Salah satu dari tiga korban tewas Mapala UII diundang ke istana oleh Presiden Jokowi
keren989
- 0
Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.
Saya menyampaikan salam dari Presiden, kami turut berbela sungkawa.
YOGYAKARTA, Indonesia – Korban meninggal dunia saat mengikuti pelatihan dasar pecinta alam Universitas Islam Indonesia (UII), Syait Asyam (19 tahun), rupanya diundang ke Istana Negara oleh Presiden Joko “Jokowi” Widodo.
Hal itu terungkap saat Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir mengunjungi keluarga Asyam di Dusun Jetis, Desa Caturharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman pada Kamis, 26 Januari 2017.
Menteri Nasir yang datang menyampaikan belasungkawa disambut haru oleh keluarga Syait Asyam. Sri Handayani, ibu Asyam, menunjukkan beberapa sertifikat prestasi yang diperoleh putranya sebelum meninggal.
Salah satunya adalah sertifikat yang diterimanya saat bertemu Presiden Jokowi. Ia juga menunjukkan piagam yang diraih Asyam saat menjuarai Indonesia Science Project Olympiad 2014 di Jakarta, serta Piagam International Environmental Sustainability Project Olympiad 2014 di Belanda.
Piagam inilah yang kemudian dibawa Asyam ke Istana Negara dalam rangka HUT RI ke-70 tahun 2015. Di sana ia disambut Presiden Jokowi.
“Saya sampaikan salam dari Presiden, kami mohon maaf. “Rektor sudah mengundurkan diri, tapi proses hukum harus tetap berjalan,” kata Menteri Nasir kepada Sri Handayani.
Diberitakan sebelumnya, Asyam merupakan satu dari tiga mahasiswa pecinta alam yang meninggal saat mengikuti pendidikan dasar cinta alam yang digelar pekan lalu oleh Universitas Islam Indonesia Mapala di Karanganyar, Jawa Tengah.
(Membaca: Kisah tragis meninggalnya tiga pecinta alam)
Asyam dilarikan ke RS Betjesda sekitar pukul 04.56 WIB saat itu pada Sabtu pagi, 21 Januari 2017. Kondisinya saat itu sangat mengenaskan. Pihak rumah sakit bahkan meminta Asyam untuk maju dan memberi tahu keluarganya mengenai kondisi Asyam.
“Sejak pertama kali datang ke sini, Asyam sulit berbicara. “Suaranya semakin pelan,” kata Nur Sukawati, Kepala Humas RS Betjesda, pada 25 Januari lalu.
Setelah dilakukan pemindaian, diketahui Asyam mengalami patah kaki trauma multipel hampir di seluruh tubuh. Ini termasuk kaki, tangan, bokong, dan punggung. Pada Sabtu sore, Asyam mengalami gagal napas. Beliau meninggal dunia pada pukul 14.45 WIB.
Selain Asyam, dua pelajar lainnya yang meninggal dunia adalah Ilham Listia Adi (20 tahun) dan Muhammad Fadli (20 tahun). Ilham meninggal di RS Betjesda pada Senin malam, sedangkan Fadli meninggal di Puskesmas Tawangmangu pada Jumat.
Menteri Nasir meyakinkan proses hukum atas masalah ini akan terus berlanjut. Ia juga meminta pihak kampus menghentikan segala tindakan kekerasan terhadap mahasiswa. “Kekerasan ini harus dihentikan sampai ke akar-akarnya,” kata Menteri Nasir. —Rappler.com