• March 4, 2026

Tiga warga Sulawesi Selatan kembali menjadi korban penculikan di perairan Malaysia

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Penculikan tersebut diduga terjadi pada Rabu 18 Januari saat kapal sedang melaut di perairan Malaysia

MAKASSAR, Indonesia – Pada Rabu, 18 Januari, WNI kembali menjadi korban penculikan kelompok militan. Pelaku penculikan tersebut diduga adalah kelompok Abu Sayyaf yang kerap menangkap WNI dan WNA lainnya untuk mencari uang.

Kepastian penculikan ketiga warga Sulsel disampaikan Kapolres Kepulauan Selayar AKBP Eddy Suryantha Tarigan. Ia mengaku memperoleh informasi tersebut dari Konsulat Republik Indonesia (KRI) di Tawau, Malaysia Timur. Ketiga korban penculikan tersebut merupakan awak kapal penangkap udang Sandakan dengan nomor kapal BN 838/4/F.

“Kami mendapat informasi dari Konjen KRI Tawau bahwa ada dua warga Kepulauan Selayar, Indonesia, yang menjadi korban penculikan. “Kami diminta mendatangi rumah keluarga korban untuk memberikan kabar terkait penculikan tersebut,” kata Eddy yang dikonfirmasi kepada Rappler melalui telepon, Jumat, 20 Januari.

Sedangkan satu warga sisanya berasal dari Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba.

Informasi mengenai penculikan tersebut pertama kali disampaikan oleh personel Penjaga Pantai Taganak di Filipina selatan. Mereka menemukan kapal itu bergerak dan mesinnya masih hidup. Namun berdasarkan perkiraan mereka, penculikan tersebut tidak terjadi di Filipina selatan.

Kemungkinan besar penculikan itu terjadi di perairan Sandakan, Sabah, Malaysia.

“Dengan situasi keamanan saat ini, kecil kemungkinan nelayan Indonesia berani berlayar ke Filipina,” kata Eddy menirukan pernyataan pejabat di KRI Tawau.

Meningkatkan perekonomian keluarga

Diketahui, ketiga awak kapal tersebut berinisial SS (26 tahun), H, dan S. SS dan H mengadu nasib di Malaysia untuk meningkatkan perekonomian keluarganya. Namun belum genap dua tahun bekerja di sana, keduanya menjadi korban penculikan.

“Mereka mulai merantau sejak Oktober 2015 dan bekerja sebagai nelayan di kampung orang lain,” kata Eddy.

SS awalnya berangkat ke Nunukan bersama pamannya, H. Mereka berangkat dari kampung halamannya di Pulau Bembe. Tak lama kemudian, SS dan H digandeng S, warga Kabupaten Bulukumba.

Dari Nunukan, ketiganya kemudian menyeberang ke Negeri Jiran dan diasuh oleh keluarga H, M. Arsyad. Sehari-harinya mereka beraktivitas sebagai nelayan di kapal pukat udang.

“Sepengetahuan kami, H berperan sebagai nakhoda kapal. Sedangkan SS dan S merupakan awak kapal H, kata Eddy.

Tidak yakin akan diculik

Ini merupakan kasus penculikan pertama yang menimpa WNI pada tahun 2017. Sebelumnya, pada tahun 2016, pemerintah Indonesia berhasil membebaskan 25 awak kapal yang diculik oleh kelompok Abu Sayyaf.

Ada 4 awak kapal lainnya yang masih dalam proses pembebasan. Mereka juga diculik di perairan Sabah, Malaysia.

Meski mendapat konfirmasi dari Polsek Selayar, Kementerian Luar Negeri belum bisa memastikan apakah ketiga WNI yang hilang itu diculik oleh kelompok militan.

Pemilik kapal berusaha berkomunikasi dengan awak kapal namun tidak berhasil, kata Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri Lalu Muhammad Iqbal melalui pesan singkat, Jumat malam, 20 Januari.

Berdasarkan informasi pemilik kapal, ketiga WNI tersebut sah bekerja di Malaysia.

“Pihak berwenang Malaysia masih menyelidiki insiden tersebut. Oleh karena itu, belum bisa dipastikan ketiga WNI tersebut diculik, kata Iqbal.

Perwakilan RI di Tawau dan Kinabalu sudah menuju lokasi hilangnya kapal dan sedang berkoordinasi dengan pihak terkait. – Rappler.com

uni togel