• March 29, 2026
Tidak ditemukan nama Gaj Ahmada di dalam buku tersebut

Tidak ditemukan nama Gaj Ahmada di dalam buku tersebut

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Yang viral itu bohong, tidak disebutkan nama Gaj Ahmada di buku itu, kata Ashad.

YOGYAKARTA, Indonesia – Lembaga Kebijaksanaan dan Kebijakan Umum Pengurus Daerah (LHKP) Muhammadiyah Yogyakarta membantah nama “Gaj Ahmada” muncul dalam buku berjudul Kesultanan Majapahit. Ungkapan “Gaj Ahmada” yang diambil dari nama Mahapatih, salah satu kerajaan terbesar di nusantara, menjadi perbincangan hangat di kalangan netizen akhir pekan lalu.

Rupanya netizen sedang heboh soal apakah Mahapatih Gajah Mada benar-benar masuk Islam. Selain itu, Kerajaan Majapahit bukanlah Kerajaan Hindu seperti yang dipelajari dalam buku-buku sejarah.

Ketua Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) yang membidangi LHKP Ashad Kusuma Djaya mengatakan, buku Kesultanan Majapahit terbit sekitar tahun 2008 hingga 2010. Buku tersebut tampaknya memuat hasil diskusi antara peneliti Herman Sinung Janutama dan komunitas Turangga Seta.

“LHKP saat itu menilai hasil pembahasan tersebut layak untuk dicatat dan dicatat dalam bentuk buku. “Jadi, LHKP yang sudah memiliki izin dan persyaratan pencetakan lainnya, kemudian mencetak hasil pembahasannya dalam bentuk buku,” kata Ashad, Minggu, 18 Juni.

Dikatakannya, apabila ada pihak yang merasa tidak setuju dengan isi buku tersebut, maka LHKP bersedia memfasilitasi pembahasan mengenai wacana tersebut, kemudian membandingkannya dengan hasil penelitian sebenarnya. Nama LHKP disematkan karena selain memiliki izin penerbitan, pembicaraannya juga terjadi di kantor pusatnya.

Namun, dia menjelaskan, hasil penelitian Herman tidak menyebut nama Gaj Ahmada.

“Yang viral itu bohong, tidak disebutkan nama Gaj Ahmada di buku itu. “Kami hanya menerbitkan bukunya saja, tapi isinya masih hasil penelitian Herman,” ujarnya.

Menurut dia, saat itu tidak hanya pembahasan hasil penelitian Herman yang mendapat fasilitas dari LHKP, tapi juga pembahasan pemikiran agama lain bernama Yonathan.

“Kami juga memfasilitasi diskusi oleh seorang biksu Buddha bernama Sifu Yonathan,” ujarnya.

Namun, ia kembali mengingatkan, jika ada pembaca atau sejarawan yang tidak setuju dengan hasil penelitian dalam buku tersebut, LHKP memberikan ruang untuk berdiskusi. Ashad mengatakan, mereka belum mengetahui hasil penelitian Herman. Itu sebabnya mereka tidak peduli jika ada keberatan.

“Sekaligus, LHKP akan memberikan fasilitas diskusi dengan para penelitinya,” kata Ketua PDM yang membawahi Majelis Tabligh dan Majelis Tarjih Yogyakarta itu. – Rappler.com

Data Sidney