• April 23, 2026
Operasi Penangkapan di Kementerian Perhubungan, Jokowi: Penangkapan dan Pembakaran

Operasi Penangkapan di Kementerian Perhubungan, Jokowi: Penangkapan dan Pembakaran

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Presiden Jokowi tiba-tiba datang ke Kementerian Perhubungan.

JAKARTA, Indonesia – Presiden Joko Widodo memperingatkan seluruh kementerian dan lembaga untuk menghentikan segala bentuk pungutan liar, terutama yang berkaitan dengan pelayanan kepada masyarakat.

“Pemerasan mencapai ratusan ribu dan jutaan. “Segera tangkap dan pecat pegawai yang melakukan pungli,” kata Presiden Joko Widodo saat mengunjungi Kementerian Perhubungan, Selasa, 11 Oktober 2016.

Presiden melakukan kunjungan mendadak ke Kementerian Perhubungan terkait kasus penangkapan dugaan pungutan liar perizinan yang baru saja terjadi di kementerian.

Selasa sore, tim gabungan Polda Metro Jaya dan Bareskrim Polri melakukan operasi tangkap tangan terhadap pegawai Kementerian Perhubungan yang diduga melakukan pungli.

Presiden mengapresiasi operasi tangkap tangan ini. Menurut dia, penertiban dan penangkapan terhadap pelaku pungutan liar tetap harus digencarkan. “Saya tekankan sekali lagi bahwa kita akan menghentikan pungutan liar,” kata Presiden.

Dalam kesempatan itu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berharap operasi tangkap tangan yang dilakukan di kementeriannya dapat memberikan efek jera bagi para pelanggar.

“Ini momen introspeksi agar lembaga ini benar-benar bisa menjalankan tugasnya sebagai aparatur sipil negara yang berintegritas,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi.

Budi mengatakan, satu bulan setelah menjabat Menteri Perhubungan, ia langsung mendapat beberapa laporan adanya pungutan liar di lembaganya. Dia kemudian meneruskan laporan tersebut ke polisi.

Kapolri Tito Karnavian mengatakan pungutan liar yang terjadi di Kementerian Perhubungan sudah berlangsung lama. Praktik pungutan liar, lanjut Tito, terjadi dari memperbolehkan panjang kapal hingga membuat buku pelaut.

“Ada panjang kapal, berat kapal, ada pergantian bendera kapal, semua itu harus dibayar masing-masing ditambah pembuatan buku pelaut,” kata Tito. ““Ada juga nelayan yang ingin menggunakan perahunya dan harus mengeluarkan biaya tambahan.”

Praktik pungutan liar ini, lanjut Tito, terjadi di dua lantai Kementerian Perhubungan. “Lantai 6 dan 12 kami periksa karena terkait pungli,” kata Tito Karnavian.

Operasi penangkapannya sendiri dipimpin langsung Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Mochamad Iriawan sejak pukul 16.20 WIB. Sejauh ini, setidaknya enam orang telah ditahan.

Sedangkan barang bukti yang berhasil diperoleh berupa uang pecahan beragam, mulai dari Rp5 ribu hingga Rp100 ribu. Total uang pertanggungan sebesar Uang tunai Rp 61 juta dan rekening tabungan yang diduga hasil pemerasan Rp 1 miliar.

“OTT dilakukan di lantai 5, 6, dan 12. Ada loket angkutan laut. “Dari situ kami kembangkan aliran dana ke lantai 12 di kantor kepala staf dan subdirektorat dirjen perhubungan laut,” kata Awi.

Selain mengamankan uang tunai dan rekening tabungan, polisi juga mengamankan dokumen dan ponsel. Selain itu, ruangan juga disegel.—dengan laporan ANTARA/Rappler.com

Pengeluaran Sidney