dan tetangga bergembira memeluk dan menyapa Sofyan. Bahkan, Dewi sempat berlinang air mata saat memeluk suaminya.

Keluarga di sini khawatir ketika kami kehilangan kontak dengan dia (Sofyan), kata Dewi yang ditemui media, Minggu 4 September.

Jawaban senada pun dilontarkan mertua Sofyan, Daeng Kenna. Ia mengaku bersyukur atas kepulangan menantunya yang sudah ditunggu-tunggunya.

“Alhamdulillah, anakku sudah datang. Kami sangat bersyukur,” kata Kenna.

Namun pihak keluarga meminta media tidak mengganggu Sofyan untuk sementara waktu. Kondisi Sofyan diyakini menjadi perhatian keluarga.

“Maaf soal ini, Sofyan masih perlu istirahat, karena masih trauma,” kata Kenna lagi.

Sedangkan menurut Dewi, suaminya masih perlu istirahat total.

“Masih tenggelam, pendengarannya juga sedikit terganggu,” kata Dewi.

Apalagi Dewi juga menyadari sikap suaminya telah berubah. Dia berubah menjadi sosok yang diam. Sejak sampai di rumah, dia tidak banyak bicara, terkadang dia hanya diam saat keluarganya berbicara dengannya.

Sofyan memilih menghindar saat Dewi menjawab pertanyaan awak media yang datang ke rumahnya.

“Saya belum bisa dimintai keterangan. Dia punya gangguan pencernaan,” kata Dewi.

Pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri membantu memperbaiki trauma yang dialami Sofyan dengan memberikan konsultasi kepada psikolog di Jakarta. Korban dan keluarganya juga dapat berkonsultasi dengan Kementerian Luar Negeri mengenai situasi yang sedang mereka hadapi.

Kekhawatiran dilakukan

Sofyan melarikan diri dengan berenang saat melarikan diri dari kelompok Abu Sayyaf. Ia tersangkut jaring yang digunakan nelayan setempat saat sedang melaut.

Sofyan memilih kabur karena para penculik mengancam akan segera memenggal kepalanya dan 6 rekannya. Selain Sofyan, ada satu lagi awak kapal yakni Ismail yang juga berhasil melarikan diri.

Ismail ditemukan oleh Tentara Filipina di Barangay Bual, Luuk, Sulu. Ismail pun diserahkan kepada keluarganya oleh Kementerian Luar Negeri pada 27 Agustus lalu.

7 awak kapal TB Charles 001 dan kapal Robby 152 diculik oleh kelompok Abu Sayyaf pada 20 Juni lalu. Penyanderaan terjadi dalam dua tahap, yakni pada 20 Juni sekitar pukul 11.30 dan sekitar pukul 12.45.

Dalam operasi penculikan pertama, mereka menangkap tiga awak kapal. Sedangkan pada penculikan kedua, kelompok bersenjata membawa empat awak kapal. Dengan kaburnya Sofyan dan Ismail, Abu Sayyaf masih menyandera 5 awak kapal TB Charles lainnya.

Saat ini, ABK WNI sudah empat kali menjadi sasaran penculikan kelompok Abu Sayyaf. Mereka diduga sengaja menculik WNI untuk mendapatkan uang tebusan. – Rappler.com

BACA JUGA:

Hongkong Pools