Singapore Airlines Gandeng Grab, Bagaimana di Indonesia?
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Banyak ide-ide segar yang lahir dari startup. Bagaimana kita menyikapinya?
Saya membaca artikel di internet beberapa waktu lalu. Ambil perusahaan taksi online diumumkan secara resmi melalui situs webnya bahwa mereka telah bekerja sama dengan maskapai Singapore Airlines.
Kerja sama ini berupa pertukaran poin. Misalnya, poin GrabRewards dapat dikonversi menjadi KrisFlyer. Artinya, pelanggan Grab kini dapat menggunakan poinnya untuk terbang bersama Singapore Airlines.
Poin GrabRewards juga dapat digunakan untuk mendapatkan diskon pembelian tiket pesawat dan untuk peningkatan kelas kursi.
Di sisi lain, pelanggan Singapore Airlines dapat memesan taksi secara online melalui aplikasi Seluler SingapuraAir. Bahkan, pelanggan Singapore Airlines bisa memesan taksi Grab dari mencurigakan. Inilah sisi yang luar biasa.
Itu harus diizinkan, dari startup (rintisan) banyak ide-ide segar yang hadir. Siapa sangka layanan penerbangan dan taksi online bisa digabungkan? Yang terpenting, penumpang yang turun di bandara bisa merasa aman karena dijamin memiliki kendaraan yang nyaman sesampainya di sana.
Layanan yang menggabungkan layanan Singapore Airlines dan taksi Grab juga akan hadir di Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, dan Indonesia. apa yang saya pikirkan Mudah-mudahan itu akan terjadi.
Meskipun mengagumi ide-ide awal taksi online, sejujurnya di Indonesia saya kebanyakan bepergian dengan kendaraan pribadi. Bahkan di kota lain saya dijemput dengan mobil Lorena Group.
Namun dari cerita teman-teman, di berbagai bandara, saya mendengar ada penumpang yang harus naik taksi resmi dari bandara. Harganya, kata mereka, relatif lebih mahal. Lebih mahal dibandingkan taksi konvensional dan jauh lebih mahal dibandingkan taksi online.
Bagaimana dengan taksi konvensional? Wah, dilarang membawa penumpang dari dalam bandara. Lantas, ketika taksi konvensional tidak diperbolehkan, bagaimana dengan taksi online?
Ingin naik taksi online? Ya, langkah pertama keluar dari pagar bandara. Bagaimana jika hujan? Ya, inilah penderitaanmu.
Tapi, setelah memikirkannya. Berapa lama taksi bandara “resmi” bisa bertahan? Apakah mungkin untuk menahan gempuran waktu? Bukankah layanan transportasi semakin hari semakin kolaboratif? Faktanya, perekonomian saat ini, ya berbagi ekonomi? Saran saya, berubahlah sebelum terlambat.—Rappler.com
Eka Sari Lorena adalah seorang wirausaha. Beliau merupakan Presiden Direktur Eka Sari Lorena Airlines dan penulis buku “Ayo Lawan Kemacetan”. Dapat dihubungi di akun Twitternya @LorenaEka1