• April 17, 2026

51 orang tewas dalam tabrakan sepak bola sejak 1995

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Fanatisme terhadap tim yang Anda dukung, apapun tim itu, tidak semahal harga sebuah nyawa

JAKARTA, Indonesia – Puluhan nyawa melayang akibat sepak bola, setidaknya dalam 20 tahun terakhir.

Meski belum terdata secara lengkap, organisasi Save Our Soccer (SOS) yang mengumpulkan data jumlah kematian warga saat pertandingan atau di sekitar aktivitas sepak bola, menyatakan keprihatinannya atas serangan yang berujung pada kematian tersebut.

Data SOS menyebutkan, Muhammad Rovi “Omen” Arrahman (17 tahun) menjadi korban ke-51 sejak Liga Indonesia digelar musim 1994/1995.

(BACA: Suporter Persib Dikeroyok Hingga Tewas, 8 Remaja Jadi Tersangka)

Omen pun menjadi bosotoh keempat -julukan suporter Persib Bandung- yang tewas saat membela klub kesayangannya setelah Rangga Cipta Nugraha (22), Lazuardi (29), dan Dani Maulana (17) yang meninggal dunia setelah ditabrak oknum suporter The JakMania.

Koordinator SOS Akmal Marhali mengaku kematian Omen dan pendukung lainnya tidak seharusnya terjadi. Fanatisme terhadap tim yang Anda dukung, apapun tim itu, tidak semahal harga sebuah nyawa.

“Kejadian ini tidak boleh terjadi lagi. Polisi harus mengusut tuntas pelakunya dan memberikan hukuman yang setimpal agar ada efek jera, kata Akmal.

Menurut Akmal, budaya permusuhan ini harus dihilangkan karena dalam sepak bola hanya ada rivalitas di dalam stadion. Di luar lapangan hijau, identitas tersebut tidak perlu ditonjolkan.

“Hal ini harus dipahami oleh seluruh elemen sepak bola tanah air. “Sepak bola adalah hiburan, bukan kuburan,” katanya.

Kasus Omen hendaknya menjadi bahan renungan dan introspeksi bagi semua orang pihak yang berkepentingan sepak bola nasional. Dari Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), operator kompetisi, klub, bahkan organisasi suporter perlu berbenah.

Kekerasan antar fans tidak boleh terjadi lagi. Salah satunya tentu saja dengan membuat regulasi dan aturan yang jelas dan tegas bagi para suporter.

Menurut Akmal, sudah saatnya suporter juga diatur. Football Spectator Act (FSA) yang berlaku di Liga Inggris sejak 1989 bisa dijadikan acuan.

FSA mewajibkan seluruh suporter di Inggris memiliki kartu keanggotaan klub yang didukungnya. Ini untuk mengidentifikasi penggemar yang menyebabkan masalah.

“Mereka akan dicabut kartu anggotanya dan tidak diperbolehkan menonton pertandingan di stadion seumur hidup jika terbukti bersalah,” kata Akmal.

Meski tidak mudah dan minimnya pengawasan di stadion, namun tampaknya hal itu bisa berhasil. Awalnya tidak seperti sekarang, komitmen federasi, manajemen liga, dan kelompok suporter membuat menonton sepak bola di sana semakin nyaman.

FSA juga mengatur keberadaan badan Otoritas Perizinan baru yang bertugas memberikan atau mencabut izin stadion untuk menjadi tuan rumah pertandingan.

Memang harus ada pembinaan suporter, harus ada aturan yang tegas, dan harus ada keseriusan dari manajemen kompetisi dan PsSI untuk berbenah, bukan sekadar kepedulian dan janji-janji untuk memajukan sepakbola Indonesia.

Berikut daftar korban meninggal dalam pertandingan dan kegiatan sepak bola:

Keluaran HK Hari Ini