• April 30, 2026

27 juta rumah tangga miskin menerima subsidi listrik

Menurut Menteri Jonan, Presiden Jokowi telah memutuskan tidak ada kenaikan TTL untuk Juli-Desember 2017

JAKARTA, Indonesia – Persoalan penghapusan subsidi tarif listrik TTL dan kenaikan harga BBM membuat Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan harus berhadapan dengan Presiden Joko “Jokowi” Widodo sebanyak tiga kali. pekan.

“Presiden memeriksa semua data yang kami sajikan. Untuk BBM misalnya, setelah dipanggil ke menteri terkait, ternyata diputuskan tidak ada kenaikan. Pertamina perlu mengatur arus kas. Keuntungan mereka memang menurun. Tapi tahun lalu keuntungannya lebih dari Rp 40 triliun, kata Jonan saat acara buka puasa bersama media, ormas, dan komunitas, di Jakarta, Selasa, 20 Juni 2017.

Agenda Jonan hari itu hanyalah menjelaskan alasan pemerintah mencabut subsidi bagi pelanggan TTL 900 VA yang dinilai mampu. “Bahasa di masyarakat memberi kesan akan ada kenaikan tarif listrik,” kata Jonan. Beberapa orang mengkritik keputusan tersebut.

Menurut Jonan, keputusan pencabutan subsidi bagi pelanggan 900 VA mampu diputuskan dalam Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR, 22 September 2016. Pencabutan subsidi dilakukan secara bertahap sejak Januari 2017.

Jonan memaparkan sejumlah grafik yang memuat fakta versi pemerintah. Temuan pada pelanggan 900 VA yang mampu, misalnya menggunakan listrik untuk penerangan, menyetrika, penanak nasi/panci ajaib, televisi, lemari es, pompa air, komputer/laptop. Total konsumsi per bulan adalah 140 kWh. Tagihan listrik kelompok ini mencapai Rp84.700 per bulan, dan mereka menikmati subsidi listrik sebesar Rp104.580 per bulan.

Bandingkan dengan pelanggan 900 VA yang tidak mampu. Tidak boleh digunakan untuk lemari es, pompa air dan komputer/laptop. Total konsumsi Rp 70 kWh, tagihan listrik Rp 42.350 per bulan dan subsidi listrik Rp 52.290 per bulan.

“Jadi berdasarkan fakta di lapangan, kami putuskan sebanyak 19 juta pelanggan 900 VA mampu tidak lagi disubsidi, agar tidak membebani APBN. “Bisa kita alokasikan untuk membangun infrastruktur, juga di Indonesia bagian timur,” kata Jonan.

Subsidi listrik dalam APBN 2017 sebesar Rp44,98 miliar. Jika subsidi untuk kelompok kaya tidak dihilangkan, maka subsidi bisa meningkat hingga Rp 70,63 triliun menurut perhitungan ESDM.

Pelanggan listrik miskin masih mendapat subsidi

“Ini pesan UU No. 30/2007 tentang energi, dan UU No. 30/2009 tentang Ketenagalistrikan yang menyatakan subsidi hanya untuk kelompok miskin,” kata Jonan.

Jonan juga menjelaskan, dari 59 juta pelanggan listrik rumah tangga, 46% masih mendapat subsidi. Jumlahnya 27 juta rumah tangga miskin dan rentan. Sebelumnya, sebanyak 79% rumah tangga menikmati subsidi. Rinciannya, 23,2 juta pelanggan 450 VA dan 4,1 juta pelanggan 900 VA tidak mampu.

“Ini pesan UU No. 30/2007 tentang energi, dan UU No. 30/2009 tentang Ketenagalistrikan yang menyatakan subsidi hanya untuk kelompok miskin,” kata Jonan. Menurut mantan Menteri Perhubungan itu, Presiden Jokowi memutuskan tidak ada kenaikan TTL pada Juli hingga Desember 2017.

Penentuan rumah tangga mampu dan tidak mampu mengacu pada data terpadu Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). Lembaga ini diketuai oleh Wakil Presiden dan dibentuk sebagai wadah koordinasi berbagai kegiatan percepatan pengentasan kemiskinan.

Ada 2500 desa tanpa listrik

Jonan menjelaskan, masih terdapat 2.519 desa yang belum teraliri listrik atau gelap total yang meliputi 293.532 KK. Pemerintah berniat meringankan desa-desa tanpa listrik dalam jangka waktu dua tahun (2017-2019).

Salah satu program yang akan segera dilaksanakan adalah pembagian gratis Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) yang masing-masing dipasang di enam provinsi paling timur Indonesia pada tahun 2017 untuk melistriki 95.729 rumah.

Pada tahun 2018, akan dipasang di 15 provinsi seluruh Indonesia untuk melistriki 255.250 rumah. “Ini adalah program pra-elektrifikasi, sementara infrastruktur ketenagalistrikan sedang dibangun di kota-kota tersebut,” kata Jonan.

Pemerintah menargetkan rasio elektrifikasi nasional pada tahun 2019 mencapai 100 persen dari 92 persen pada Maret 2017. Rasio elektrifikasi adalah jumlah kepala keluarga (KK) yang mendapat listrik dibagi jumlah keluarga di wilayah yang bersangkutan.

Pada peta yang disajikan Kementerian ESDM, rasio elektrifikasi tertinggi terdapat di Provinsi Banten sebesar 99,9%. Rasio terendah atau di bawah 50% terdapat di Papua. Sedangkan Provinsi NTT mencatat rasio elektrifikasi antara 50-70%.

Rappler.com

Togel HK