• March 4, 2026

Tiga Mahasiswa Meninggal, Rektor UII Akui Terjadi Kekerasan

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Tiga peserta Mapala UII tewas saat pelatihan dasar pecinta alam

YOGYAKARTA, Indonesia – Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Harsoyo mengatakan panitia pendidikan dasar pecinta alam di kampusnya mengakui adanya kekerasan terhadap peserta yang menewaskan tiga mahasiswa.

“Bentuk yang digambarkan anak-anak itu dipukul dengan ranting, bukan rotan. Menurut cerita panitia, saat itu sedang hujan. “Banyak kerikil, pasir yang tergores, merayap,” kata Harsoyo, Selasa, 24 Januari 2017.

Menurut Harsoyo, pelatihan dasar pecinta alam yang dilakukan Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) UII berlangsung di Desa Gondosuli, Kecamatan TawangmanguDaerah KaranganyarJawa Tengah diikuti 35 peserta.

Edukasi sedianya digelar hingga Minggu, 22 Januari 2017. Namun acara ini terhenti pada hari Jumat karena salah satu peserta yakni Muhammad Fadli meninggal dunia. Dia diyakini meninggal setelah diserang oleh seniornya.

Pihak kampus kemudian langsung membubarkan acara dan mengirimkan bus ke lokasi untuk menjemput peserta. Bus tiba di sana pada Jumat malam dan tiba di sini pada Sabtu dini hari, kata Harsoyo.

Saat itu, lanjut Harsoyo, seluruh peserta langsung memeriksakan kesehatannya ke Rumah Sakit Internasional Jogja (JIH). Rencananya mereka akan diperiksa ulang pada Selasa, 24 Januari 2017. Namun, sebelum pemeriksaan ulang bisa dilakukan, dua siswa lainnya tiba-tiba tewas.

(Membaca: Diduga Dianiaya Senior, Tiga Mahasiswa Mapala UII Tewas)

Mereka adalah Syaits Asyam (19) dan Ilham Nurpadmi Listia Adi (20). Asyam meninggal pada Sabtu sore, sedangkan Ilham meninggal pada Senin tengah malam. Keduanya meninggal di RS Betjesda Yogyakarta. Sehingga total korban tewas menjadi tiga orang.

(Membaca: Kisah tragis meninggalnya tiga pecinta alam)

Pihak kampus menyampaikan belasungkawa pada Selasa, 24 Januari 2017 melalui akun Twitternya. Berlatar belakang hitam, mereka meminta maaf kepada keluarga korban dan meyakinkan kasus ini akan diusut tuntas.

Selain tiga orang tewas, sejumlah peserta pelatihan juga mengalami luka-luka. Salah satunya Abiyan Razaki (19 tahun) yang harus dirawat di Rumah Sakit Internasional Jogja (JIH) hingga Selasa lalu.

Harsoyo mengatakan, pihaknya saat ini telah membentuk tim khusus untuk mengusut kasus tersebut. Tim tersebut terdiri dari sejumlah ahli seperti psikolog, dokter forensik, dan juga pimpinan mahasiswa fakultas yang mengikuti pelatihan tersebut.

Menurutnya, saat pelatihan berlangsung, tidak ada perwakilan kampus yang berada di lokasi. Kampus tersebut baru hadir saat para mahasiswa dilepas ke lokasi pelatihan yang berjarak sekitar 3-4 jam perjalanan dari Kota Yogyakarta. “Semua dari Mapala. “Sistem kita adalah Student Government, tanggung jawab UKM masing-masing,” kata Harsoyo.

Keluarga almarhum melaporkan hal ini ke polisi. Kapolres Karanganyar AKBP Ade Safri Simanjuntak bahkan membentuk tim untuk mengusut kasus ini. Sejumlah saksi akan segera dipanggil.

“Kami kirimkan tim, hari ini mereka berangkat ke Yogyakarta untuk memeriksa 11 orang saksi, khususnya teman korban,” kata AKBP Ade Safri. “Saya berharap mereka memberikan informasi yang benar.” —Rappler.com

unitogel