• April 28, 2026
Raja Thailand Bhumibol Adulyadej meninggal pada usia 88 tahun

Raja Thailand Bhumibol Adulyadej meninggal pada usia 88 tahun

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Karena kesehatannya yang memburuk, Bhumibol absen dari perhatian publik selama setahun terakhir

JAKARTA, Indonesia (UPDATED) – Raja Thailand Bhumibol Adulyadej meninggal dunia pada Kamis, 13 Oktober. Raja yang diketahui paling lama memerintah di Negeri Gajah Putih itu meninggal dunia pada usia 88 tahun.

Meskipun tim dokter telah merawat mereka dengan kemampuan terbaiknya, kondisi mereka akan terus memburuk, kata Biro Rumah Tangga Kerajaan dalam sebuah pernyataan.

Mereka menjelaskan, Bhumibol meninggal dengan tenang di RS Siriraj pada pukul 15.52 waktu setempat. Pengumuman kematian Raja juga disiarkan di televisi sebelum pukul 19.00. Mereka menyiarkan pengumuman khusus tersebut dengan memperlihatkan foto hitam putih Raja.

Kemudian seorang pria berkemeja dan berjaket hitam membacakan pernyataan serupa.

Kondisi kesehatan Bhumibol memburuk selama setahun terakhir. Dia absen dari pusat perhatian publik.

Terakhir, pada Minggu pekan lalu, pihak istana memastikan dokter yang merawat Bhumibol telah mengoperasi mesin pernapasan. Mereka juga menyebut kondisi kesehatan Raja bergelar Rama IX itu sedang tidak stabil.

Melihat ke belakang dalam sejarah, istana biasanya mengontrol informasi tentang kondisi kesehatan Bhumibol dan sulit untuk memastikan situasi secara keseluruhan. Namun, dalam beberapa bulan terakhir pihak istana mulai memberikan kabar berkala mengenai kondisi kesehatan Bhumibol, termasuk gagal ginjal yang dideritanya.

Lebih dari dua tahun lalu, Bhumibol juga dirawat karena infeksi bakteri, kesulitan bernapas, masalah jantung, dan hidrosefalus.

Berdasarkan pernyataan Biro Rumah Tangga Kerajaan pada Minggu malam, pihak rumah sakit akhirnya memutuskan untuk mengoperasikan ventilator karena tekanan darah Bhumibol yang terus turun. Situasinya semakin memburuk setelah ia menjalani prosedur dialisis dan mengganti selang untuk membantu mengeluarkan cairan dari tulang belakangnya.

Pemerintahan Bhumibol diketahui berlangsung selama 70 tahun. Kondisi kesehatannya yang memburuk tentu akan menjadi perhatian masyarakat Thailand yang sebagian besar pernah merasakan kepemimpinannya.

Namun, di bawah rezim Bhumibol, pemerintah Thailand secara ketat menerapkan undang-undang mengenai pencemaran nama baik terhadap kerajaan. Undang-undang tersebut, yang disebut lese majeste, sering digunakan untuk memenjarakan siapa pun di Thailand yang dianggap mengkritik monarki.

Para analis mengatakan kecemasan atas berakhirnya rezim Bhumibol telah memperburuk konflik politik di Thailand selama satu dekade terakhir. Para elite yang kini berkuasa justru saling berebut pengaruh.

Putra mahkota menjadi penerusnya

Kematian Bhumibol membuat masa depan Thailand tidak menentu. Kebanyakan masyarakat Thailand hanya mengenal Bhumibol sebagai Raja yang ada. Apalagi, Bhumibol diketahui berperan sebagai pemersatu dua kubu yang terpecah belah di Negeri Gajah Putih.

Kematian Bhumibol juga menjadi ujian terberat bagi kelompok militer yang merebut kekuasaan dalam kudeta tahun 2014. Saat itu, mereka berjanji memulihkan stabilitas di Thailand setelah 10 tahun kekacauan politik.

Pengumuman hari ini juga menunjuk Putra Mahkota Maha Vajiralongkorn (64 tahun) sebagai penerus Bhumibol. Padahal publik pesimis dengan kemampuannya. – dengan pelaporan AFP/Rappler.com

Hongkong Pools