Untuk memperingati 10 tahun gempa Yogyakarta, masyarakat menggelar doa bersama
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Banyak warga Bantul yang menjadi pengemis pasca gempa 10 tahun lalu
YOGYAKARTA, Indonesia — Tepat pukul 06:59 WIB pada hari Sabtu, 27 Mei 2006, terjadi gempa bumi dahsyat yang melanda wilayah Bantul dan sekitarnya dengan kekuatan 5,9 skala richter. Pusatnya terjadi di pertemuan Sungai Opa-Oya, Dusun Potrobayan, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Lebih dari 6.000 warga Yogyakarta dan Jawa Tengah meninggal dunia dan ratusan ribu rumah rusak ringan maupun berat. Ribuan warga Bantul lainnya mengalami luka ringan hingga berat dan dirawat di berbagai rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang dibangun negara sahabat dan lembaga swadaya masyarakat yang aktif di Indonesia.
Hari ini, Jumat 27 Mei 2016, tepat 10 tahun gempa melanda Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Meski sudah satu dekade berlalu, namun bencana tersebut masih meninggalkan kenangan sedih dan trauma yang cukup mendalam. Apalagi bagi keluarga yang rumahnya tidak hanya roboh, namun ada anggota keluarganya yang meninggal dunia saat rumahnya hancur.
Masyarakat di Dusun Potrobayan, yang merupakan dusun terdekat dengan episentrum gempa tektonik, menggelar salat subuh di tempat berdirinya prasasti yang berada di episentrum gempa.
(BACA: Bantul Bangun Prasasti Peringati 10 Tahun Gempa Yogyakarta)
Sholat subuh bersama dilanjutkan dengan doa bersama untuk arwah korban gempa 2006 yang dipimpin langsung oleh Bupati Bantul, Suharsono.
Wajah duka masih terlihat di warga Dusun Potrobayan yang tak kuasa membendung kesedihannya karena ditinggal keluarga menghadap Ilahi.
“Doa yang dipanjatkan sangat mengharukan. “Di Dusun Potrobayan, 12 orang meninggal dunia saat terjadi gempa dan pascagempa sebanyak satu orang,” kata Purwanti, warga sekitar, usai mengikuti doa bersama.
Bupati Bantul Suharsono mengatakan, gempa tahun 2006 lalu menjadi pembelajaran penting bagi masyarakat Bantul dan pemerintah Bantul untuk bersiap menghadapi bencana yang tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi.
Harus diakui, pada saat gempa bumi tahun 2006 terjadi, semua pihak belum siap menghadapi bencana yang sangat serius dengan ribuan korban jiwa, bahkan tidak ada korban luka sedang hingga berat yang harus mendapat perawatan di rumah sakit, kata Suharsono.
Menurut Suharsono, warga Yogyakarta, anggota Search and Rescue (SAR) dan Satuan Penanggulangan Bencana masih konsentrasi menangani bencana erupsi Merapi sehingga harus ditarik ke Kabupaten Bantul.
“Sekitar satu jam setelah gempa, muncul rumor akan terjadinya tsunami sehingga membuat masyarakat panik dan meninggalkan korban meninggal tanpa pengawasan. Malam setelah gempa, hujan lebat turun di Yogyakarta dan banyak anak kecil serta orang tua harus basah kuyup tanpa tempat berteduh. Masyarakat masih dihantui gempa susulan, kata Suharsono.
Gubernur Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono
Kehilangan harta berarti tidak kehilangan apa pun. Hilangnya nyawa kehilangan separuhnya. Kehilangan harga diri berarti kehilangan segalanya
“Saya pun bertekad mengembalikan semangat masyarakat Bantul dengan semboyan: ‘Kehilangan harta berarti tidak kehilangan apa-apa. Kehilangan satu nyawa berarti kehilangan separuh. Jika Anda kehilangan harga diri, Anda akan kehilangan segalanya,” kata Sri Sultan usai meninjau gempa tahun 2006 beberapa waktu lalu.
Masyarakat Bantul, khususnya dari keterpurukan akibat gempa, kembali bangkit karena mempunyai modal sosial gotong royong. Kekompakan masyarakat yang sangat erat ini mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pasca masa tanggap darurat.
“Masyarakat membangun rumahnya secara mandiri dan gotong royong, berbeda dengan penanggulangan bencana di daerah lain yang pembangunan rumahnya diserahkan kepada kontraktor,” kata Suharsono.
Kini 10 tahun setelah gempa, desa tanggap bencana dan sekolah siaga bencana telah terbentuk. Penanggulangan bencana dan gladi bersih atau simulasi penanganan bencana gempa bumi diadakan secara berkala agar masyarakat selalu teringat ketika menghadapi gempa bumi dan bencana lainnya.
“Kami berharap momentum gempa 10 tahun ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Bantul sebagai masyarakat tahan bencana,” kata Suharsono. —Rappler.com