• April 20, 2026

Solusi dua negara merupakan solusi moderat bagi Israel-Palestina

“Kita ingin menatap ke depan. Bagaimana? Ya harus dengan mengakui eksistensi keduanya (Israel dan Palestina),” kata Lukman.

JAKARTA, Indonesia – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan di era globalisasi saat ini, diperlukan pendekatan yang beradab dan non fisik untuk menyelesaikan berbagai konflik, termasuk konflik antara Israel dan Palestina. Menurut Lukman, ‘solusi dua negara’ merupakan jalan yang paling moderat dan win-win bagi kedua belah pihak.

‘Solusi dua negara’ merupakan salah satu pilihan penyelesaian konflik Israel-Palestina. Hal ini tertuang dalam resolusi PBB 194, dimana Israel dan Palestina masing-masing menjadi negara dan hidup berdampingan dengan batas negara yang diakui. Batas negara yang diklaim Palestina sebelum perang tahun 1967 adalah Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Namun hal ini ditentang oleh Israel. Karena mereka juga menginginkan wilayah di sepanjang perbatasan dari Tepi Barat hingga Timur, yang juga berarti mencaplok wilayah Yerusalem. Jadi, ini telah menjadi perdebatan selama beberapa dekade. Faktanya, kedua pemimpin belum pernah duduk di meja perundingan sejak tahun 2014.

“Namun, menurut pendapat saya dan pemerintah Indonesia, ini adalah satu-satunya solusi yang moderat. Sayangnya, tidak semua negara memiliki pemahaman yang sama, kata Lukman, Jumat, 15 Desember, dalam perbincangan di Jakarta bertajuk ‘Indonesia dengan Palestina’.

Diakui Lukman, masih ada negara yang menganggap Israel tidak berhak menjadi sebuah negara. Namun menurutnya perdebatan tersebut sudah tidak diperlukan lagi. Komunitas internasional tidak boleh tersandera oleh perdebatan kontroversial yang telah berlangsung selama ribuan tahun.

“Kami ingin melihat ke depan. Bagaimana caranya? Ya, itu harus dilakukan dengan mengakui keberadaan keduanya (negara Israel dan Palestina), ujarnya.

Lukman juga membantah Indonesia dan negara-negara Timur Tengah lamban dalam mengakui Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina. Padahal, kata dia, langkah Presiden Donald Trump yang mengakui Yerusalem secara keseluruhan sebagai ibu kota Israel merupakan hal yang tidak terduga.

Lebih lanjut, dalam resolusi PBB, tambahnya, Israel harus meninggalkan kawasan Yerusalem Timur. Wilayah tersebut kemudian tidak dapat diklaim oleh negara mana pun.

“Jadi, apa yang dilakukan Indonesia dan negara-negara Timur Tengah lainnya di KTT OKI belum terlambat. Itu sebabnya Indonesia bereaksi keras terhadap kejadian ini. “Kami justru mempertanyakan mengapa AS yang mempunyai fungsi mendamaikan Israel-Palestina tiba-tiba mengakui Yerusalem secara sepihak,” jelasnya.

Pengumuman Trump pada 7 Desember itu melukai perasaan warga Palestina dan menimbulkan kekerasan di kawasan Timur Tengah.

Oleh karena itu, Indonesia meminta Amerika Serikat untuk membatalkan keputusan tersebut, ujarnya.

Boikot bukanlah solusi

Jadi apa yang harus dilakukan selanjutnya? Pasalnya Israel sama sekali tidak peduli dengan hasil KTT darurat OKI yang digelar Rabu 13 Desember lalu.

Dua hari lalu, KTT OKI memutuskan beberapa hal. Dua di antaranya yakni negara anggota sepakat mengklaim Yerusalem Timur sebagai ibu kota Palestina. Kedua, pengakuan Palestina sebagai negara berdaulat penuh.

Lukman mengatakan, Indonesia kini terus bergerilya dengan upaya diplomasinya. Menurutnya, diplomasi tetap harus diutamakan sebagai manusia yang beradab. Jangan pernah, katanya, terpikir untuk terlibat dalam pertempuran fisik, apalagi berperang.

“Ini adalah metode zaman kuno. Enam poin yang disampaikan Presiden merupakan langkah diplomasi, ujarnya.

Untungnya, negara-negara anggota OKI dengan suara bulat menyatakan bahwa pengumuman AS tidak ada artinya. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi telah melakukan pendekatan kepada kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, agar Benua Biru tidak mengikuti jejak Paman Sam. Pasalnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terus mendorong lebih banyak negara untuk mengikuti kebijakan AS.

Namun, pendekatan Netanyahu tidak berakhir dengan baik. Meski tidak seluruh negara anggota Uni Eropa mengakui Palestina sebagai negara berdaulat, namun mereka sepakat untuk tetap mengedepankan solusi dua negara sebagai jalan menuju perdamaian antara Israel dan Palestina.

Lukman juga tidak setuju dengan seruan boikot produk Amerika. Menurutnya, Indonesia secara resmi belum berada pada tahap itu.

“Dari sudut pandang kemanusiaan, boikot justru menimbulkan kerugian bagi sesama umat manusia. Di era globalisasi saat ini, pendekatan yang ingin dikedepankan adalah kesepakatan win-win solution. Mengapa sesama manusia harus bertengkar hanya karena politik atau agama? “Semua ini harus ditenggelamkan demi kepentingan kemanusiaan,” ujarnya. – Rappler.com

Keluaran SGP Hari Ini