Unpad batalkan seminar Marxisme setelah didatangi FPI
keren989
- 0
BANDUNG, Indonesia – Setelah Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, kini giliran Universitas Padjadjaran yang membatalkan seminar yang seharusnya membahas pemikiran Karl Marx karena mendapat ancaman dari Front Pembela Islam (FPI).
Penyelenggara seminar Muhammad Ariq mengatakan pihak kampus khawatir akan konfrontasi dari ormas jika acara tetap digelar.
“Ada ancaman jika terus berlanjut akan terjadi konfrontasi dari ormas,” kata Ariq saat dihubungi Rappler, Jumat, 20 Mei 2016.
Sebelumnya, Ariq, salah satu ormas yang dikenal dengan FPI, mendatangi rektorat dan meminta klarifikasi terkait acara bertajuk “Seminar Marxisme sebagai Ilmu” yang digelar pada Kamis, 19 Mei 2016. Rektorat kemudian mengadakan pertemuan dengan dekan yang menyetujui dan menandatangani izin penyelenggaraan seminar. Karena alasan keamanan, pihak rektorat akhirnya membatalkan acara tersebut.
“Dibatalkan secara sepihak (oleh Rektor), tanpa mengundang kami. Tiba-tiba ada pertemuan, kami tidak diberitahu, kata Ariq.
Dekan, lanjut Ariq, menyatakan acara yang akan dilaksanakan pada hari Kamis tersebut dibatalkan dan menyarankan agar seminar tersebut ditunda serta nama dan temanya diubah.
Penyebabnya karena isu sayap kiri sedang memanas, ujarnya.
Ariq mengaku ditelepon oleh seseorang yang mengaku sebagai Kapolres Sumedang. Ketua Departemen Hubungan Eksternal dan Aksi Strategis BEM Fisip Unpad ditanyai berbagai hal terkait seminar tersebut.
“Saya juga sudah diperingatkan untuk berhati-hati dalam mengadakan acara seperti ini karena isu terkait komunisme sedang memanas,” ujarnya.
Ariq menjelaskan, seminar yang digelar Badan Manajemen Mahasiswa (BEM) Fisip Unpad ini sebenarnya merupakan kajian ilmiah terhadap pemikiran Karl Marx. Pembicara yang diundang juga merupakan akademisi yaitu M. Rolip Saptamaji, dosen yang ahli di bidang politik sayap kiri di Indonesia, dan Firman Ekoputra, penggiat percakapan ilmiah dari Rumah Kiri.
“Sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara akademis dan dilaksanakan secara objektif di lingkungan kampus. “Tapi ya, kami tidak berharap pihak universitas lebih melihat unsur eksternalnya,” kata Ariq.
Meski mendapat ancaman, Ariq dan kawan-kawan akan tetap menggelar acara tersebut hingga batas waktu yang belum ditentukan.
“Kami akan berbicara dengan pihak rektorat mengenai kelanjutan acara ini,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Divisi Hisbah DPD FPI Jabar Dedi Subuh membenarkan pihaknya meminta Unpad membatalkan acara seminar Marxisme tersebut. Bahkan, dia bersama sekitar 20 orang lainnya memantau kampus di Jatinagor Sumedang mulai pukul 10.00 hingga 16.00 WIB.
“Maaf baru membalas, saya sedang fokus pemantauan di Unpad,” kata Dedi menanggapi pesan yang dikirimkan Rappler. Pesan tersebut diterima Rappler pada pukul 20:36 WIB, Kamis 19 Mei 2016.
Adapun alasan pengawasan terhadap Unpad, Dedi menjelaskan untuk memastikan Unpad benar-benar menepati janjinya untuk membatalkan acara tersebut.
“Alhamdulillah acara tersebut tidak memenuhi janji dari perwakilan panitia,” ucapnya.
Dedi menjelaskan, FPI meminta pembatalan seminar Marxisme dengan alasan yang sama dengan pembatalan Sekolah Marx di ISBI Bandung, Selasa 10 Mei 2016. Dedi mengatakan, FPI peduli agar mahasiswa tidak dibebani paham Marxisme, Leninisme, dan Komunisme yang dilarang dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 1999 dan TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966.
FPI, kata Dedi, akan terus memantau sekolah dan universitas. Jika ada kegiatan yang mengusung ideologi komunis, FPI akan berusaha menghentikannya.
Dedi mengungkapkan FPI memiliki intelijen bernama BIF (Badan Intelijen DEPAN) yang memberikan informasi mengenai kegiatan-kegiatan yang dianggap beraliran kiri dan menyimpang dari Pancasila.
“Setelah kami mendapat informasi A1, kami akan berkoordinasi dengan instansi terkait antara lain TNI, Polri, dan pemerintah daerah,” ujarnya.
Pengamat Keamanan dan Politik sekaligus dosen Unpad, Muradi mengaku kecewa dengan pembatalan Seminar Marxisme. Apalagi penyebabnya adalah tekanan dari ormas.
“Sebagai dosen, saya kecewa. “Tetapi saya sangat memahami psikologi rekan-rekan pimpinan fakultas saya,” katanya kepada Rappler.
Muradi pun mengaku terkejut dengan pembatalan acara tersebut, karena sering diadakan diskusi seputar pemikiran Karl Marx. Bahkan, ada kursus Pengantar Marxisme.
Kajian ideologi sayap kiri, kata Muradi, bukanlah hal baru di Unpad. Namun ia yakin, sebagai bagian dari penguatan pemahaman dan pengetahuan, tidak akan membuat masyarakat menganut paham komunis.
“Saya tidak melihat potensi atau penyebaran ideologi komunis. “Siswa zaman sekarang lebih pintar dibandingkan zaman saya,” ujarnya.
Pada Selasa, 10 Mei, puluhan anggota FPI mendatangi kampus ISBI di Jalan Buah Batu untuk memprotes kegiatan Sekolah Marx dan menyerukan agar kegiatan tersebut dihentikan. – Rappler.com