• March 18, 2026

Tidak ada air mata di Rumah Cinta Anak Kanker

BANDUNG, Indonesia — Lagu dinyanyikan Jangan menyerah terdengar dari sebuah rumah di Jalan Bijaksana, Kota Bandung, Jawa Barat pada Rabu pagi.

Lagu grup D’Masiv itu dinyanyikan sejumlah anak dengan suara polos. Terkadang terdengar suara orang dewasa yang menyemangati anak-anak untuk bernyanyi.

….

“Tuhan pasti akan menunjukkannya padamu

Kehebatan dan kekuasaan-Nya

Untuk pelayannya yang sabar

Dan jangan pernah menyerah

jangan menyerah”

…..

Lagu ini seolah menyampaikan semangat anak-anak yang duduk dalam formasi setengah lingkaran. Mereka bernyanyi dengan lantang meski ada yang tidak ingat liriknya.

Ayu Putri Imelda merupakan salah satu dari 9 bersaudara yang menyanyi. Suaranya paling keras dibandingkan anak-anak lain yang usianya lebih muda. Kepala gadis berusia 12 tahun itu dicukur, tidak seperti gadis remaja kebanyakan.

Seperti anak-anak lainnya, Ayu mengenakan kaos berwarna merah dan hitam. Di kaos tersebut tertulis tulisan Rumah Cinta Anak Kanker di Bandung. Dia dan teman-temannya bukanlah anak-anak biasa. Mereka adalah pejuang kanker yang berjuang untuk disembuhkan.

Rumah Cinta Anak Kanker (RCAK) Bandung merupakan rumah singgah bagi anak-anak pejuang kanker yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah. Mereka berasal dari berbagai daerah di Jawa Barat.

Ayu sendiri merupakan warga Karawang. Ayu datang ke Bandung bersama ibunya untuk menjalani kemoterapi di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) yang berjarak sekitar satu kilometer dari RCAK.

Bagi Ayu, RCAK adalah rumah keduanya. Dia mulai menjadi salah satu tamu tetap di rumah tersebut, setelah dia didiagnosis menderita leukemia pada Mei tahun lalu. Sejak saat itu, siswi SMP kelas 2 tersebut rutin berkunjung sesuai dengan jadwal pengobatannya.

“Ayu senang di sini, banyak teman-teman yang sama dengan Ayu sehingga membuat Ayu semangat,” ujarnya saat ditemui Rappler.

Wajah Ayu terlihat segar dengan pipi montok. Ia tidak tampak menderita penyakit ganas sama sekali, hanya saja rambutnya rontok akibat efek kemoterapi. Namun Ayu menerima syarat tersebut dengan lapang dada. Padahal dulunya dia memiliki rambut panjang dan indah tergerai.

“Mungkin ini cara terbaik agar Ayu sehat. “Nanti bisa tumbuh lagi,” tegasnya.

Tanpa memungut biaya

Menurut ibu Ayu, Tini Kartini, ketangguhan anak keduanya berasal dari RCAK. Di rumah, Ayu berinteraksi dengan para pejuang kanker lainnya agar bisa mengetahui apa yang akan dialaminya setelah menjalani kemoterapi.

Secara mental, Ayu mempersiapkan diri dan tak kaget saat mengalami hal tersebut. Berkumpul bersama sesama pejuang kanker juga membuat Ayu tidak merasa sendirian dalam menghadapi penyakitnya.

Tini merasa sendirian saat Ayu pertama kali didiagnosis menderita leukemia. Ibu tiga anak ini merasakan kesedihan yang luar biasa bercampur kebingungan tentang apa yang harus dilakukan untuk kesembuhan putrinya. Proses pengobatannya lama dan mahal.

Sementara jarak rumah dengan RSHS yang cukup jauh menjadi kendala bagi Tini dan Ayu. Selain itu, Ayu harus menjalani kemoterapi seminggu sekali selama 8 bulan di awal pengobatan.

Tini belum bisa memperkirakan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menjalani pengobatan tersebut. Pekerjaan suaminya sebagai buruh lepas tidak akan mampu menutupi seluruh biaya, padahal sebagian biaya akan ditanggung oleh BPJS.

