Warna kuning menyoroti peran politisi perempuan
keren989
- 0
Sebanyak 40% caleg perempuan terpilih memiliki jaringan kekerabatan di kalangan elit politik
MALANG, Jawa Timur – Puluhan politisi perempuan dari berbagai parpol berkumpul dalam satu ruangan, nampaknya memiliki rasa solidaritas. Padahal, di lapangan, ketika mereka berkampanye memperebutkan kursi atau mengambil keputusan di DPRD, tidak jarang mereka bersaing ketat.
“Kami berharap para politisi perempuan dan anggota DPRD yang mengikuti pelatihan ini menjadi lebih sensitif gender untuk mempengaruhi penyusunan peraturan daerah,” kata Yuyu Komariah, Direktur B Trust, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang banyak memberikan pelatihan dan advokasi bagi perempuan. politisi perempuan, pekan lalu di Malang, Jawa Timur.
Ini merupakan kali ke-8 B Trust mengadakan pelatihan penguatan peran, kapasitas dan kompetensi anggota parlemen perempuan periode 2014-2019. Pelatihan ini melibatkan 30 anggota DPRD dan pengurus Kaukus Perempuan Politisi Indonesia wilayah Jawa Timur. Politisi perempuan mendapatkan pelatihan pengelolaan media, psikologi untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam menyampaikan gagasan, dan pelatihan membaca hasil survei untuk mengidentifikasi aspirasi masyarakat.
B Trust bekerja sama dengan Konrad Adenaur Stiftung (KAS), lembaga yang didirikan oleh kanselir pertama Jerman, antara lain aktif melakukan pendidikan politik bagi warga negara.
Ratu Dian Hatifah, mantan Ketua KPPI tingkat nasional yang juga seorang politikus, mengutip data UN Women tahun 2015, bahwa hanya 22% dari seluruh perempuan anggota parlemen tingkat nasional di seluruh dunia adalah perempuan. Rwanda menjadi negara dengan jumlah anggota parlemen perempuan terbanyak yakni 63,8%.
Rata-rata jumlah anggota parlemen perempuan di negara-negara di kawasan Skandinavia adalah 41,5%, di kawasan AS 26,3%, dan di negara-negara di Asia 18,5%. Di Indonesia, jumlah anggota DPR perempuan hasil Pemilu Legislatif 2014 berjumlah 97 orang atau 17,32%. Angka ini masih jauh dari target kuota perempuan di parlemen sebesar 30%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, 2009-2014 yang mencapai 103 orang atau 18,38%, terdapat 38 negara yang masih memiliki kurang dari 10% anggota parlemen perempuan.
Ratu Dian menjelaskan, jumlah perempuan yang dicalonkan menduduki kursi parlemen nasional pada pemilu 2009 sebesar 33,6%, sedangkan pada pemilu 2014 sebesar 37%.
“Hanya 36% petahana yang kembali, sebagian besar terdepak,” kata Ratu Dian. Faktor kinerja, serta semakin maraknya politik uang dalam pemilu, membuat perempuan sulit bersaing memperebutkan kursi di Senayan.
Fakta lainnya, peningkatan kursi partai tidak selalu diikuti dengan peningkatan kursi perempuan. PDIP sebagai partai pemenang pemilu mengalami penurunan kursi perempuan dari 18% pada tahun 2009, menjadi 11% pada tahun 2014 atau dari 17 orang menjadi 12 orang.
“Sebanyak 40% caleg perempuan terpilih memiliki jaringan kekerabatan dengan elite politik, sedangkan 26% merupakan kader partai,” kata Ratu Dian.
Pelatihan tersebut juga membahas tren buruknya citra politisi perempuan. “Tidak ada perempuan yang benar-benar membekas di ingatan masyarakat sebagai tokoh politik yang luar biasa,” kata Ratu Dian. Ia mengatakan, belum ada sosok seperti Aisyah Amini, politikus Partai Persatuan Pembangunan era 1980-1990an yang disebut sebagai singa podium.
(BA: KPK tetapkan Miryam S. Haryani sebagai tersangka)
Kalau perempuan diberi kesempatan memimpin, mereka bisa dan punya stamina. “Ingat bagaimana Ceu Popong, sebagai anggota dewan tertua, penuh interupsi?” ucap Ratu Dian. Ceu Popong, politikus Partai Golkar bernama lengkap Otong Otje Djundjunan memimpin rapat pertama 560 anggota baru DPR di gedung DPR, Jakarta pada 1 hingga 2 Oktober 2014.
Hal lainnya, sejumlah skandal politik atau kegagalan dalam rumah tangga telah memperburuk citra perempuan di dunia politik dan membayangi prestasi yang telah diraih.
(BA: KPK Tangkap Politisi Perempuan PDIP)
Kabinet kerja Presiden Joko “Jokowi” memiliki sembilan menteri perempuan. Tapi hanya Puan Maharani dan Khofifah Indar Parawansa yang berasal dari jalur kader politik, kata Ratu Dian.
Mengutip data Kompas, masyarakat menilai kehadiran perempuan di DPR belum membawa perubahan nyata bagi masyarakat. Sebanyak 62,5% responden survei merasa tidak puas dengan kinerja politisi perempuan di Senayan.
“Ini lampu kuning bagi kita sebagai politisi perempuan. “Mendapatkan kepercayaan partai menjadi persoalan besar, apalagi merebut kepercayaan masyarakat,” kata Ratu Dian seraya mencatat perseteruan dalam konflik politik yang belakangan ini semakin menguatkan gerakan perempuan telah mereda. –Rappler.com