Sineas ‘Gerakan Mahasiswa Indonesia’: Reformasi Gagal
keren989
- 0
Tino Saroengallo menceritakan kisah di balik film dokumenter tentang reformasi, serta rencana peluncuran film tentang Pancasila.
JAKARTA, Indonesia – “Reformasi…reformasi…reformasi sampai mati…”.
Ribuan mahasiswa meneriakkan lagu slogan ini diselingi lagu mars perjuangan, dari Bangunlah anak mudasampai-sampai tidur berjejer di jalan sambil menyanyikan lagu Terima kasih. Klip video gerakan reformasi yang dipelopori oleh mahasiswa dapat kita temukan di laman media sosial YouTube.
Hari ini, 19 Mei, delapan belas tahun lalu, Jakarta mencekam. Mahasiswa yang semakin mendapat dukungan dari akademisi dan intelektual menuntut Sidang Istimewa MPR mencopot Presiden Soeharto dari tahta kekuasaannya selama 32 tahun.
Salah satu dokumentasi terlengkap mengenai pergerakan mahasiswa dibuat oleh Sangat Saroengallo. Film tersebut diberi judul Gerakan Mahasiswa di Indonesia: Dipaksa Melakukan Kekerasan film tersebut menerima penghargaan sebagai Film Pendek Terbaik pada Festival Film Asia Pasifik ke-47 di Seoul pada bulan Oktober 2002 dan Piala Citra dalam kategori Film Dokumenter Terbaik pada Festival Film Indonesia di Jakarta pada tahun 2004.
Film ini berfokus pada gerakan mahasiswa. Ada yang mempertanyakan mengapa Tino yang sebelumnya aktif sebagai jurnalis di berbagai media hanya meliput satu sisi proses reformasi: sisi mahasiswa.
“Saya membuat film dokumenter. Bukan pekerjaan jurnalistik. Jadi saya berhak memilih fokus film ini,” kata Tino kepada Rappler, Rabu, 18 Mei.
Tino awalnya hanya mendampingi kru TV asing untuk meliput proses reformasi. Di lapangan, melihat perjuangan mahasiswa dari dekat, ia semakin merasa: “Saya sudah 32 tahun dibohongi oleh Orde Baru.”
Hal inilah yang mendorong Tino membuat film dokumenter. “Film ini bisa menjadi semacam dokumentasi, sehingga nantinya kita bisa melihat perjalanan para aktivis yang berdemonstrasi di masa reformasi. Menjadi apa mereka?” kata Tino.
Film Gerakan Mahasiswa di Indonesia Itu selesai pada tahun 1999. Film ini baru bisa ditayangkan di bioskop komersial pada tahun 2002. Meski kekuasaan Soeharto berakhir dan Orde Baru memasuki era Reformasi, tidak mudah mendapatkan izin penerbitan film tersebut. Itu ditayangkan di bioskop selama sekitar 2 minggu.
Setelah itu, sulit mendapatkan sertifikat lolos sensor film untuk diputar kembali.
Lima belas tahun kemudian, pada tahun 2012, Tino diluncurkan Setelah 15 Tahunsemacam sekuel dari film dokumenter gerakan mahasiswa reformasi tahun 1998.
“Reformasi telah gagal,” adalah pesan kuat dari film ini.
Reformasi gagal sejak era (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) SBY, kata Tino yang baru-baru ini membuat film komersial.
Rappler bertemu Tino di kantor Komunitas Film Jeruk Purut, kawasan Jakarta Selatan, pada Rabu. Di ruangan tempat wawancara terdapat poster film buatan Tino, termasuk film terbaru yang akan rilis pada 2 Juni 2016: Pantja-Sila: Cita-cita dengan kenyataan.
Dia menjawab pertanyaan Rappler sambil merokok. “Maaf Ya, saya merokok,” ujarnya setelah mematikan rokoknya selama 20 menit di awal wawancara.
Mengapa Tino membuat film Gerakan Mahasiswa 1998?
“Di pusat keberadaan saya tukang suap bagi mereka (tim TV Jerman) saya terus berpikir bahwa saya telah dibohongi selama 32 tahun itu. Jujur saja. Selama 32 tahun saya mendengar betapa besar kontribusi TNI bagi republik. Bagaimana angkatan ’66 berkontribusi besar pada masa transisi Orde Lama ke Orde Baru. Saya bertanya pada diri sendiri, ini kameranya, kenapa saya tidak mencoba merekam semuanya.
“Kamu masih tidak tahu harus berbuat apa? Ini mungkin akan menjadi sesuatu suatu hari nanti, tapi setidaknya saya punya rekamannya. Aaya bisa bilang, A, dulunya idealis, sekarang dia ****g. “Si B dulunya kalem, tapi sekarang sepertinya dia tetap berpegang pada idealismenya.”
Tino juga mengatakan, “Saya tahu, tidak ada mahasiswa yang menentang penguasa tanpa ada sesuatu di baliknya.” Apa yang dimaksud Tino? Untuk lebih jelasnya tonton video ini:
Mengapa Tino membuat film dokumenter Setelah 15 tahun (Reformasi)?
“Setelah 15 tahun saya bertemu dengan beberapa tokoh yang masih idealis, saya tahu mereka masih berpura-pura idealis, dan saya tahu mereka sama sekali bukan idealis lagi. Juga yang masih bergerak, yang sudah tidak bergerak lagi.
Di Yogya saya bertemu dengan seseorang yang tidak bergerak, dia hanya santai saja. Saat ini ada anggota DPR yang pandai berpura-pura masih idealis. Temukan sendiri. Bagaimanapun, geng itu sedang mendaur ulang.”
Menariknya, menurut Tino, hampir semuanya mengatakan hal serupa.
“Sebenarnya mereka sendiri sempat gelisah saat Soeharto lengser. Mereka belum siap. Mereka sebenarnya lebih siap melawan satu musuh. Ketika Soeharto lengser, mereka kehilangan musuh. “Mereka kemudian saling berperang dan mengorganisir diri untuk menerima republik ini,” ujarnya.
Tino juga mengingatkan siswa saat itu untuk siap menghadapi kenyataan. Ini berarti?
Untuk lebih jelasnya, tonton video ini.
Setelah 18 tahun reformasi, apakah semangat yang diperjuangkan masih tetap ada? Kini hal itu muncul kembali menyapu sebuah buku yang dianggap “ditinggalkan” oleh penguasa. Bahkan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengingatkan pentingnya menganut Pancasila sebagai dasar negara.
Inikah Ide Film Terbaru Tino Tentang Pancasila?
Menurut Tino, “struktur” Pancasila telah “berubah” sebanyak 9 kali sejak 1 Juni 1945.
Apa artinya? Oh ya. Dalam film terbarunya, Tino bekerja sama dengan Tio Pakusadewo yang akan membacakan pidato Bung Karno.
Simak jawaban Tino soal film barunya di video ini.
BACA JUGA: