• March 17, 2026

Tiga bek yang selalu mempersulit keadaan

Italia membalas dendam pada final Euro 2012.

JAKARTA, Indonesia – Sepanjang turnamen besar, Italia selalu kalah dengan Spanyol. Nama panggilan tim Biru Mereka kalah di perempat final Euro 2008, semifinal Piala Konfederasi 2013, dan yang paling menyakitkan, kalah 4-0 dari Spanyol di final Euro 2012.

Namun empat tahun kemudian, banyak hal telah berubah. Italia dan Spanyol bernasib sama di Piala Dunia 2014. Tak satu pun dari mereka bisa lolos dari babak penyisihan grup.

Italia juga tidak lagi bersama pelatih (pelatih) Cesare Prandelli. Sosoknya digantikan oleh Antonio Conte.

Oleh karena itu, kekalahan telak 4-0 di laga puncak Euro 2012 kemungkinan besar tidak akan terulang kembali. Apalagi sejak final yang menguras emosi jutaan suporter Italia, pasukan Conte menahan imbang Spanyol 1-1 dalam laga persahabatan di Udine pada 24 Maret lalu.

Alhasil, pertarungan kedua tim yang kali ini dihelat di Stade de France, Saint-Denis, Senin 27 Juni pukul 23.00 WIB akan berlangsung sangat ketat.

Italia sudah paham dengan gaya permainan pasukan Vicente del Bosque. Mereka akan bermain secara taktis. Mereka tidak akan memainkan permainan penguasaan bola seperti biasanya Kemarahan Merah—Nama panggilan Spanyol.

Tim besutan Antonio Conte akan lebih banyak menunggu di lini belakang untuk kemudian menyerang balik.

Dengan mantan pelatih Juventus itu, skema 3-5-2 Italia berbeda. Sebelumnya, ketika ada Andrea Pirlo, pemain yang kini bermain di Major League Soccer, Amerika Serikat berperan sebagai dalang serangan. Keempat pemain yang ada disekitarnya mempunyai tugas untuk melindunginya dan menjaganya dari tekanan lawan.

Pirlo akan mundur untuk menghindari tekanan lawan dan melakukan umpan silang akurat ke sayap dan depan.

Di tangan Conte, skema yang berkembang sejak era Prandelli berbeda. Pirlo tidak lagi bersama Biru. Pilihan di lini tengah untuk mengemban misi yang sama ada di tangan Daniele De Rossi.

Namun, gelandang AS Roma itu tak mengulangi apa yang dilakukan Pirlo. Italia saat ini bermain menggunakan semua lini untuk mendukung serangan.

Serangan tidak harus dimulai dari De Rossi. Padahal, umpan-umpan kunci bisa diciptakan langsung dari lini belakang. Gol Emanuele Giaccherini ke gawang Belgia di babak penyisihan grup merupakan hasil umpan Leonardo Bonucci.

Bersama Conte, kesadaran mencetak gol bukan hanya dimiliki para penyerang. Tapi semua pemain. Oleh karena itu, setiap kali seorang pemain membawa bola, apapun posisinya, mereka langsung berpikir untuk melakukan umpan kunci atau bahkan gol. membantu.

Tak heran jika Giaccherini yang posisinya sebenarnya berada di belakang duo penyerang tiba-tiba mampu melesat ke depan kotak penalti lawan saat bek Belgia cuek.

Spanyol kesulitan menghadapi tiga beknya

“Ada suatu masa ketika Spanyol memenangkan semua gelar. Tapi setiap menghadapi Italia, mereka selalu harus bekerja sangat keras,” kata kapten sekaligus kiper utama Italia, Gianluigi Buffon. dikutip dari Football Italia.

Ya, selain final Euro 2012, Italia selalu merepotkan Spanyol. Permainan passing pendek mereka kerap membentur tembok pertahanan Italia yang dikenal tangguh baut.

Mereka juga tidak pernah ingin memainkan permainan bola pendek khas Spanyol. Italia lebih banyak menunggu di belakang untuk menyerang dengan cepat.

Apalagi, trio pertahanan Juventus Giorgio Chiellini, Leonardo Bonucci, dan Andrea Barzagli merupakan trio pertahanan paling solid di Italia. Setiap kali tim diserang, dua sayap akan turun. Artinya lini belakang dijaga lima pemain bertahan.

Sedangkan 3 gelandang akan lebih memberikan tekanan kepada lawan yang berusaha membangun serangan.

Saat serangan tim gagal, kedua bek sayap tidak langsung mundur. Mereka harus segera menghentikan bola yang baru dibangun lawan. Alhasil, formasi 3-5-2 Italia tidak terlihat dominan, namun efektif meredam lawan.

Laga melawan Belgia yang berakhir 2-0 menjadi contoh sempurna penerapan sistem ini.

Vicente Del Bosque mewaspadai situasi ini. “Kami menghadapi tim dengan pertahanan solid dan serangan hebat. Mereka mampu bekerja sangat baik di dua kotak penalti,” kata Del Bosque.

Posisi Italia sedikit lebih baik karena Spanyol kerap kesulitan melawan tim yang memiliki 3 bek. Seperti yang terjadi saat melawan Chile di babak penyisihan grup Piala Dunia 2014.

Saat itu, Spanyol yang datang sebagai juara bertahan kalah 0-2 yang merah-julukan Chili.

Meski demikian, Del Bosque menegaskan situasi serupa tidak akan terulang lagi. “Kami mengubah beberapa hal. Semua orang sekarang tahu apa yang harus dilakukan. Italia bermain dengan cara yang sama di Udine dan kami cukup kesulitan,” katanya.

Mantan pelatih Real Madrid itu menegaskan, tim tidak akan mengubah cara bermainnya untuk meraih kemenangan. Ia tetap yakin sepak bola Spanyol tetap menjadi sistem terbaik.

“Sistem 3 bek benar-benar menyulitkan kami. Tapi kami akan tetap menampilkan permainan kami. Italia akan kesulitan karena harus beradaptasi,” ujarnya.—Rappler.com

BACA JUGA:

Toto HK