Tak ada jargon lagi: Jamanku bagus ya?
keren989
- 0
Saat peristiwa Mei 1998 terjadi, saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Saat itu, karena belum tahu apa itu politik dan orde baru, saya hanya bisa menatap tajam ke kotak gambar bernama televisi.
Adegan kerusuhan yang terjadi antara mahasiswa dengan polisi dan tentara masih segar dalam ingatan, termasuk perusakan gedung dan fasilitas di ibu kota serta pendudukan gedung penyu MPR oleh mahasiswa. Puncaknya adalah lengsernya penguasa orde baru, Soeharto.
Bersemangat. Itulah perasaanku saat itu. Bagaimana tidak, Soeharto sudah berkuasa selama 32 tahun lebih, dan akhirnya ia lengser.
Momen-momen jatuhnya Soeharto bisa dilihat di timeline kita. Dalam timeline tersebut dijelaskan bagaimana para mahasiswa berhasil mendesak Soeharto mundur dari jabatannya.
Namun ternyata peristiwa Mei 1998 tidak sesederhana itu. Ada membingungkan yang belum lengkap dan perlu saya kompilasi. Jadi, saya berbicara dengan beberapa aktivis tahun 1998 yang merupakan aktor sejarah dan jurnalis yang sedang meliput peristiwa tersebut.
Aksi mahasiswa di kota-kota seluruh Indonesia tidak terjadi begitu saja. Tapi itu adalah buah dari kelompok diskusi yang diadakan untuk melawan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) diluncurkan oleh Soeharto pada tahun 1980an. Organisasi pers di kampus memainkan peran yang sangat penting dalam memfasilitasi perbincangan ini.
Awal mula gerakan mahasiswa
Bagi saya aktivis mahasiswa 1998 Mugiyanto Sipin mengatakan diskusi menjadi gerakan yang lebih rapi karena banyak disebabkan oleh permasalahan lokal.
Yakni pada tahun 1993 ada pertemuan himpunan orang tua/wali mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada tempat Mugi menimba ilmu. Dalam pertemuan tersebut diputuskan orang tuanya harus membayar biaya bangunan sebesar Rp 200.000.
Bagi Mugi yang berasal dari Jepara, jumlah uang tersebut terbilang besar. Selain itu, orang tuanya juga harus membayar biaya sekolah sebesar Rp 180.000. Sumbangan ini dianggap memberatkan dan penggunaannya tidak transparan. Padahal, sepengetahuannya, fakultasnya telah mendapat dana hibah dari pemerintah. Kenapa lagi mereka bertanya kepada orang tua mereka?
Akhirnya Mugi dan teman-temannya mulai mendiskusikannya. Perselisihan ini tidak bisa dihindari. Mereka pun sepakat untuk menunjukkan solidaritas dalam bentuk demonstrasi di Fakultas Ilmu Budaya.
Di luar dugaan, banyak mahasiswa yang mengeluhkan biaya pembangunan. Kemudian solidaritas menjalar ke fakultas lain, ke satu universitas.
Mahasiswa mulai menyadari ada permasalahan yang lebih luas, bukan hanya soal uang untuk gedung, tapi juga masalah demokrasi di kampusnya sendiri. Universitas dianggap tidak independen dan suka mendikte.
Suatu hari mahasiswa UGM sepakat untuk mengadakan demonstrasi. Namun aksi mereka tiba-tiba dihadang oleh tentara.
Siswa mulai menyadari bahwa ada masalah yang lebih besar selain masalah administrasi. Yakni militerisme di kampus.
Mereka pun mulai berani membahas dwifungsi ABRI (Angkatan Perang Republik Indonesia). Mahasiswa kemudian dengan suara bulat menolak mengizinkan tentara memasuki kampus.
Setahun kemudian, pada tahun 1994, mereka sepakat membentuk Komite Penanggulangan Mahasiswa (Tegak Lima) yang diketuai oleh Andi Arief.
Panitia ini kemudian tidak hanya merangkul mahasiswa di UGM saja, namun juga di universitas lain seperti Universitas Negeri Yogyakarta dan Atmajaya.
Akhirnya terbentuklah Solidaritas Mahasiswa Yogyakarta yang kemudian berubah menjadi Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) cabang Yogyakarta.
Bagaikan bunga yang mekar di musim semi, SMID juga dideklarasikan di Surabaya, Solo, dan kota lainnya. Namun SMID Yogyakarta tetap menjadi pusat pergerakan mahasiswa di seluruh Indonesia.
Untuk pertama kalinya lahir gerakan mahasiswa yang bermula dari rasa senasib sepenanggungan. SMID kelak menjadi ruh perjuangan mahasiswa untuk menggulingkan penguasa orde baru Soeharto.
Apakah kita masih kalah?
Setelah itu, gerakan mahasiswa menyebar ke seluruh Indonesia. Banyak dari mereka mulai turun ke jalan. Hampir setiap minggu, siswa berteriak dan mengacungkan tangan.
