Sulami ‘Manusia Kayu’ yang sempat dirawat di rumah sakit mulai membaik
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Tim dokter saat ini hanya melakukan rehabilitasi medis, karena kekakuan tubuh Sulami tidak memungkinkan dilakukan operasi
SOLO, Indonesia – Sejak berobat ke Dokter seminggu yang lalu. Dirujuk ke RS Moewardi Solo, Sulami yang dijuluki Manusia Kayu mendapat perawatan intensif untuk memulihkan kesehatannya, sebelum menjalani pengobatan penyakit langka yang melumpuhkan tubuhnya selama 23 tahun.
Menurut ketua tim dokter, dr Arif Nurudin SpPD, Sulami sudah mendapat layanan perbaikan gizi yang baik sejak dirawat. Hingga saat ini, gadis berusia 35 tahun itu kesulitan makan dan mengunyah. Mulutnya tidak bisa terbuka lebih dari 1,5 sentimeter karena kakunya sendi rahang sehingga menyebabkan berkurangnya asupan nutrisi.
“Kondisi pasien mulai membaik, nutrisinya terpenuhi, berat badannya bertambah, hemoglobinnya juga berangsur normal. “Pasien sendiri kondisi psikologisnya baik, memiliki semangat untuk sembuh,” kata Arif saat konferensi pers, Rabu, 1 Februari.
(BACA: Impian Sulami ‘Manusia Kayu’: Bisa Duduk dan Membungkuk)
Melalui tim dokter, perempuan asal Desa Mojokerto, Kecamatan Kedawung, Sragen ini didiagnosis mengidap penyakit autoimun yang ditandai dengan peradangan pada sendi yang disebut spondilitis ankilosa yang menyerang seluruh tubuh mulai dari leher, tulang belakang, lengan dan kaki. Penderita penyakit ini mengalami kesulitan dalam menekuk atau menggerakkan anggota tubuhnya.
Dokter telah mengidentifikasi bahwa penyakit ini disebabkan oleh kelainan genetik. Sementara itu, dunia pengobatan modern belum menemukan obat yang terbukti secara klinis dapat menyembuhkan penyakit genetik secara tuntas. Namun perkembangan penyakit ini dapat diperlambat dengan pengobatan.
Tim dokter untuk sementara memutuskan untuk tidak melakukan operasi terhadap Sulami dan memilih rehabilitasi medis sebagai solusi untuk memperbaiki kondisi umum pasien, sehingga pasien dapat hidup mandiri dan beraktivitas tanpa bergantung pada bantuan orang lain. Rehabilitasi medis berkaitan dengan pemulihan fungsi bagian tubuh yang kaku melalui kombinasi pengobatan, olahraga, dan alat bantu mobilitas.
Berdasarkan tim dokter yang ditemui akhir pekan lalu, Sulami belum bisa menjalani operasi dalam waktu dekat. Selain karena mengerasnya jaringan tulang yang menempel pada sendi, kekakuan sendi pada tulang rongga dada juga mengganggu pola pernapasan pasien sehingga dapat meningkatkan risiko tindakan pembedahan.
“Penyakit yang sudah diderita selama lebih dari 20 tahun ini menyebabkan kekakuan pada hampir seluruh sendi tubuh. Yang masih berfungsi hanyalah kedua pergelangan tangan dan jarinya. “Kami akan memberikan obat yang dapat membantu persendian agar lebih rileks,” kata Dr Rieva Ermawan SpOT (K-Spine), salah satu ahli ortopedi yang merawat Sulami.
Sementara itu, Dr. RS Moewardi kembali menerima pasien “manusia kayu” lainnya, Rodiyah (37 tahun) asal Desa Jeruk, Kecamatan Miri, Sragen, yang kini dirawat di bangsal yang sama dengan Sulami. Ia mengalami kekakuan sendi sejak tahun 2006, namun kondisinya serius dan ia tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya sama sekali.
Menurut tim dokter, Rodiyah juga mengalami penyakit autoimun, namun berbeda jenisnya dengan yang diderita Sulami, yakni artritis reumatoidjadi penanganan klinisnya juga berbeda. —Rappler.com