“Saat itu akukosong“Saya tidak tahu Bandung, saya tidak tahu harus tinggal di mana, kalau sewa harus bayar lebih,” keluhnya.

Bantuan datang ketika seorang ibu yang memiliki kedua anak yang berjuang melawan kanker bercerita tentang RCAK. Tini kemudian mendatangi RCAK dan disambut dengan tangan terbuka.

“Ambu termotivasi karena merasakan pahitnya perjuangan menyembuhkan seorang anak. “Ini juga sebagai cara Ambu dan Abah mengenang nikmat yang mereka ambil,” kata pemilik RCAK, Dewi Nurjanah.

Sejak itu, Tini dan Ayu menginap di RCAK selama 8 bulan berobat tanpa dipungut biaya sepeser pun. Padahal, biaya hidup sehari-hari dan pembelian obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS semuanya ditanggung RCAK.

Selain materi, Tini juga merasa terbantu secara materil. Tini tak lagi merasa sendirian dalam memperjuangkan kesembuhan anaknya. Ia bisa berbagi dengan ibu-ibu lain yang bernasib sama di RCAK. Mereka bekerja sama untuk mengatasi berbagai kondisi yang terjadi.

“Dulu, air mata mengalir begitu saja. Sekarang ya Saya kuat, saya antusias. Jadi inilah waktunya untuk…menjatuhkan Selesai,” kata Tini sambil tersenyum.

Pengalaman serupa juga dialami Devi Susilawati, ibu dari pejuang kanker masa kecil, Muhammad Azka Ramdan. Devi kesulitan saat harus mendampingi anaknya berobat di RSHS karena letaknya yang cukup jauh dari tempat tinggalnya di Sumedang.

Tidak adanya tempat tinggal, atau uang untuk membeli obat, membuat istri tukang las semakin terpuruk. Belum lagi kesedihan atas penyakit anaknya yang sulit disembuhkan.

Keberadaan RCAK membantu Devi bangkit dari keterpurukan. Selama dua tahun menjalani pengobatan, RCAK selalu mendampingi Devi dan membantu kesembuhan anaknya yang berusia lima tahun.

Devi pun semakin tabah menghadapi penyakit anaknya berkat dukungan semua pihak di RCAK. Bagi perempuan berusia 27 tahun ini, RCAK adalah keluarga terdekatnya.

“Kami betah di RCAK karena kekeluargaan, kebersamaan dan saling menguatkan antar orang tua pejuang. Saat kamu di rumah, ada orang yang suka mengolok-olokmu.menjatuhkan,” kata Devi.

Pria dan wanita di belakang RCAK

Tokoh di balik RCAK adalah Supendi Wijaya dan Dewi Nurjanah. Tim suami istri ini mendirikan RCAK setelah meninggalnya putra mereka, Muhammad Rizki Ramadhan, yang menderita kanker mata.

Pengalaman mereka selama berjuang menyembuhkan Rizki menjadi pendorong berdirinya RCAK. Kedua orang tersebut tidak ingin permasalahannya selama proses pengobatan anaknya dialami oleh orang tua lainnya.

Bermodal nekat, pasangan bernama Abah dan Ambu Lutung ini mendirikan RCAK pada tahun 2011. Mereka ingin mengungkapkan perasaan kehilangan anaknya dengan tindakan positif. Bagi mereka, RCAK merupakan wujud kecintaannya terhadap Rizki dan anak-anak pejuang kanker lainnya.

“Ambu termotivasi karena dulu Ambu juga merasakan pahitnya perjuangan menyembuhkan anak. “Ini juga cara Ambu dan Abah mengenang Rizki yang mereka ambil,” kata Ambu Lutung saat berbincang dengan Rappler.

Meski modalnya sangat kecil, RCAK membantu sekitar 1.500 pejuang kanker anak-anak, meski seribu di antaranya meninggal. Saat ini, terdapat kurang lebih 300 anak pejuang kanker yang terbantu oleh RCAK. Mereka berasal dari berbagai daerah di Jabar, bahkan ada yang dari luar Jawa. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak yang menderita kanker darah atau leukemia.

