• April 17, 2026

Sebuah panggung bagi musisi lokal baru untuk menunjukkan kebolehannya

JAKARTA, Indonesia – Studiorama dan Sounds from The Corner (SFTC) menggelar acara bertajuk “Archipelago Festival” pada Sabtu, 14 Oktober. Acara ini merupakan konferensi dan festival musik Indonesia yang bertujuan untuk memberikan wadah bagi musisi-musisi baru lokal untuk dikenal masyarakat.

Berbagai kegiatan berlangsung selama dua hari festival, mulai dari panel diskusi dengan berbagai tema hingga penampilan musik pada malam harinya.

Pada hari pertama, acara dimulai pukul 13.00 WIB dengan panel diskusi dibagi menjadi dua lokasi. Di Jasmine Hall berlangsung diskusi mengenai Arsip Musik: Masa Lalu, Sekarang dan Masa Depan yang berbicara tentang pentingnya mendokumentasikan pertunjukan musik di era digital.

Sementara itu di ruang utama berdiskusi soal-soal Tempat musik: Lebih dari sekedar mengadakan pertunjukan. Panel yang menampilkan Syafwin Bajumi dari Rossi Musik, Abie Borneo dari Borneo Beerhouse, dan Prajna Moerdaya dari JIExpo & Shoemaker Studios, menyoroti pentingnya lokasi bermusik demi berkembangnya belantika musik mandiri tanah air.

Lokasi “Ini tempat bagi band untuk berkembang,” kata Abie.

Selain ketiga pemiliknya lokasi Mereka sepakat bahwa kurasi musisi penting sebelum memutuskan apakah band baru atau lama bisa tampil di tempat yang mereka sediakan.

Kemudian panel selanjutnya diberi judul Label rekaman: Para Pembuat Selera Modern menghadirkan Daffa Andika dari Kolibri Rekords, Kimo Rizky dari Double Deer Records, dan Widi Puradiredja dari Organic Records untuk berbagi pengalamannya menjalankan label rekaman yang berdiri sendiri dan memiliki selera musik yang berbeda dari masyarakat umum.

Menurut Widi, kebutuhan musisi perlu diketahui dan disesuaikan dengan apa yang bisa diberikan oleh label, sebelum seorang musisi memutuskan untuk menandatangani kontrak dengan label tertentu.

“Harus memastikan artis mendapat untung dalam bisnis, bukan hanya dalam eksistensi. “Harus dipikirkan matang-matang apa yang dimiliki dan tidak dimiliki artis sebelum kebutuhannya bisa terjawab,” ujarnya.

Meski tidak bisa dipungkiri bahwa era digital telah membuat segalanya menjadi lebih mudah, termasuk memproduksi musik sendiri, namun Daffa meyakini ada hal-hal yang tidak bisa dicapai sendirian dan memerlukan dukungan dari label rekaman.

“Peran label menjadi sistem pendukung pemusik. “Anda perlu mengetahui apa saja yang perlu diperbaiki, diganti, dan didukung,” kata Kimo.

Selain itu ada panel diskusi Beyond Jakarta: Harta Karun Indonesia yang Sebenarnya yang mengundang pembicara berupa orang pemimpin opini belantika musik lokal di luar Jakarta. Ketiga narasumber yang hadir mewakili Makassar, Palembang dan Yogyakarta memaparkan perkembangan musik lokal di daerah masing-masing dan sulitnya menjangkau khalayak hingga ke Pulau Jawa.

Keberadaan boneka Indonesia

Panel khusus hari pertama Festival Nusantara bertajuk boneka indonesia dan menjadi tuan rumah bagi legenda musik lokal seperti Guruh Soekarno Putra dan Yockie Surya Prayogo. Selain itu, pengubah permainan Bintang pop kekinian seperti Ade Paloh dan Mondo Gascaro juga menjadi pembicara dalam sesi diskusi yang sudah lama ditunggu-tunggu.

Pembahasan dalam panel ini bermula dari anggapan bahwa musik pop Indonesia sebenarnya tidak murni dan dipengaruhi budaya Barat.

Yockie meyakini musik pop sebenarnya adalah musik yang diapresiasi oleh sebagian besar masyarakat dan lahir ketika terjadi perubahan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern.

“Musik pop kebanyakan mewakili perasaan anak muda saat itu dengan kebebasan berekspresi,” ujarnya.

Menurutnya, musik pop Indonesia harus cukup autentik, mampu mewakili perasaan masyarakat, dan bernuansa Indonesia yang menggambarkan perasaan sebagai warga setempat.

Guruh sependapat dengan Yockie, mengatakan bahwa lagu pop harus bisa menjadi representasi bangsa dan merasakan keunikan Indonesia. Ciri khas bangsa dapat ditonjolkan dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana representasi budaya,

Maka bagi musisi Mondo Gascaro, agar musik yang dihasilkan bisa autentik, seorang musisi harus benar-benar memahami sejarah musik dan budaya bangsa.

Setelah diskusi panel selesai, hari pertama festival Nusantara ditutup dengan penampilan musik dari grup lokal seperti Feast, Anomalyst, hingga musisi internasional seperti duo Campfire dan Afrikan Boy asal London, Inggris.

Wanita dan bahayanya masih nyata

Sementara itu, salah satu panel menarik di hari kedua Festival Nusantara diberi judul Perempuan: Kesetaraan gender di lingkungan lokal dan dihadiri oleh Kartika Jahja selaku penyanyi dan aktivis perempuan, Yacko as rapper istri, dan Hera Mary yang merupakan sutradara film dokumenter tersebut Ini juga adegan kami.

Selama kurang lebih satu jam, panel membahas tentang seksisme yang masih ada dan sikap yang cenderung meremehkan musisi perempuan. “Perempuan digambarkan sebagai objek, ya kayak milik umum, penonton merasa sah-sah saja menginginkannya Apa yang sedang kamu lakukan? kami,” kata Tika usai menceritakan pengalaman pelecehan seksual yang sering ia alami di dunia musik.

Saat ditanya optimisme terhadap perubahan, Yacko menjawab kita harus terus optimis. Proses yang berjalan lambat dan tidak langsung memberikan hasil bagi Yacko ini terjadi karena musisi feminis berupaya mendobrak budaya yang tertanam di masyarakat.

Selain itu, panel Fans: Benci Mereka, Cintai Mereka, Apakah Mereka Menghasilkan Uang? membahas tentang pengertian kipas angin bagi musisi dan cara memanfaatkan kipas angin sebagai sumber penghasilan atau aliran pendapatan untuk musisi.

Panel diskusi terakhir mengundang Monita Moerdani, Head of Brand Tokopedia dan Mo Morris, Managing Director VICE Indonesia. Panel membahas bagaimana sebuah orkestra tampil merek kepada khalayak sasaran dan sudut pandangnya merek siapa yang mau ganti ban.

Harus ada bisnis atau tidak akan ada musikjelas Mo Morris.

Penampilan berbagai musisi seperti Ramayan, Gaung, Medium Rare, Onar dan Chole Martini menutup rangkaian acara yang berlangsung sejak 14 Oktober lalu.

– Rappler.com