1 orang meninggal dunia akibat banjir di Kota Bandung
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Korban terseret arus saat hendak menolong warga. Dia terpeleset ke dalam selokan dan hanyut terbawa arus
JAKARTA, Indonesia – Banjir yang melanda Kota Bandung pada Senin sore, 24 Oktober, menyebabkan 1 orang meninggal dunia. Berdasarkan keterangan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, korban diketahui bernama Ade Sudrajat dan berusia 30 tahun.
“Korban hanyut saat hendak menolong warga. “Dia terpeleset ke dalam selokan dan terbawa arus,” kata Sutopo dalam keterangan tertulis, Senin 24 Oktober.
Sutopo mengatakan, jenazah korban ditemukan di depan SMPN 15 Bandung dan diserahkan kepada keluarga.
“Sementara kerusakan dan kerugian ekonomi akibat banjir masih dalam pendataan. “Banyak kendaraan rusak dan terendam banjir,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sutopo menjelaskan, saat ini air di Jalan Pasteur sudah surut dan dapat dilalui kendaraan roda dua dan empat. Namun proses evakuasi masih dilakukan di kawasan Pagarsih dan Solokan Jeruk.
Ketinggian air saat ini berkisar 50-80 sentimeter, ujarnya.
Penanggulangan darurat banjir di Kota Bandung juga masih dilakukan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat dan unsur lainnya.
Penyebab banjir
Lalu kenapa Bandung dilanda banjir besar? Menurut Sutopo, hal ini disebabkan oleh tiga hal; pertama, hujan dengan intensitas tinggi yang menyebabkan bendungan irigasi Citepus dan Sungai Citepus meluap. Hal inilah yang menyebabkan banjir di kawasan Pasteur, Pagarsih, Solokan Jeruk, dan Sukajadi sekitar pukul 13.30 WIB.
“Penyebab kedua dan ketiga adalah tersumbatnya sampah dan tingginya permukaan sungai. Hal ini menyebabkan Sungai Citepus meluap. Selain itu, drainase perkotaan tidak mampu menampung derasnya aliran hujan permukaan, kata Sutopo.
Pendapat senada juga diungkapkan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar. Selain fungsi drainase yang tidak berfungsi dengan baik, mantan pelaku juga menilai banjir disebabkan berkurangnya daerah resapan air akibat padatnya pembangunan.
“Pelanggaran tata ruang bisa bermacam-macam. Tidak ada lubang resapan, tidak ada biopori. Drainase tidak berubah, sementara populasi meningkat. “Ini yang biasa terjadi di kota seperti ini,” kata Deddy media.
Ia membenarkan, Bandung belum pernah mengalami “banjir”, sehingga menurutnya penyebab utamanya adalah berkurangnya daerah resapan.
Deddy pun mengaku bingung kenapa Bandung bisa dilanda banjir besar meski baru saja meraih Penghargaan Adipura.
“Saya juga ingin bertanya kepada Emil (Wali Kota Bandung Ridwan Kamil) bagaimana keadaannya. Kenapa ini bisa terjadi,” tanya Deddy. – Rappler.com