• April 25, 2026

5 Hal Tentang Santoso, Teroris Paling Dicari di Asia Tenggara

JAKARTA, Indonesia — Tim Satgas Polri dan TNI yang terlibat dalam Operasi Tinombala terlibat baku tembak dengan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) dan membunuh pemimpinnya, Santoso alias Abu Wardah, pada Senin 18 Juli.

Baku tembak yang terjadi sekitar pukul 17.00 WIT juga menewaskan teroris lain yang kemudian diketahui bernama Muchtar.

Kabar meninggalnya Santoso dibenarkan oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian pada Selasa, 19 Juli. Sidik jarinya sama, kata Tito.

Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Rudy Sufahriadi juga mengaku Santoso tewas. “Iya pasti Santoso,” kata Rudy, Selasa.

Sebenarnya siapakah Santoso hingga pemerintah Amerika Serikat juga memasukkan namanya ke dalam daftar teroris?

Berikut 5 hal yang perlu Anda ketahui tentang teroris paling dicari di Asia Tenggara.

Ini dimulai dengan perampokan

Santoso lahir di Tentena (Poso), 21 Agustus 1976. Kontaknya dengan aparat bermula saat ia memimpin perampokan mobil boks distributor Djarum Super pada 3 Agustus 2004. Atas perbuatannya tersebut ia divonis 5 tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Palu.

Saat itu, Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang kini menjabat Kepala Polisi (Kapolri) Tito Karnavian menyebut Santoso bukanlah seorang ideolog. “Dari karakternya sendiri, sebenarnya dari pemeriksaan kami tahun 2005, saat ditangkap sebenarnya dia bukan ideolog, bukan ahli strategi yang baik,” kata Tito.

Setelah keluar dari penjara, tindakan Santoso berkembang menjadi terorisme. Dia diangkat menjadi Amir MIT pada tahun 2012. Dia menjadi semakin dingin dan hanya berani menyerang.

Perubahan sikap Santoso tak lepas dari pengaruh kelompok Islam militan saat konflik Poso. Jemaah Islamiyah (JI), salah satunya. Santoso mendapat pelatihan pemahaman agama dari Abu Husna alias Hambali yang diketahui merupakan salah satu pimpinan JI. Bahkan, Santoso bernama Alchaidar pernah menjalani pelatihan militer di Mindanao, Filipina.

Kedatangan kelompok ekstremis Islam di Poso pada konflik 2004-2007 turut menumbuhkan benih yang tertanam dalam diri pria beristri dua ini.

Kesetiaan pada ISIS

Kelompok Santoso dan jaringan MIT juga telah berjanji setia kepada kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Ada uang mengalir keluar dari Suriah untuk membiayai semua aksi teroris mereka.

Kanit Ops Tinombala 2016 Kompol Leo Bona Lubis mengatakan, ada data aliran uang yang diperoleh intelijen polisi. Namun, dia belum bisa membeberkan detailnya.

Menurut dia, dana masuk ke jaringan Santoso secara perlahan dan terus menerus, mulai dari sekitar Rp 2 juta dalam berbagai transfer melalui yayasan dan rekening perorangan.

Sedangkan Santoso diduga mendapat bantuan dari kelompok tersebut untuk penyediaan senjata Khilafah Anshorut, Filipina. Kelompok ini merupakan pecahan dari Front Pembebasan Islam Moro (MIL).

Menurut Kapolda Sulteng, Brigjen Rudy Sufahriadi, kelompok Santoso mendapat senjata dari Abu Syarifah yang menjadi Amir Anshorut dari Kekhalifahan Filipina. Senjata api tersebut kemudian diambil oleh Abu Fatas, warga negara Indonesia yang merupakan anak buah Abu Syarifah yang baru saja keluar dari penjara di Filipina.

“Kemudian diambil oleh kurir Abu Sahle dan 9 orang anggota Abu Syarifah. Dan di Indonesia dibawa oleh Iron sebagai kurir Santoso, kata Rudy.

Iron sendiri ditangkap dan divonis 6,5 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

Balas dendam pada polisi

Sambil menebar teror dan ketakutan, Santoso lebih banyak mengarahkan serangannya kepada polisi. Rupanya dia punya dendam khusus.

Pada 25 Mei 2011 misalnya, kelompok Santoso menembak anggota Polri di kantor Bank BCA di Palu, Sulawesi Tengah. Pada tahun-tahun berikutnya, Santoso dan kelompoknya tak pernah gagal membunuh petugas polisi lainnya.

Ia juga berkali-kali mengirimkan bom ke markas polisi. Misalnya saja aksi bom bunuh diri di Mapolres Poso pada tahun 2013 yang disusul ledakan serupa di Mapolres Palu dan Mapolres Palu Timur. Pada tahun 2014, di Polsek Lembah Pantango. Pengeboman fenomenal lainnya adalah bom surat Natal di pasar induk Poso.

Kebencian Santoso terhadap petugas berseragam coklat itu didasari oleh keinginannya untuk membalaskan dendam teman-temannya yang sebelumnya tewas di tangan polisi.

Mengancam Densus 88

Selain punya dendam khusus terhadap polisi, Santoso juga tak segan menantang personel Divisi Khusus (Densus) 88. Bahkan, ia langsung melayangkan surat tantangan ke Densus 88 yang memburunya.

“Kami selaku Mujahidin Satgas Indonesia Timur menantang Densus 88 Anti Teror untuk melawan secara terbuka dan gagah berani! Ayo bertarung seperti laki-laki! Jangan hanya berani menembak, tangkap anggota kami yang tidak bersenjata! Jika Anda benar-benar sekelompok laki-laki, lihatlah kami! Jangan memenangkan penampilan hanya dengan tampil di televisi!” tulis Santoso pada 14 Oktober 2012.

Dia menyampaikan tantangan-tantangan ini kepada aaparat keamanan berada di Tamanjeka mencari dua polisi yang diculik untuk melancarkan perang terbuka melawan Gunung Biru.

Santoso dan kawan-kawan menanam ranjau di sekitar Gunung Biru. Aparat keamanan tidak terprovokasi. Mereka mendapat informasi mengenai pergerakan Santoso dan jebakan ranjau yang dipasang di kawasan tersebut.

Juga diburu di seluruh Amerika Serikat

Selain Divisi Khusus 88, Amerika Serikat juga memburu Santoso. Departemen Luar Negeri AS telah menyatakan Santoso masuk dalam daftar Teroris Global atau SDGT.

AS juga membekukan seluruh aset milik Santoso yang disebut-sebut merupakan pendukung kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Akibat penunjukan ini, seluruh properti di yurisdiksi AS yang terkait dengan Santoso dibekukan dan seluruh warga negara AS dilarang melakukan transaksi apa pun dengan Santoso, demikian bunyi pernyataan Departemen Luar Negeri AS, pada 23 Maret.

Dalam daftar SDGT, Santoso disebut sebagai pimpinan MIT yang bertanggung jawab atas sejumlah pembunuhan dan penculikan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. -Rappler.com

BACA JUGA:

Pengeluaran Hongkong