• April 5, 2025
Tiga isu penting dalam pertemuan bilateral Jokowi-Najib

Tiga isu penting dalam pertemuan bilateral Jokowi-Najib

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Isu keamanan di perairan Sulu menjadi fokus kedua pemimpin tersebut karena warga negara Malaysia dan Indonesia menjadi sasaran penculikan kelompok militan Abu Sayyaf.

JAKARTA, Indonesia – Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengadakan pertemuan forum konsultasi bilateral dengan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak, pada Senin sore, 1 Agustus. Ini merupakan pertemuan bilateral pertama di Jakarta setelah keduanya bertemu di Istana Bogor tahun lalu untuk membahas kabut asap.

Dalam pertemuan bilateral tersebut, Indonesia membahas 3 isu utama yaitu penetapan batas wilayah, kerja sama keamanan di perairan Sulu dan lingkungannya, serta kerja sama perlindungan warga negara Indonesia (WNI).

Terkait permasalahan perbatasan, kedua negara telah melakukan 29 kali perundingan teknis perbatasan laut sejak tahun 2005 hingga awal tahun 2016. Perundingan teknis pertanahan dilakukan pada tanggal 15-17 Maret di Jakarta.

“Untuk mempercepat proses perundingan perbatasan laut, Indonesia dan Malaysia menunjuk Utusan Khusus yang ditunjuk oleh kedua kepala pemerintahan pada Juli 2015. Malaysia menunjuk Tan Sri Mohd. Radzi Abdul Rahman, sedangkan Indonesia memilih Dubes Eddy Pratomo,” kata Kementerian Luar Negeri dalam keterangan tertulis yang diperoleh Rappler, Senin, 1 Agustus.

Sementara itu, persoalan keamanan di wilayah perairan Sulu menjadi perhatian kedua negara seiring dengan banyaknya warga negara Indonesia dan Malaysia yang menjadi korban penculikan kelompok bersenjata Abu Sayyaf (ASG). Sebanyak 5 warga negara Malaysia kembali diculik ASG di perairan Lahad Datu pada 18 Juli lalu. Meskipun diklaim sebagai perairan yang aman, klaim yang tumpang tindih berarti bahwa ASG dapat menculik orang-orang di wilayah tersebut.

Di kawasan itu, 3 WNI diculik pada Sabtu malam, 9 Juli. Sebelumnya, ada 7 WNI yang diculik pada Juni lalu.

“Malam ini Menhan berangkat ke Bali. Menteri Pertahanan Malaysia juga berangkat ke Bali untuk mengadakan pertemuan trilateral. “Ini merupakan distraksi dari apa yang kita lakukan di Yogyakarta pada tanggal 5 Mei,” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi usai mendampingi Presiden Jokowi menemui PM Najib di Istana Negara, Senin, 1 Agustus.

Sebelumnya, pertemuan trilateral dijadwalkan di Kuala Lumpur, namun dibatalkan. Retno berharap Standar Operasional Prosedur (SOP) patroli bersama ini dapat segera terwujud.

Lalu bagaimana realisasi SOP ini? Mantan Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda ini menjelaskan, yang dibicarakan selama ini adalah pembentukan koridor yang bisa dilalui oleh militer ketiga negara tersebut.

“Dengan dibangunnya koridor-koridor tersebut, kita akan lebih mudah menjaga keamanan,” kata Retno.

Sementara itu, kata Retno, penempatan pengawal militer di setiap kapal yang berlayar masih perlu dipertimbangkan. Retno mengatakan, sebelum pengerahan pasukan militer terealisasi, ketiga negara juga harus mempertimbangkan ketentuan terkait dalam Organisasi Maritim Internasional (IMO) dan aturan internasional lainnya.

Perlindungan WNI menjadi salah satu fokus utama yang juga dibahas kedua kepala negara. Hal ini tak mengherankan, sebab berdasarkan data Kementerian Luar Negeri, saat ini terdapat 1.393.819 WNI yang berada di Negeri Jiran. Mereka tinggal di sana sebagai pelajar, pekerja, dan wisatawan.

Belum lagi ada ratusan WNI yang terancam hukuman mati di Malaysia. Kebanyakan dari mereka juga terlibat kasus narkoba.

“Saya setuju dengan gagasan presiden mengenai isu perlindungan pekerja. Mereka harus dikirim melalui jalur resmi dan harus didaftarkan jika bekerja di Malaysia. Selain itu, mereka juga perlu meningkatkan kemampuannya, kata Najib saat memberikan keterangan pers di Istana Negara.

Menindaklanjuti, kata Najib, Satgas II Kementerian Ketenagakerjaan telah diminta untuk bertemu dan membahas hal tersebut.

Kedua kepala negara kemudian menandatangani dua dokumen kerja sama di akhir forum konsultasi tahunan. Kedua dokumen tersebut adalah Perjanjian Negara Tuan Rumah Sekretariat Dewan Negara Penghasil Minyak Sawit dan Perjanjian Kerangka Integrasi Perbankan ASEAN antara OJK dan Bank Negara Malaysia.

Najib akan berada di Indonesia hingga Rabu. Pada Selasa, 2 Agustus, ia juga menjadi keynote speaker pada forum World Islamic Economic Forum (WIEC) di Jakarta Convention Center (JCC). – dengan laporan ANTARA/Rappler.com

BACA JUGA:

Toto HK