• April 7, 2026
Dipimpin Setya Novanto, Partai Golkar Mau Dibawa Ke Mana?

Dipimpin Setya Novanto, Partai Golkar Mau Dibawa Ke Mana?

JAKARTA, Indonesia – Setya “Setnov” Novanto resmi terpilih menjadi Ketua Umum Golkar setelah melalui proses pemungutan suara pada Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) pada Selasa pagi, 17 Mei. Kepengurusan partai berlambang beringin itu pun dibentuk.

Selain menjadikan Aburizal “Ical” Bakrie sebagai Ketua Dewan Pembina, Setnov juga menempatkan Nurdin Halid sebagai ketua harian dan Idrus Marham kembali menduduki posisi Sekjen.

Dalam penghitungan suara yang baru selesai Selasa pagi, Setnov memperoleh 277 suara, sedangkan Ade “Akom” Komar memperoleh 173 suara. Pada putaran kedua, Akom memilih untuk mundur dan dengan mudah mengantarkan Setnov ke kursi.

Sosok Setnov disebut-sebut kontroversial karena namanya sering disebut dalam berbagai kasus, namun terkesan kebal hukum. Lalu bagaimana jadinya Golkar di tangan Setnov?

Pengamat politik Charta Politika Yunarto Wijaya mengakui upaya rekonsiliasi yang dilakukan Setnov cukup baik. Pemilihan ketua umum dengan sistem pemungutan suara tertutup terbukti tidak menimbulkan perpecahan dan melahirkan partai baru.

“Sekarang tugas utama Golkar adalah bagaimana menekan sosok kontroversial yang kini menjadi simbol partai tersebut. Makanya Golkar harus mencari sosok lain yang bisa dijadikan simbol, kata Yunarto saat dihubungi Rappler melalui telepon, Selasa, 17 Mei.

Pria yang disapa Toto ini menilai Golkar akan kesulitan bertarung di Pilkada atau Pilpres jika Setnov tetap menjadi tokoh partai. Apalagi setelah muncul kasus “Papa Minta Saham” yang masih diingat masyarakat hingga saat ini. (Baca: 5 Hal yang Perlu Diketahui tentang Setya Novanto)

“Sampai saat ini Setya Novanto belum bisa menjadi calon presiden dan wakil presiden yang mampu menambah perolehan suara Golkar. Jadi Golkar harus segera menemukan sosok itu, kata Yunarto yang menyaksikan langsung Munaslub dari Nusa Dua, Bali.

Angka tersebut bisa diambil dari Ketua Badan Anggaran, Komisi XI, atau Ketua Kelompok yang nantinya akan dipilih oleh Setnov. Angka tersebut harus segera dirilis, sebab Setnov hanya punya waktu memimpin partai selama 3 tahun ke depan.

Yunarto pun berharap, ketika Setnov memimpin Golkar, mantan Ketua DPR itu tidak mengulangi kesalahan serupa di masa lalu.

“Karena ketika kamu adalah ‘matahari’, maka semua mata akan tertuju padamu. Sedangkan Setya Novanto belum pernah menduduki jabatan ketua umum, jadi mudah-mudahan bisa belajar, kata Yunarto.

Sebab, jika Setnov kembali terjerumus ke lubang yang sama, bukan hanya namanya yang akan tercoreng, tapi juga nama partainya.

Koalisi Merah Putih sudah lama dibubarkan

Hal lain yang menjadi perhatian Yunarto adalah kemenangan mutlak Joko Widodo agar Golkar bisa semakin merapat ke kubu pemerintah. Dengan resmi bergabungnya Golkar, pemerintah memperoleh 75 persen suara di DPR.

Apalagi Golkar di DPR menguasai beberapa bidang strategis mulai dari Badan Anggaran, Komisi III, dan Komisi XI. Komisi III membidangi bidang hukum, hak asasi manusia, dan keamanan, sedangkan Komisi XI membidangi bidang keuangan dan perbankan.

“Menurut saya, inilah puncak kepemimpinan Jokowi. “Dia awalnya diremehkan karena dianggap minoritas, tapi sekarang dia hampir menguasai suara mayoritas di DPR,” kata Yunarto.

Sebagai bentuk legitimasi masuknya Golkar ke kubu pemerintah, kata dia, kecil kemungkinannya Jokowi akan melakukan reshuffle kabinet dalam waktu dekat.

“Reshuffle ini menjadi momentum para menteri menilai profesionalisme dan legitimasi koalisi baru,” ujarnya.

Bagaimana nasib Koalisi Merah Putih (KMP) yang terbentuk pada tahun 2014? Kini di KMP hanya tersisa Gerindra dan PKS.

Yunarto menilai koalisi sudah lama bubar. Menurut dia, secara historis tidak pernah ada koalisi yang berlatar belakang oposisi.

“Koalisi pragmatis hanya didasarkan pada kekuasaan. “Dengan masuknya Golkar ke kubu pemerintah berarti Jokowi telah menguasai kekuasaan secara kuantitatif dan kualitatif,” ujarnya.

Hormati hasil Munas

Wakil Ketua Fraksi Gerindra DPR Sufmi Dasco Ahmad mengatakan pihaknya menghormati keputusan Golkar keluar dari KMP. Sikap serupa, kata Dasco, juga ditunjukkan Gerindra saat PAN memilih keluar dari KMP.

Meski satu per satu ditinggalkan oleh parpol sekutunya, Dasco mengatakan Gerindra tidak akan mengubah sikap dengan bergabung ke kubu pemerintah.

“Kami merasa harus ada pihak yang mendukung program pemerintah jika baik untuk rakyat dan mengkritik jika tidak sesuai. “Ini fungsi Partai Gerindra,” kata Dasco yang dihubungi Rappler melalui telepon, Selasa 17 Mei.

Awalnya, kata Dasco, KMP dibentuk untuk menampung berbagai pihak yang ingin membantu bangsa dan negara namun berada di luar partai. Namun jika partai politik menilai cara tersebut tidak efektif, maka Gerindra tidak mempermasalahkannya.

Dasco mengatakan, Gerindra akan terus memperjuangkan agendanya di DPR seperti pengesahan RAPBN 2016, penolakan revisi UU Komisi Pemberantasan Korupsi, dan amnesti pajak.

“Kami satu-satunya partai yang berjuang sendirian di DPR untuk menolak revisi UU KPK hingga akhirnya diakomodasi oleh Presiden Jokowi. Begitu pula dengan RUU pengampunan pajak. “Kami minta waktu lagi agar bisa melakukan kajian karena kami tahu apakah rekeningnya bisa dimaksimalkan atau tidak,” kata Dasco yang mengatakan, saat ini anggota Gerindra yang duduk di DPR berjumlah 73 orang.

Apakah Setya Novanto mampu membawa Golkar ke arah yang lebih baik? – Rappler.com

BACA JUGA:

Pengeluaran HK