• April 25, 2026
4 hal penting dari perdebatan dua calon presiden AS

4 hal penting dari perdebatan dua calon presiden AS

JAKARTA, Indonesia – Dua calon presiden Amerika Serikat kembali bertemu dalam debat terbuka pada Minggu 9 Oktober waktu setempat (Senin 10 Oktober waktu Indonesia). Hillary Clinton dari Partai Demokrat dan Donald Trump dari Partai Republik berbicara di Universitas Washington, St. Louis. Louis.

Debat kedua ini menggunakan format berbeda, yaitu “town hall”, di mana penonton bisa bertanya kepada kedua kandidat. Penyiar stasiun CNN Anderson Cooper dan Martha Raddatz dari ABC menjadi pembawa acara debut berdurasi 90 menit tersebut. Sama seperti debat sebelumnya, Clinton dan Trump kembali terlibat adu argumen dan saling mengungkap kelemahan masing-masing.

Baik Cooper maupun Raddatz harus berulang kali menyela kedua kandidat karena berbicara lebih lama dari waktu yang diberikan 2 menit untuk menyampaikan program dan jawaban mereka. Bahkan, Trump terlihat dua kali mengkritik moderator karena tidak memberinya kesempatan yang sama untuk berbicara.

Isu lain apa yang dibahas selama debat? Berikut empat hal penting yang bisa diambil dari debat pagi ini antara kedua kandidat.

1. Trump dan Clinton meminta maaf atas skandal mereka masing-masing

Dalam debat kali ini, skandal kedua kandidat kembali diungkit. Skandal pertama yang dibicarakan adalah terkait pernyataan Trump yang dianggap menghina perempuan. Dalam video yang direkam pada tahun 2005, Trump diketahui berbicara dengan Billy Bush di acara televisi “Access Hollywood”.

Taipan properti itu mengaku bisa dengan mudah mencium dan menyentuh alat kelamin wanita karena dia adalah publik figur dan kaya raya. Hal lain yang diturunkan adalah bagaimana cara merayu wanita yang sudah menikah.

Trump mengaku tidak bangga dengan perilakunya. Pria berusia 71 tahun itu juga mengatakan, dia telah meminta maaf kepada keluarganya dan masyarakat Amerika Serikat. Namun, ia membantah isi rekaman tersebut berisi bualan pelecehan seksual. Dia berargumen bahwa itu adalah percakapan pribadi antar laki-laki.

“Saya menghormati perempuan. “Tidak ada orang yang memiliki rasa hormat terhadap perempuan seperti saya,” kata Trump, sambil mengatakan bahwa dia merasa malu.

Bukannya menunjukkan permintaan maaf yang tulus, Trump malah menyerang suami Clinton, Bill. Menurut Trump, perkataannya tidak sebanding dengan sejarah Bill dengan perempuan.

“Jika Anda melihat Bill Clinton, keadaannya jauh lebih buruk. “Dia melakukan tindakan kekerasan terhadap perempuan, salah satunya berusia 12 tahun,” kata Trump.

Suami Melania bahkan mengundang empat wanita yang menurutnya menjadi korban pelecehan seksual Bill. Akibat kejadian tersebut, Bill nyaris dituntut, kehilangan izin sebagai pengacara, dan membayar denda sebesar US$850 ribu atau setara Rp11 miliar.

Sementara itu, di mata Clinton, meski rekaman yang terjadi 11 tahun lalu tidak mencerminkan karakter Trump, namun isi percakapannya jelas menggambarkan siapa dirinya sebenarnya.

“Sejak Juni lalu, saya sudah mengatakan bahwa Trump tidak cocok menjadi presiden dan panglima tertinggi Amerika Serikat,” kata perempuan yang pernah menjabat mantan menteri luar negeri itu.

Sementara itu, Trump membeberkan skandal penghapusan 33 ribu email Clinton sehingga tidak bisa diselidiki oleh Biro Investigasi Federal (FBI). Ini merupakan kelanjutan dari puluhan ribu email Clinton yang diketahui menggunakan jaringan pribadi dibandingkan server pemerintah.

