• May 3, 2026

Rasa kebersamaan berbagai etnis di Pekojan

Ini adalah ringkasan yang dibuat oleh AI, yang mungkin memiliki kesalahan. Untuk konteksnya, selalu rujuk artikel selengkapnya.

Setiap tanggal 27 bulan Ramadhan, warga Pekojan mengadakan acara buka puasa bersama. Acara ini mempertemukan berbagai etnis, sekaligus menjadi ajang silaturahmi bersama

JAKARTA, Indonesia – Saat memasuki Jalan Pengukiran, Pekojan, Jakarta Barat, suara warga yang membaca Selawat Nabi mulai terdengar. Suara-suara ini sedikit menyatu dengan suara kendaraan yang berusaha mencari tempat parkir. Pun dengan suara warga lain yang sibuk menyiapkan makanan untuk berbuka puasa.

Setiap tanggal 27 Ramadhan ada tradisi khusus berbuka puasa bersama antar keluarga di Pekojan. Dulu, acara buka puasa kelompok ini dihadiri oleh keluarga etnis Arab yang tinggal di Pekojan. Namun seiring berjalannya waktu, Pekojan menjadi tempat tinggal semua suku.

Menurut warga setempat, banyak etnis Arab yang dulunya tinggal di Pejokan kini pindah ke tempat lain. “Dulu di sini banyak etnis Arab, tapi sekarang sudah bercampur,” kata salah satu warga bernama Solehah.

“Banyak etnis Arab yang pindah. “Ada yang ke Yaman atau Arab Saudi untuk belajar, atau tinggal di Indonesia, hanya di daerah yang berbeda.”

Kesempatan untuk menjalin ikatan bersama ini juga merupakan kesempatan untuk persahabatan. Anggota keluarga yang tinggal di luar Pekojan menyempatkan diri untuk datang ke acara ini. Selain saudara sedarah, hadir juga sanak saudara, berbagai perwakilan kediaman Islam dan berbagai komunitas yang datang.

Banyak di antara mereka yang membawa kendaraan pribadi. Akibatnya, petugas parkir kesulitan mengendalikan kendaraan yang melaju. Saat ditanya berapa jumlah warga yang datang dari luar pemukiman, mereka mengaku sulit menghitungnya karena terus berdatangan.

Saat ini Pekojan dihuni oleh banyak suku. Ada kelompok etnis Tionghoa, pribumi, dan Arab. Mereka semua hidup berdampingan dan rukun.

“Semua orang yang tinggal di sini akur. Terkadang saya bermain di rumah tetangga saya yang berbeda etnis. Mungkin di dalam rumah tradisinya berbeda-beda, setiap keluarga mempunyai tradisinya masing-masing. “Tapi kami tetap bermain bersama dan tidak pernah ada masalah,” kata Eko, warga sekitar yang membantu warga lain mencari tempat parkir.

Perkawinan antaretnis juga banyak dilakukan, seperti perkawinan antara suku Arab dan Tionghoa.

“Ada saudara saya yang menikah dengan etnis Tionghoa. Saat ini ia merupakan seorang mualaf (orang yang baru masuk Islam). “Di sini pernikahan antaretnis seolah menjadi hal yang lumrah,” kata Solehah.

Penjelasan Solehah terlihat jelas dalam acara buka puasa yang digelar di tengah jalan ini. Mereka berbincang mesra satu sama lain di atas karpet sebagai landasan jalan aspal.

Semua yang datang ke acara ini diterima dengan baik. Saat azan Maghrib dikumandangkan, mereka menyantap takjil tersebut dengan penuh ketaqwaan.

Makanan yang tersedia disiapkan oleh beberapa keluarga yang tinggal di Pekojan. Salah satunya adalah keluarga Syifa Abdul Kadir Al-Jufri atau biasa disapa Umi Syifa. Di rumah Umi Syifa, berbagai makanan sudah disiapkan sejak pagi. Mulai dari nasi kari, kari kambing, ayam goreng, hingga berbagai jenis gorengan ada di sini.

Wanita membuka bersama di dalam ruangan

Di tengah proses pemahatan, semua yang berpuasa bersama adalah laki-laki. Tidak ada perempuan yang terlihat di tengah jalan. Sebab, perempuan punya tempat tersendiri saat acara berlangsung.

Biasanya perempuan ditempatkan di Masjid An-Nawier yang lokasinya dekat dengan tempat diadakannya buka puasa. Nantinya perempuan juga disuguhi makanan dan takjil yang sama. Selain di Masjid An-Nawier, perempuan juga biasanya hadir di rumah keluarga yang juga menggelar buka puasa bersama.

Kebersamaan di tempat ini terasa kuat. Senyuman di wajah warga Pekojan masih terlihat. Sapaan khas mereka yang menggunakan bahasa Arab juga sering terdengar. Hingga acara ini usai, mereka terus berbincang akrab dengan warga lainnya. — Rappler.com

Pengeluaran SDY