• March 23, 2026

Ulangi 17 Agustus di Kota Proklamasi: Pahlawan Tidak Dihitung

JAKARTA, Indonesia – Perayaan kemerdekaan Indonesia dengan upacara bendera di sekolah atau lembaga berlangsung setiap tahun. Merayakannya dengan lomba-lomba merupakan hal yang lumrah dilakukan. Namun Masyarakat Sejarah Indonesia (KHI) memberikan gaya baru dalam merayakan kemerdekaan Indonesia.

Pendiri KHI, Asep Kambali, mengatakan hari kemerdekaan merupakan saat yang tepat untuk menengok ke belakang dan mengkaji sejarah negara. Untuk itu, Asep bersama KHI menggelar acara bertajuk Penelusuran Proklamasi pada Rabu, 16 Agustus. Acara ini sendiri konon sudah menjadi tradisi sejak tahun 1983.

Jalur Proklamasi 2017 dibuka dengan Tari Selamat Datang dari Sanggar Selendang Merah yang diiringi nyanyian Indonesia Raya, dan sambutan Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat di Museum Joang ’45. Djarot membuka sambutannya dengan pernyataan pidato presiden pertama Indonesia, Sukarno, pada perayaan kemerdekaan Indonesia tahun 1966.

“Mantel Merah—Jangan pernah melupakan sejarah. Hal inilah yang diingatkan oleh Soekarno kepada kita dalam pidatonya pada 17 Agustus 1966. Pesan itu masih relevan hingga saat ini, ujarnya.

Dalam sambutannya, Djarot juga menyemangati semangat menjaga Indonesia. Ia mengatakan, masyarakat Indonesia mempunyai kebiasaan untuk terus membicarakan hal-hal buruk dan melupakan prestasi besar yang telah diraih negara.

Ia mengingatkan, kemerdekaan Indonesia tidak diperoleh dengan cuma-cuma, melainkan melalui proses panjang yang memerlukan perjuangan, semangat, dan air mata para pejuang. Juga tidak ada kata-kata yang mementingkan diri sendiri dari para pejuang.

“Saya ingatkan mengapa kita bisa mandiri. “Karena pahlawan tidak memperhitungkan apa yang didapatnya setelah kemerdekaan,” ujarnya.

Hal ini karena pejuang mempunyai tiga nilai penting; yaitu kemauan, semangat dan kerja nyata.

Jika Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan, Djarot menyebut Jakarta sebagai Kota Proklamasi. Sebab perjuangan kemerdekaan terjadi di Jakarta, dan proklamasi dibacakan di Jakarta.

“Pada tahun 1945 terjadi revolusi RI di Jakarta dan proklamasi dibacakan di Jakarta. “Jadi saya katakan Jakarta adalah kota proklamasi,” kata Djarot.

Beliau mengakhiri sambutannya dan memberikan restunya untuk melakukan walk-through.

“Jalan yang bagus. “Selamat atas kemerdekaan yang diperoleh dari Kota Proklamasi,” antusiasnya.

Usai sambutan Djarot, dilanjutkan dengan doa untuk keselamatan seluruh peserta. Jalur Proklamasi 2017 resmi dimulai setelah pelepasan Djarot dan Wakil Presiden Keenam RI Try Sutrisno.

Di barisan paling depan ada tiga orang yang memegang foto Ir.Soekarno, Hatta dan teks proklamasi. Dilanjutkan oleh pembawa spanduk acara, tim pembawa bendera, orkestra, dan peserta. Acara ini dihadiri lebih dari 1.000 peserta; terdiri dari keluarga veteran, pelajar dan mahasiswa dari berbagai instansi, komunitas museum dan Abang-None Jakarta. Ambulans juga telah disiapkan untuk menghadapi kemungkinan peserta jatuh sakit.

Ikuti Proklamasi 2017 dengan mengunjungi tujuh lokasi bersejarah, mulai dari:

  • Museum Bagaimana ’45
  • Masjid Cut Meutia
  • Museum Agung AH Nasution
  • Taman Suropati
  • Museum Perumusan Naskah Proklamasi
  • Rumah keluarga Bung Hatta
  • Metropolis (sebelumnya Megaria)
  • dan berakhir di Tugu Proklamasi.

Namun hanya tiga tempat yang dijadikan titik pemberhentian, yaitu Museum Joang 45, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, dan Tugu Proklamasi.

Perjalanan semakin meriah dengan penampilan tim yang membawakan lagu-lagu nasional orkestra. Setiap kelompok kontestan juga menyanyikan lagu-lagu berbeda yang bernuansa kemandirian,

Suasana kemerdekaan terlihat dengan adanya nuansa merah putih pada busana para peserta. Ada pula yang mengenakan pakaian seperti masa perjuangan, seperti pejuang Indonesia dengan batang bambu runcing dan berlumuran darah, bahkan berpenampilan seperti Sukarno dengan jas putih dan peci hitam.

Sejumlah peserta lainnya baru saja bergabung di Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Pemegang foto Soekarno, Hatta dan teks proklamasi saling bertukar. Selain itu, tim pembawa bendera dan orkestra juga diganti.

Sambutan dan pelepasan kedua dilakukan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid. Setelah itu, Hilmar pun jalan-jalan dan jalan-jalan.

Perjalanan dilanjutkan menuju Tugu Proklamasi. Sesampainya di sana, peserta diajak duduk di lapangan terbuka, sambil mendengarkan pembacaan teks proklamasi.

Menariknya, pembacaan teks proklamasi dilakukan oleh Iwan, sosok yang berpenampilan mirip dengan Soekarno. Di depan Tugu Petir, tempat yang sama dengan tempat pembacaan proklamasi 72 tahun lalu, Iwan membuka map berisi teks proklamasi, dan pembacaan proklamasi pun bergema. Pembacaan proklamasi tidak dilakukan oleh Iwan, melainkan dengan rekaman suara asli Soekarno.

Acara dilanjutkan dengan nyanyian Indonesia Raya bersama, dan komentar mantan Gubernur Sumsel Ramli Hasan Basri. Dalam sambutannya, Iya menyampaikan rasa bangganya kepada para peserta jejak, khususnya generasi muda yang masih memiliki semangat untuk melanjutkan perjuangan para pendahulunya. Ia berharap semangat tersebut tidak pernah pudar.

Hilmar kembali diberikan kesempatan untuk menyampaikan pidato. Hal senada pun ia sampaikan kepada Ramli, dan mengutarakan harapannya Indonesia Raya tiga bait dinyanyikan. Dijelaskannya, terdapat ayat-ayat penting dalam setiap baitnya, seperti:

Ayat I: “Mari kita bersorak, Indonesia bersatu.”

Ayat II: “Mari kita berdoa, Indonesia bahagia.”

Stanza III : “Mari kita berjanji, Indonesia akan selamanya.”

Di penghujung acara, Panitia Jalur Proklamasi membagikan hadiah kepada pemenang lomba himne sekolah yang terlibat dalam kegiatan ini. —Rappler.com

Result SGP