• March 1, 2026

Video yang diduga memperlihatkan anak-anak Indonesia berlatih perang di Suriah itu dibuat pada awal tahun 2015

Dalam video tersebut terlihat beberapa anak-anak dan seorang pria dewasa lancar berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Anak-anak diajarkan keterampilan bertarung, salah satunya adalah menembak.

JAKARTA, Indonesia – (UPDATED) Kepolisian RI mengaku berhasil mengidentifikasi video bertajuk “Generasi Pejuang” yang menampilkan anak-anak berlatih perang dengan anggota Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS) atau ISIS. Menurut Kabag Humas Mabes Polri Boy Rafli Amar, polisi berhasil memperoleh informasi awal terkait oknum pembawa pesan dalam tayangan video tersebut.

Pria yang menyampaikan pesan dalam rekaman video tersebut merupakan warga negara Malaysia, kata Boy mediaMinggu 22 Mei sementara menjelaskan, lokasi penembakan berada di provinsi Al Barakah, timur laut Suriah.

Sementara itu, pengamat terorisme International Crisis Group (ICG), Sidney Jones, mengatakan video itu direkam pada awal tahun 2015. Bahkan ia menyebut salah satu orang yang terekam dalam video tersebut merupakan sosok yang dekat dengan jaringan radikal Maman Abdurahman, salah satu narapidana teroris yang ditahan di Lapas Nusa Kambangan. Ayah orang ini juga terlibat dalam penyerangan bom di Semanggi pada tahun 2004.

Sidney mengatakan beberapa orang dewasa dalam video itu juga tewas dalam perkelahian tersebut.

Dalam video berdurasi sekitar 20 menit itu, terlihat banyak anak-anak yang berkerumun. Usia mereka berkisar antara delapan hingga dua belas tahun.

Seperti video lain yang pernah dirilis ISIS sebelumnya, anak-anak ini diajari cara berperang. Salah satunya adalah kemampuan menembak.

Namun video ini menjadi perbincangan di Indonesia, karena anak-anak dalam video tersebut diyakini berasal dari Indonesia. Hal ini terlihat dari bahasa Indonesia yang mereka lancarkan.

Meski tak dijelaskan secara jelas, pelatih anak-anak tersebut dengan menggunakan bahasa Indonesia mengatakan bahwa anak-anak tersebut akan ‘tumbuh di tanah khilafah’. Jadi, kemungkinan besar mereka semua sudah berada di Suriah.

Sidney yakin anak-anak itu bisa hadir karena diundang oleh orang tuanya. Biasanya mereka dibawa ke Suriah karena dianggap lebih cocok untuk membesarkan anak. Namun Sidney mengaku belum mengetahui apakah di antara belasan anak tersebut ada yang kembali ke Indonesia.

Tanggapan Kementerian Luar Negeri

Petugas konsuler KBRI Damaskus, AM Sidqi, mengaku menonton video tersebut. Namun menurutnya, ada yang aneh dalam video tersebut. Ada adegan anak kecil membakar dan menembak puluhan paspor Indonesia. Dalam video tersebut, sebagian kecil paspor Malaysia juga dibakar.

“Jika mereka sengaja membakar paspornya, berarti mereka bukan lagi warga negara Indonesia (WNI),” kata Sidqi saat dihubungi Rappler melalui pesan singkat, Kamis, 19 Mei.

Oleh karena itu, hal-hal tersebut tidak lagi menjadi tanggung jawab pemerintah Indonesia. Namun, jika suatu saat anak-anak tersebut ingin kembali ke tanah air, perlu antisipasi khusus.

Berdasarkan data yang disimpan Sidney Jones, terdapat sekitar 100 anak berusia 15 tahun yang sudah berada di Suriah. Sementara data Kementerian Luar Negeri yang dikutip Sidney, terdapat sekitar 220 WNI yang ditangkap aparat di Turki saat hendak menyeberang ke Suriah.

Sidney yakin pemerintah bisa menggali informasi mengenai 220 orang yang ditangkap tersebut.

“Pemerintah seharusnya tidak hanya mewawancarai laki-laki dan perempuan, tapi juga remaja yang mendampingi mereka. Beberapa pertanyaan yang bisa diajukan antara lain apakah mereka sudah kembali ke Indonesia, apa yang mereka lakukan di negaranya, dan juga sumber dananya, kata Sidney saat dihubungi Rappler, Jumat, 20 Mei.

Ia menyarankan agar pemerintah tidak langsung mencap mereka sebagai teroris.

Jangan masuk melalui Damaskus

Dalam kesempatan itu, Sidqi juga mengatakan, anak-anak pasti bisa masuk ke Suriah melalui jalur ilegal. “Prosedur visa dan tunjukkan P“Pemerintah Suriah sangat ketat, sehingga jika diketahui niatnya datang untuk bergabung dengan kelompok tertentu, maka dia tidak diperbolehkan masuk,” ujarnya.

Lalu kemana mereka masuk ke Suriah? Kemungkinan besar, kata Sidqi, mereka masuk melalui negara ketiga atau negara lain yang berbatasan langsung dengan Suriah. Dalam beberapa kasus, WNI tertangkap saat hendak masuk ke Suriah melalui Türkiye.

Sidney membenarkannya. Ia mengaku belum pernah mendengar ada WNI yang menyeberang ke Suriah dari Yordania.

“Kalau mereka menyeberang dari Turki, sudah ada jaringan dan rumah aman di kawasan perbatasan. “Calon pejuang asing yang ingin bergabung sebaiknya menunggu saja di sana dan akan ada petunjuk cara masuk dan dibawa menemui ISIS,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Humas Direktorat Jenderal Imigrasi Heru Santoso mengatakan, pihaknya tidak bisa begitu saja melarang seseorang untuk bepergian.

“Kami hanya mengetahui rute perjalanan seseorang jika ada cap di paspornya,” ujarnya saat dihubungi Rappler.

Menurut Heru, pihak imigrasi tidak bisa mengetahui tujuan akhir perjalanan seseorang, selain dari apa yang tertulis di tiket pesawat.

Soal nasib anak-anak tersebut, Heru mengatakan pemerintah tidak bisa berbuat apa-apa. “Itu tidak dilakukan di negara ini,” katanya.

Namun upaya tracing bisa dilakukan dengan menggandeng KBRI di wilayah lain yang dekat dengan Suriah. Namun hal ini tidak menjamin akan ada perubahan.

“Kami juga belum mengetahui apakah mereka benar-benar WNI. Kalau suaranya bisasulih suara,” dia berkata. dengan laporan Santi Dewi/Rappler.com

BACA JUGA:

Hk Pools