Pihak berwenang semakin ketat. Tabrakan tidak bisa dihindari. Hingga korban pertama, Moses Gatutkaca, terjatuh. Nama Musa mungkin tak sepopuler nama murid Trisakti yang juga meninggal dunia. Musa hampir dilupakan.
Setidaknya itulah kesimpulan saya setelah berbincang dengan rekan-rekan jurnalis. Ia bahkan tidak menyangka Musa adalah korban, ia mengira Musa hanyalah nama sebuah jalan di Yogyakarta. Tanpa mengetahui sejarah dibalik nama jalan tersebut. Apakah kamu juga seperti itu?
Namun gerakan mahasiswa pada tahun 1998 semakin kuat dan meluas. Hingga akhirnya bisa memaksa Soeharto mundur.
Setelah penguasa orde baru itu mundur dari jabatannya, di televisi ada adegan pelajar bersorak, bersujud syukur, bahkan mencukur rambut.
Namun perjuangan ini harus dibayar mahal. Setidaknya 14 pelajar masih hilang, puluhan lainnya tewas, lebih dari 150 perempuan Tionghoa diperkosa tanpa pernah dibawa kasusnya ke pengadilan, Rupiah melemah dari Rp 2.000 menjadi Rp 15.000 dalam waktu singkat dan kerugian materiil lainnya.
Sementara itu, di tempat lain ada sekelompok mahasiswa yang dikejutkan dengan kabar pengunduran diri tersebut. Mereka adalah aktivis SMID.
Dalam artikel yang saya tulis berjudul Setelah patung Soeharto dibakar Kekecewaan mahasiswa ini dibenarkan oleh aktivis SMID sendiri dan jurnalis senior yang bekerja di media asing saat itu.
Menurut mereka, Soeharto memang mundur, tapi sistemnya tidak. Struktur orde baru masih kuat.
Saya pikir ada benarnya hal itu. Karena baru-baru ini saya menulis artikel Deja Vu Orde Baru. Di situ saya jelaskan tingginya angka intoleransi yang terjadi di Tanah Air.
Apalagi yang terjadi pada saya ketika menjadi pembicara di Asean Literary Festival kemarin pada sesi Remember65, sebuah platform yang memberikan ruang bagi generasi muda untuk berefleksi atas tragedi pembunuhan massal yang merenggut nyawa lebih dari 1 juta orang. miliki, untuk diceritakan. pada waktu itu.
Saat itu, acara bertema Tragedi 1965 itu diprotes kelompok pembawa panji Pancasila.
Saya sendiri turun ke lapangan untuk meliput dan berbicara dengan para pengunjuk rasa. Saya mencoba memahami mengapa mereka menolak acara yang sebenarnya bertema koreksi sejarah ini?
Seorang senior mengingatkan saya bahwa fobia terhadap tragedi 1965, yang sering diidentikkan dengan komunisme, adalah isu lama. “Usang!” dia berkata.
Klausul komunisme kala itu rupanya kerap digunakan oleh orde baru saat itu untuk melemahkan gerakan kritis di kalangan mahasiswa maupun masyarakat sipil.
Sebelum tahun 1998 misalnya, SMID sempat dinyatakan sebagai organisasi terlarang karena dituding berbau komunis. Anggotanya juga diburu.
Kini, kejadian tersebut terulang kembali. Gerakan masyarakat sipil yang kritis sekali lagi dilecehkan, diteror dan diusahakan untuk dibungkam. Mulai dari pelarangan festival Belok Kiri, pemutaran film Pulau Buru Tanah Air Beta karya Rahung Nasution, hingga pelarangan buku-buku sayap kiri yang saya tafsir kritis.
Saya mulai berpikir lagi, benarkah kita lolos dari orde baru? Kalau iya, mengapa isu komunisme dihidupkan kembali hanya untuk meredam gerakan-gerakan kritis yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan Palu Arit atau Partai Komunis Indonesia atau Marxisme?
Mungkin kita tidak menang, mungkin kita masih kalah. Mungkin reformasi yang kami deklarasikan kemarin masih salah. Barangkali Suhartoisme belum mati, ia tetap hidup di kalangan penganut ideologi fasis. Sehingga menginspirasi salah satu pihak untuk mengangkatnya sebagai pahlawan nasional.
Saat ini kita hanya bisa menunggu negara mengambil sikap untuk menegaskan dan menindak sewenang-wenang aparatnya, sebagai bukti bangsa ini pindah dari bayang-bayang Soeharto dan kroni-kroninya yang menindas. Agar tak ada lagi yang bercanda, “Piye? Aku bersenang-senang ya?” —Rappler.com
Febriana Firdaus adalah jurnalis Rappler Indonesia. Ia fokus membahas isu korupsi, HAM, LGBT, dan pekerja migran. Selain itu, ia juga menjadi produser Podcast di @Ingat65. Febro, sapaan akrabnya, bisa disebutkan @FebroFirdaus.