3 nelayan kembali diculik kelompok bersenjata di perairan Sabah
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Penculikan itu terjadi usai kunjungan kerja Presiden Filipina Rodrigo Duterte ke Jakarta untuk membahas masalah keamanan di wilayah perairan Sulu.
JAKARTA, Indonesia – Komitmen ketiga negara dalam memberantas pembajakan nampaknya tidak membuat jera para pelakunya. Penculikan yang diduga demi mendapatkan uang tebusan terus berlanjut, khususnya di perairan antara Malaysia dan Filipina.
Pada Sabtu malam, 10 September, 3 orang nelayan diculik oleh kelompok bersenjata yang diyakini berasal dari Filipina. Ketiga nelayan tersebut diyakini telah dibawa ke provinsi Tawi-Tawi di Filipina selatan.
Komandan Komando Keamanan Sabah Timur (ESSCOM), Abdul Bari Abdul Khalid membenarkan, mendapat laporan dari pemilik kapal ikan pada Minggu dini hari, 11 September sekitar pukul 01.59 waktu setempat.
“Saya hanya bisa membenarkan (penculikan itu). Kompol Sabah (Abdul Rashid Harun) nanti akan merilis informasi detailnya, kata Abdul Khalid saat ditanya media.
Menurut pemilik kapal, tiga orang yang diculik terdiri dari 1 nakhoda dan 2 orang awak kapal. Pelaku disebut berjumlah tujuh orang dan langsung menodongkan senjata. Sedangkan total penumpang kapal nelayan tersebut mencapai 11 orang.
Satu dari tiga orang yang diculik diketahui merupakan warga Bajau keturunan Filipina. Dua orang lainnya tidak diketahui asal usulnya.
Mereka dibawa ke Filipina selatan dengan kapal hijau. Awak kapal lainnya melanjutkan perjalanan menuju kawasan Dermaga Semporna.
Peristiwa ini terjadi dua hari setelah ESSCOM melakukan operasi intensif di wilayah perbatasan di lima kabupaten di pantai timur. Mereka mengatakan pasukan keamanan bersiaga di sepanjang wilayah perbatasan sementara militer Filipina melakukan upaya untuk membasmi Abu Sayyaf di Pulau Jolo.
Penculikan juga kembali terjadi setelah Presiden Filipina Rodrigo Duterte melakukan kunjungan kerja ke Jakarta pada 8-9 September. Salah satu persoalan yang dibicarakan Duterte dengan Presiden Joko “Jokowi” Widodo adalah persoalan keamanan di wilayah perairan Sulu.
Kedua pemimpin sepakat untuk meningkatkan keamanan di kawasan dan memberantas aksi terorisme. Duterte bahkan mengizinkan pasukan TNI memasuki perairan Filipina jika terjadi keadaan darurat. – Rappler.com
BACA JUGA: