• April 8, 2026
TIMELINE: Hari-hari kejatuhan Soeharto

TIMELINE: Hari-hari kejatuhan Soeharto

JAKARTA, Indonesia – Penguasa Orde Baru yang berusia 32 tahun, Suharto, jatuh pada Mei 1998 berkat kekuasaan sipil.

Namun Soeharto diyakini tidak benar-benar tumbang. Penulis Pramoedya Ananta Toer yang juga mantan tahanan politik dan diasingkan ke Pulau Buru, pernah mengomentari jatuhnya Soeharto.

“Mereka banyak bertanya kepada saya: Apakah Anda suka Harto kini tumbang? Oh, kataku, jatuhnya Soeharto hanyalah badut. Jika dia benar-benar jatuh, dia lari ke luar negeri. “Karena dia belum ke luar negeri, berarti dia masih memerintah lewat tangan lain,” Pramoedya berkata sinis.

Sindiran tersebut ditujukan kepada BJ Habibie, penerus Soeharto saat itu. Namun, upaya menuntut Soeharto mundur tidak bertahan satu dua hari.

Berikut momen tumbangnya penguasa Orde Baru yang juga dijuluki Bapak Pembangunan yang dirangkum Rappler dari bermacam-macam sumber:

5 Maret 1998

Dua puluh mahasiswa Universitas Indonesia (UI) mendatangi gedung DPR/MPR RI di Jakarta untuk menyuarakan penolakan terhadap pidato pertanggungjawaban presiden yang disampaikan pada Sidang Umum MPR dan menyampaikan agenda reformasi nasional. Mereka diterima oleh Fraksi ABRI.

11 Maret 1998

Soeharto dan Habibie dilantik sebagai presiden dan wakil presiden.

14 Maret 1998

Soeharto mengumumkan kabinet baru yang disebut Kabinet Pembangunan VII.

15 April 1998

Soeharto meminta mahasiswa untuk mengakhiri demonstrasi dan kembali ke kampus, karena sepanjang bulan ini mahasiswa dari beberapa universitas swasta dan negeri menggelar demonstrasi menuntut reformasi politik.

18 April 1998

Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima TNI Jenderal Purnawirawan Wiranto dan 14 Menteri Kabinet Pembangunan VII melakukan dialog dengan mahasiswa di Pekan Raya Jakarta, namun sejumlah perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menolak dialog tersebut.

1 Mei 1998

Suharto melalui Hartono, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Penerangan Alwi Dachlan, mengatakan reformasi baru bisa dimulai pada tahun 2003.

2 Mei 1998

Pernyataan tersebut dikoreksi dan Soeharto kemudian disebut-sebut mengatakan reformasi bisa dilakukan pada tahun 1998.

4 Mei 1998

Mahasiswa di Medan, Bandung dan Yogyakarta menyambut baik kenaikan harga BBM (2 Mei 1998) dengan demonstrasi besar-besaran. Demonstrasi berubah menjadi kerusuhan ketika pengunjuk rasa bentrok dengan petugas keamanan. Di Universitas Pasundan Bandung misalnya, 16 mahasiswa terluka akibat tabrakan tersebut.

5 Mei 1998

Protes mahasiswa besar-besaran terjadi di Medan hingga berujung pada kerusuhan.

9 Mei 1998

Soeharto berangkat ke Kairo, Mesir untuk menghadiri pertemuan puncak G-15. Ini merupakan kunjungan terakhirnya ke luar negeri sebagai Presiden Republik Indonesia.

12 Mei 1998

Aparat keamanan menembak empat mahasiswa Trisakti yang melakukan aksi damai. Keempat mahasiswa tersebut ditembak saat berada di kampus.

13 Mei 1998

Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi mendatangi kampus Trisakti di Grogol, Jakarta Barat untuk menyampaikan belasungkawa. Kegiatan tersebut diwarnai dengan kerusuhan.

14 Mei 1998

Soeharto mengaku bersedia mundur jika masyarakat menginginkannya. Hal itu disampaikannya dihadapan masyarakat Indonesia di Kairo.

Sementara kerusuhan dan penjarahan terjadi di beberapa pusat perbelanjaan di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek). Beberapa bangunan mal rusak dan terbakar. Sekitar 500 orang tewas akibat kebakaran yang terjadi saat kerusuhan.

15 Mei 1998

Soeharto tiba di Indonesia setelah mempersingkat kunjungannya ke Kairo. Dia membantah mengatakan dia siap mengundurkan diri.

Suasana Jakarta masih mencekam. Banyak toko yang tutup. Beberapa warga masih takut keluar rumah.

16 Mei 1998

Orang asing berbondong-bondong kembali ke negaranya. Suasana di Jabotabek masih mencekam.

19 Mei 1998

Soeharto memanggil 9 tokoh Islam seperti Nurcholis Madjid, Abdurachman Wahid, Malik Fajar dan KH Ali Yafie. Dalam pertemuan yang berlangsung hampir 2,5 jam itu, para tokoh menjelaskan situasi terkini, dimana elemen masyarakat dan mahasiswa masih menginginkan Soeharto mundur.

Soeharto menolak permintaan tersebut. Ia kemudian mengusulkan pembentukan Komite Reformasi. Soeharto saat itu menegaskan bahwa dia tidak ingin terpilih kembali sebagai presiden. Namun hal tersebut tidak mampu meredam aksi massa karena semakin banyak mahasiswa yang datang ke gedung DPR/MPR RI untuk berdemonstrasi.

Sementara itu angka reformasi Amin Rais mengajak massa untuk datang ke Lapangan Peringatan Nasional dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional.

20 Mei 1998

Jalur menuju kawasan Monumen Nasional (Monas) dihadang petugas dengan pagar kawat berduri untuk mencegah massa memasuki kompleks Monas, namun tidak dilakukan mobilisasi massa.

di awal pagi, Amin Rais meminta massa tidak datang ke Lapangan Monas karena khawatir kegiatan tersebut akan memakan korban jiwa. Sementara ribuan mahasiswa tetap bertahan dan semakin banyak yang datang ke gedung DPR/MPR RI. Mereka terus mendesak Soeharto untuk mundur.

21 Mei 1998

Di Istana Merdeka, Kamis pukul 09.05 WIB, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya dari kursi presiden. BJ Habibie dilantik sebagai Presiden ketiga Republik Indonesia. —Rappler.com

HK Prize