“Jika saya terpilih sebagai presiden, saya akan memerintahkan jaksa agung untuk memeriksa email-email (yang dihapus) itu,” kata Trump saat debat.

Seperti Trump, Clinton meminta maaf atas insiden penggunaan server pribadi untuk korespondensi resmi. Faktanya, 113 email yang dikirim Clinton masuk dalam kategori “rahasia”, termasuk 65 email yang “dianggap rahasia” dan 22 email yang tergolong “sangat rahasia”.

“Saya akui menggunakan server email pribadi adalah sebuah kesalahan. Tidak ada alasan untuk itu. “Namun, saya selalu menyimpan dokumen rahasia dengan baik dan tidak ada bukti bahwa dokumen tersebut jatuh ke tangan yang salah,” kata mantan ibu negara itu untuk membela diri.

2. Meningkatnya Islamofobia di AS

Isu Islamofobia menjadi salah satu isu yang ditanyakan kepada penonton. Pasalnya, saat ini tercatat ada 3,3 juta warga Amerika yang memeluk Islam.

“Bagaimana cara mengatasi Islamofobia setelah pemilu selesai?” tanya salah satu penonton.

Trump membantah pernah membuat seruan untuk melarang umat Islam memasuki AS. Ia menawarkan solusi dengan melakukan kontrol ketat terhadap pendatang, khususnya umat Islam.

Namun, untuk mengatasi masalah ini, kita semua, termasuk Clinton, harus mengatakan bahwa sebagian pelaku teror adalah teroris radikal Islam, kata Trump.

Sedangkan kebijakan Clinton sama dengan yang disampaikan Presiden Barack Obama, yakni AS tidak memerangi Islam untuk mengatasi aksi terorisme.

“Penting bagi kami sebagai pengambil kebijakan untuk tidak melarang warga negara datang ke AS hanya karena alasan agama. Bagaimana mungkin kamu bisa melakukan itu? “Karena AS adalah negara yang didirikan berdasarkan kebebasan beragama dan kemerdekaan,” kata Clinton.

3. Kemanusiaan di Suriah

Isu kemanusiaan di Suriah pun mengemuka dalam panggung perdebatan, seiring foto bocah lelaki berusia 5 tahun, Omran Daqneesh, yang terluka dan duduk di dalam ambulans tersebar di berbagai media. Amerika Serikat merupakan salah satu negara asing yang ikut serta dalam pertempuran di Suriah dan sudah diketahui secara luas bahwa Negeri Paman Sam ingin menggulingkan presiden berkuasa, Bashar al-Assad.

Lantas bagaimana strategi kedua calon presiden tersebut untuk mengakhiri perang di Suriah? Clinton memilih untuk tidak mengerahkan pasukan ke Suriah. Baginya, ini bukanlah strategi yang cerdas.

“Apa yang akan saya lakukan berbeda dibandingkan era Presiden Obama adalah dengan mendatangi ISIS, memberikan senjata kepada Kurdi dan langsung menargetkan pemimpin ISIS, Al Baghdadi,” kata Clinton.

Sementara itu, Trump justru mengejek kebijakan luar negeri yang diambil Clinton saat menjabat sebagai Menteri Luar Negeri. Kebijakan Clinton disebut-sebut membawa malapetaka, apalagi sikap AS justru berpihak pada pemberontak pengganti Al-Assad.

4. Saling menghormati

Meski sempat adu argumentasi, kedua kandidat mengaku tetap saling menghormati. Clinton mengaku mengagumi anak-anak Trump.

“Itu adalah gambaran Donald. “Pemilu ini rumit karena pemilihan presiden Amerika menentukan dan mempertaruhkan banyak hal,” kata Clinton.

Trump pun memuji wanita berusia 68 tahun itu. Ia menyebut Clinton adalah seorang pejuang dan tidak mudah menyerah.

Meskipun ada banyak hal tentang Clinton yang saya tidak setujui, dia tidak mudah menyerah dan saya menghormatinya, kata Trump. – Rappler.com

Pengeluaran SDY