RCAK terbuka bagi masyarakat miskin dari wilayah mana pun, namun dikhususkan bagi pejuang kanker yang berusia di bawah 14 tahun. Untuk membantu lebih banyak lagi anak-anak pejuang kanker keluar dari kemiskinan, RCAK bahkan menggalang dana bagi para pejuang kanker yang tidak bisa datang ke Bandung sendirian. Cara ini disebut Cross Comotnitas.

“Masyarakat miskin dimanapun yang memiliki anak penderita leukemia atau kanker, jangan takut untuk khawatir di Rumah Cinta. Kalau penderita leukemia di Cirebon tidak bisa datang ke sini, beritahu saja. Jika dia tidak punya uang, kami akan datang dan menjemputnya. Namanya Lintas Comotnitas, dipetik sampai matang, kata Ambu Lutung sambil tertawa.

Jika ada yang menangis, Ambu menyuruh mereka menangis di kamar mandi, untuk menyeka air matanya. Di sini tidak ada air mata lagi, di sini tidak ada hati yang patah semangat, pikiran-pikiran kotor dibuang.”

Meski bermodal nekat, RCAK sudah berjalan hampir 6 tahun dan dalam kurun waktu tersebut telah membantu ribuan pejuang kanker berkat bantuan para donatur. Saat ini RCAK sudah memiliki ambulans dan rumah yang bisa disinggahi para pejuang kanker, meski masih disewakan.

Selain menyediakan tempat tinggal, RCAK juga membantu menyediakan obat-obatan yang tidak ditanggung oleh BPJS, mendampingi dan menjelaskan tata cara pengobatan di rumah sakit, menyediakan makanan dan minuman bagi para pejuang kanker dan orang tuanya, serta kebutuhan sehari-hari lainnya, termasuk biaya bagi para pejuang untuk mudik.

Selain bantuan dana dari donatur, RCAK juga memproduksi dan menjual bumbu non MSG dan tempe kering Rumah Cinta. Hal itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga RCAK.

Terkadang, aku Ambu Lutung, ia kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Meski demikian, Ambu tak menjadikan hal tersebut sebagai kendala serius. Dia yakin seseorang telah mengatur peruntungannya.

Alhamdulillah, Allah selalu memberikan kebahagiaan kepada kita, walaupun kita tidak berlandaskan dan tidak pernah meminta kepada siapapun, namun kebahagiaan selalu ada yang datangnya dari Allah. Ambu bersyukur, yakin Allah akan selalu memberikan rezeki untuk orang-orang ini, perantaranya bisa lewat Ambu,” kata Ambu yang sendiri menjalankan RCAK sejak ditinggal Abah Lutung bekerja di luar kota.

Tak hanya kebutuhan fisik, pemenuhan kebutuhan psikis pesilat dan orang tuanya juga tak kalah penting. Ambu benar-benar merasakan betapa terkuras emosinya saat mendampingi anaknya berjuang melawan kanker.

Karena itu, ia selalu siap membuka hati dan bahunya untuk bersandar ketika para orang tua pejuang kanker itu terpukul dengan kondisi anaknya. Namun jangan sampai Ambu melihat orang tua menangis di depan anaknya, wanita berusia 42 tahun ini akan melarang kerasnya.

“Saya khawatir Ambu tidak menitikkan air mata di depan para petarung ini menjatuhkan. Terkadang ada pasien baru yaitu ibu menjatuhkan, terus menangis di depan anak itu, Ambu marah. Marah karena begitu sayang terhadap anak, terhadap orang tua. Jika ada yang menangis, Ambu menyuruh mereka menangis di kamar mandi, untuk menyeka air matanya. “Di sini tidak ada air mata lagi, di sini tidak ada hati yang galau, pikiran kotor dibuang begitu saja,” kata Ambu.

Oleh karena itu tidak salah jika di RCAK tidak terlihat kesedihan atau penderitaan warganya. Namun yang terlihat adalah semangat dan kebersamaan para ibu serta kegembiraan anak-anak yang berjuang melawan kanker.

Mereka bermain dan bercanda seperti anak-anak sehat lainnya. Sedangkan ibu-ibu saling berbagi, saling menguatkan dan saling memotivasi. Tak ada kesedihan, namun ada cinta di Rumah Cinta Anak Kanker. —Rappler.com

lagu togel